JAKARTA, METRO–Masyarakat di sebagian wilayah Indonesia merasakan cuaca yang cukup panas. Bahkan, ada yang suhunya sampai menyentuh 37 derajat Celsius lebih. Fenomena itu disebabkan posisi matahari yang berada di selatan garis khatulistiwa.
Peneliti ahli utama BRIN Prof Edvin Aldrian menjelaskan, selama ini ada siklus di mana posisi matahari berada di utara atau selatan garis khatulistiwa. ’’Sekarang posisinya di selatan khatulistiwa,’’ kata Edvin, Jumat (11/10).
Akibatnya, daerah-daerah di selatan khatulistiwa merasakan panas yang lebih kuat dibandingkan biasanya. Khususnya di Pulau Jawa. Edvin mengatakan, puncak siklus matahari berada di belahan bumi bagian selatan terjadi pada 23 September lalu.
Dia menjelaskan, secara berangsur-angsur posisi matahari bergerak ke utara sehingga bagian selatan garis khatulistiwa akan kembali tidak terasa panas. Kondisi itu akan berbarengan dengan masuknya musim hujan.
’Kan bulan yang akhirannya ber, ber, ber itu musim hujan,’’ jelasnya.
Termasuk pada bulan Oktober ini. Dia mengatakan saat ini sudah masuk masa transisi ke musim penghujan. Memasuku paruh kedua Oktober, intensitas hujan bakal semakin meningkat.
Dia mengatakan untuk wilayah Jakarta saja, beberapa waktu belakangan sudah diguyur hujan. Bahkan sempat dengan intensitas lumayan besar. Edvin mengatakan saat ini ada fenomena la nina. Kebalikan dari el Nino, masa la Nina ini cenderung basah meskipun pada musim kemarau.
Dia mengatakan baru berkunjung ke sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kondisinya berbeda dengan musim kemarau saat terjadi el Nino tahun lalu. Dia mengatakan debit air di sejumlah daerah masih masuk kategori normal. “Musim kemarau sekarang tidak begitu kering,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menuturkan bahwa selain panas terik, potensi terjadinya hujan ekstrem juga perlu diwaspadai. Tercatat 12 stasiun meteorologi mendeteksi terjadinya hujan intensitas ekstrem, sangat lebat, dan lebat. (jpg)






