AZIZ CHAN, METRO–Tasya Zita berhasil meraih Juara I dalam ajang Padang Fashion Summit 2025 yang digelar di Bagindo Aziz Chan Youth Center, Minggu (3/8).
Karyanya yang memadukan unsur budaya lokal dan gaya modern berhasil mencuri perhatian dewan juri.
Busana bertema “Menyulam Langkah” yang dirancang oleh Tasya terinspirasi dari motif sulam Sisiak Ikan, salah satu kekayaan tradisi Kota Padang. Lewat desainnya, Tasya berupaya menghidupkan kembali dalam tampilan yang lebih kasual dan kontekstual.
“Sulam ini biasanya hanya ditemukan pada selendang adat Koto Gadang dan kini mulai jarang digunakan. Ini perdana bagi saya ikut ajang fashion. Rasanya bangga dan bersyukur bisa meraih juara. Banyak proses dan pelajaran yang saya dapatkan,” ujar usai pengumuman pemenang.
Sebelum melaju ke final Padang Fashion Summit, Tasya terpilih sebagai finalis dalam ajang Padang Young Design yang diselenggarakan oleh Dekranasda Kota Padang. Pada tahun ini mengangkat motif sulam ikan sisiak.
Saat pembekalan, para peserta dibekali berbagai materi oleh para desainer profesional, termasuk pengembangan konsep dan pengolahan unsur budaya ke dalam busana.
Tasya menjelaskan bahwa tema sulam Sisiak Ikan diangkat bukan hanya sebagai elemen dekoratif, melainkan sebagai simbol perjalanan anak muda yang sedang mencari jati diri. Ia memilih motif abstrak sebagai representasi dari pikiran yang kompleks dan kerap berubah-ubah.
“Saya memilih motif abstrak untuk menggambarkan pemikiran anak muda yang sedang melangkah mencari jati diri. Kadang ragu, kadang plin-plan. Makanya desain ini dinamakan Menyulam Langkah, dengan minimalist edgy with cultural,” jelasnya.
Secara filosofis, Tasya menjelaskan Menyulam Langkah menggambarkan perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, tapi penuh makna di setiap prosesnya. Gaya minimalis yang digunakan dipadukan dengan potongan tegas dan detail sulam tangan, menjadikan karyanya kuat dari sisi konsep maupun estetika.
Meski proses pengerjaan desain ini tidak mudah terutama pada bagian penyulaman yang memakan waktu dan ketelitian tinggi. Tasya tetap tekun menyelesaikannya hingga layak tampil di Padang Fashion Summit.
Karya Tasya ditampilkan oleh salah seorang model. Tampilannya yang percaya diri dan energik turut menguatkan pesan yang ingin disampaikan dari desain tersebut.
Juara II diraih Salsabila Hadrat, disusul Rizka Afriyuni posisi ke tiga, untuk favorit diraih Chintya Atmajayanti, best sewing diraih Hakim Arif Billah, best concept diraih Hengki Romeo.
Ajang Padang Fashion Summit merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Kota Padang ke-356. Kegiatan ini diinisiasi oleh Dekranasda Kota Padang sebagai upaya menggali potensi desainer muda dan melestarikan warisan budaya melalui dunia fashion.
UMKM Fashion Ramaikan Padang Fashion Summit 2025
Sementara itu, bertajuk “Mystical Sako ‘Warisan Budaya Nan Batuah” Padang Fashion Summit sebagai lanjutan dari Padang Young Design Competition 2025 berlangsung di Bagindo Aziz Chan Youth Center Padang, Minggu (3/8).
Sebagai rangkaian dalam memperingati Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-356, Padang Fashion Summit hadir sebagai bentuk apresiasi kepada desinger muda dalam menyalurkan ide-ide serta inovasinya dalam dunia fashion.
Dengan tajuk warisan budaya, Padang Fashion Summit menghadirkan berbagai macam UMKM dalam sektor fashion yang mengusung kebudayaan minangkabau secara trandisional maupun modern.
Ayesha Collection hadir sebagai salah satu UMKM fashion untuk meramaikan Padang Fashion Summit. UMKM yang sudah berdiri sejak tahun 2002 ini berfokus kepada batik tradisional Minangkabau.
“Kami menghadirkan berbagai jenis batik tradisional yaitu batik tulis, batik cat, dan batik kombinasi tulis dan cat, dengan pembuatan yang dapat memakan waktu sampai dengan 2 minggu untuk 2,5 meter kain,” kata petugas stand Ayesha Collection, Sarjuni Rizka Putri, Minggu (3/8).
Selain menghadirkan batik tradisional, Padang Fashion Summit juga dihadiri oleh Kala Svarna, UMKM batik yang menggabungkan antara batik tradisional dan modern.
“Design yang kami gunakan masih bersifat tradisional minangkabau dan warna yang di ambil dari pewarna alami. Kami bertujuan untuk menjaga batik sebagai warisan budaya terutama di Minangkabau di kalangan anak muda agar tidak hilang oleh waktu,” kata petugas stand Kala Svarna, Najla Amalina.
Selain busana tradisional, Padang Fashion Summit juga diramaikan dengan UMKM fashion modern sekaligus peragaan busana oleh para finalis Padang Young Design Copetition 2025. (ren)






