JAKARTA, METRO–Mustasyar PBNU, Asyhari Abdulah Tamrin menilai Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan kepemimpinan baru jelang Muktamar ke-35. Keberadaan sosok baru ini dianggap menjadi solusi dalam menata ulang kepemimpinan NU.
“NU berada pada momentum krusial untuk melakukan koreksi dan penataan arah kepemimpinan. Dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari ketegangan struktural, melemahnya konsolidasi, hingga polemik yang berdampak pada persepsi publik, menuntut solusi kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, meneduhkan dan berjangka panjang,” kata Asyhari, Selasa (3/2).
Asyhari menilai, beberapa nama pantas menduduki jabatan ketua umum dan rais aam. Seperti kiai Said Aqil Siroj dan Abdussalam Shohib, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang Jawa Timur.
“Diskursus tersebut tidak dimaksudkan sebagai kampanye personal, melainkan sebagai ikhtiar intelektual-kultural untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menyelesaikan persoalan mendasar Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.
Asyhari menilai bahwa konflik internal PBNU sudah terlalu membesar. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan baru dalam penyelesaian persoalan tersebut.
“KH. Said Aqil Siroj dengan kedalaman ilmu dan pengalaman panjang dalam memimpin NU dipandang mampu menjadi poros rekonsiliasi, rujukan keagamaan, sekaligus peneduh bagi beragam perbedaan yang berkembang di internal jam’iyyah,” ucapnya.
“Sementara itu, KH. Abdussalam Shohib yang akrab dengan panggilan Gus Salam merepresentasikan figur Ketua Umum PBNU yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan memiliki kedekatan kultural dengan basis warga nahdliyyin. Gus Salam dipandang memiliki kemampuan menggerakkan pembenahan organisasi secara kolektif,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Asyhari menyampaikan, penataan PBNU harus dilakukan secara profesional. Kepemimpinan harus berorientasi kepada kebaikan umat.
“Urgensi pasangan ini pada Muktamar NU ke-35 terletak pada kemampuannya menjawab tiga agenda strategis NU sekaligus,” jelasnya.
Rekonsiliasi internal PBNU, dengan menutup ruang polarisasi dan mengakhiri konflik yang menguras energi organisasi. Kedua, pembenahan organisasi, melalui penguatan sistem, disiplin struktur, dan penegasan kembali fungsi PBNU sebagai pelayan jam’iyyah dan jama’ah.
“Ketiga, pemulihan nama baik NU, agar kembali tampil sebagai organisasi ulama yang bermartabat, teduh dan menjadi teladan dalam kehidupan kebangsaan,” tandas Asyhari. (jpg)






