METRO PADANG

Jangan Buang Sampah di Bendungan Danau Cimpago!

0
×

Jangan Buang Sampah di Bendungan Danau Cimpago!

Sebarkan artikel ini

PURUS, METRO – Meski sudah terpasang papan pemberitahuan “Dilarang Membuang Sampah”, namun masih ada juga tangan-tangan jahil yang membuang sampah ke dalam bendungan Danau Cimpago.
Bendungan Danau Cimpago merupakan salah satu spot wisata di Padang. Wisata air ini diresmikan 2012 oleh Pemko Padang dan sempat dijadikan arena bermain seperti bebek air dan kapal.
Pantauan POSMETRO, Rabu (16/5) di sekeliling bendungan danau, pengunjung akan menemui banyak imbauan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) agar tidak membuang sampah ke dalam Danau Cimpago. Dalam imbauan itu juga tertulis hukuman jika membuang sampah ke danau akan dikenakan pidana 3 bulan penjara atau denda 5 juta.
Namun, adanya imbauan itu tidak menjamin bendungan Danau Cimpago bersih dari sampah. Sampah-sampah yang berserakkan di pinggir danau masih bisa ditemui. Petugas kebersihan setiap hari membersihkan danau dari jam 08.00 WIB hingga 11.00 WIB.
Kemudian sampah yang terkumpul akan dibawa menggunakan mobil sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Aia Dingin. Suyatno atau biasa dipanggil pak Teguh (47), yang setiap hari membersihkan sampah di bendungan Danau Cimpago juga mengungkapkan, bahwa sampah itu dibawa air dari laut dan dari sungai di hulu.
“Sampah akan banyak menumpuk ketika hari musim hujan ditambah air laut sedang pasang dan berombak, bertemu air sungai dan air laut itu banyak sampah yang menumpuk di bendungan danau ini,” kata Pak Teguh.
Menggunakan sampan dayung serta tangguak atau jaring berbingkai, Pak Teguh dengan rekannya, Pak Ali Alizar (51) akan mengelilingi danau untuk mengambil sampah-sampah yang mencemari bendungan danau.
Pak Teguh juga menjelaskan dari Dinas PUPR sudah membuat penghambat sampah sebagai penanggulangan sampah yang mencemari bendungan terbuat dari besi. Dengan adanya penghambat ini sampah yang dibawa arus air lebih sedikit yang mencemari bendungan danau.
“Dulu sebelum adanya pembatas, kami bisa tiga kali berkeliling mengumpulkan sampah. Sekarang, cukup satu kali. Tergantung keadaan cuaca serta pasang surut air,” tambah Pak Teguh.
Keadaan pasang surut menjadi penentu untuk mengumpulkan sampah. Keadaan air yang surut membuat Pak Teguh dan Pak Ali tak bisa bekerja, karena sampah tak bisa menyusuri danau.(mg)