PADANG, METRO —Kasus bunuh diri di kalangan anak muda menjadi fenomena memilukan yang sangat penting dan menjadi perhatian serius. Di Kota Padang, terbaru, mencuat kasus bunuh diri calon pengantin wanita Shintia Indah Permatasari, yang ditemukan gantung diri dalam kamar di salah satu penginapan syariah, di kawasan Padang Pasir, Senin (13/11) lalu.
Maraknya aksi bunuh diri di Kota Padang ini membuat Wako Padang Hendri Septa angkat bicara. Ia mengingat kepada generasi muda untuk mencarikan solusi dari seluruh masalah yang dihadapi.
“Jika memang kita memiliki permasalahan kita serahkan kepada Allah SWT, dan tidak salah kiranya kita berdiskusi dengan orang terdekat, seperti keluarga, pasangan serta orang tua. Sehingga ada yang menguatkan kita sehingga kita jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata wako kepada wartawan, Senin (20/11).
Wako menyebut, sebetulnya kasus bunih diri tidak hanya terjadi di Kota Padang saja, tetapi daerah lain di Sumatera Barat (Sumbar), serta provinsi lain juga sama.
“Kita terus berhati-hati, itu mungkin takdirnya, tetapi kami sebagai pemerintah berharap kepada semua individu yang mempunyai Tuhan dan kita yakin dengan ajaran agama kita,” imbuhnya.
Dia juga menegaskan, bunuh diri itu adalah perlakuan yang sangat tidak pantas dan sangat tidak dianjurkan dalam ajaran agama Islam.
Sebelumnya, warga Kota Padang dihebohkan dengan penemuan mayat jenazah seorang perempuan yang tergantung di dalam sebuah lemari pakaian di sebuah penginapan. Jenazah perempuan itu, ditemukan pertama kali oleh pihak penginapan karena merasa ada kejanggalan, karena korban yang diketahui bernama Shintia tersebut tidak menyahut ketika di panggil-panggil oleh resepsionis penginapan.
Akhirnya, karyawan penginapan mendatangi kamar korban. Namun, ia terkejut menemukan korban telah tergantung di lemari pakaian.
Berdasarkan hasil olah TKP unit identifikasi, korban bernama Shintia Indah Permatasari berusia 25 tahun berasal dari Pariaman Tengah, Kota Pariaman. Sebelum bunuh diri, Shintia dikabarkan baru saja melakukan prewedding dengan kekasihnya seorang Akpol bernama Hadi yang kini bertugas di Maluku Utara.
Mereka telah memesan souvenir pernikahan dan akan melakukan meeting dengan Wedding Organizer. Namun sayang pernikahan tersebut tidak akan terlaksana karena calon mempelai wanita meninggal dunia.
Sementara, di waktu yang berdekatan kembali terjadi kasus bunuh diri di jalan Minahasa, Jati, Kecamatan Padang Timur Kota Padang. Yang menjadi korban merupakan seorang mahasiswi Kedokteran Unand yang sudah memasuki semester akhir.
Kasus Bunih Diri Meningkat
Untuk diketahui, berdasarkan data Komnas Perempuan, angka kasus bunuh diri meningkat dari tahun 2021 sampai 2023.
Menurut data dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri), jumlah kasus bunuh diri sepanjang periode Januari-Juli 2023 mencapai 663 kasus. Memuncak pada bulan Maret dan April dengan mencapai jumlah 109 kasus. Jumlah kasus bunuh diri tahun 2023 ini meningkat sebesar 36,4% dibandingkan tahun 2021 dengan jumlah 486 kasus dalam periode yang sama.
Meningkatnya kasus ini sangat disayangkan karena menimpa generasi muda yang tengah mengejar pendidikan merekam bahkan akan memasuki tahap pernikahan. Setiap orang memiliki berbagai masalah yang harus diselesaikan, tetapi banyak orang justru menghindari masalah. mereka memilih mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya sendiri.
Disebutkan, jika depresi dan gangguan mental merupakan penyebab dominan yang menyebabkan orang bunuh diri. Bunuh diri adalah tindakan mengakhiri hidupnya sendiri dengan sengaja. Bunuh diri sering dilakukan seseorang ketika merasa putus asa, sehingga dia merasa semua masalah dapat diselesikan dengan bunuh diri. Banyak faktor yang dapat memicu mahasiswa mengalami depresi dan gangguan mental.
Kasus bunuh diri kecenderungannya dipicu oleh gangguan kesehatan mental dengan beragam persoalan seperti kekerasan berbasis gender, perundungan, kekerasan siber dengan berbagai modus, penyakit sulit disembuhkan, tekanan ekonomi dan lain sebagainya. (brm)






