BERITA UTAMA

Jelang Muktamar ke-35 NU, PBNU Diminta Mulai Pikirkan Kepemimpinan Baru

15
×

Jelang Muktamar ke-35 NU, PBNU Diminta Mulai Pikirkan Kepemimpinan Baru

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI— PBNU.

JAKARTA, METRO–Mustasyar PBNU, Asyhari Abdulah Tamrin menilai Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan kepemimpinan baru jelang Muktamar ke-35. Keberadaan sosok baru ini dianggap menjadi solusi dalam menata ulang kepemimpinan NU.

“NU berada pada momentum krusial untuk me­lakukan koreksi dan penataan arah kepemimpinan. Dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari ketega­ngan struktural, melemahnya konsolidasi, hingga polemik yang berdampak pada persepsi publik, me­nuntut solusi kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, meneduhkan dan berjangka panjang,” kata Asyhari, Selasa (3/2).

Asyhari menilai, beberapa nama pantas menduduki jabatan ketua umum dan rais aam. Se­perti kiai Said Aqil Siroj dan Abdussalam Shohib, Pe­ngasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Dena­nyar Jombang Jawa Timur.

Baca Juga  Debt Collector di Lima Puluh Kota Kembali Berulah, Rampas Motor Saat Pemilik Isi Bensin

“Diskursus tersebut tidak dimaksudkan sebagai kampanye personal, melainkan sebagai ikhtiar intelektual-kultural untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menyelesaikan persoalan mendasar Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.

Asyhari menilai bahwa konflik internal PBNU su­dah terlalu membesar. Oleh karena itu, perlu ada­nya pendekatan baru da­lam penyelesaian persoalan tersebut.

“KH. Said Aqil Siroj dengan kedalaman ilmu dan pengalaman panjang da­lam memimpin NU dipandang mampu menjadi poros rekonsiliasi, rujukan keagamaan, sekaligus pe­neduh bagi beragam perbedaan yang berkembang di internal jam’iyyah,” ucap­nya.

“Sementara itu, KH. Abdussalam Shohib yang akrab dengan panggilan Gus Salam merepresentasikan figur Ketua Umum PBNU yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan memiliki kedekatan kultu­ral dengan basis warga nahdliyyin. Gus Salam dipandang memiliki kemampuan menggerakkan pembenahan organisasi secara kolektif,” imbuhnya.

Baca Juga  Tanjakan Singgalang Kariang Putus Tertutup Longsor, Akses Jalan Terputus 2 Jam

Lebih lanjut, Asyhari menyampaikan, penataan PBNU harus dilakukan secara profesional. Kepe­mimpinan harus berorientasi kepada kebaikan umat.

“Urgensi pasangan ini pada Muktamar NU ke-35 terletak pada kemampuannya menjawab tiga agenda strategis NU sekaligus,” jelasnya.

Rekonsiliasi internal PBNU, dengan menutup ruang polarisasi dan me­ngakhiri konflik yang me­nguras energi organisasi. Kedua, pembenahan organisasi, melalui penguatan sistem, disiplin struktur, dan penegasan kembali fungsi PBNU sebagai pe­layan jam’iyyah dan jama’ah.

“Ketiga, pemulihan nama baik NU, agar kem­bali tampil sebagai orga­nisasi ulama yang bermartabat, teduh dan menjadi teladan dalam kehidupan kebangsaan,” tandas Asyhari. (jpg)