BERITA UTAMA

NTT Diguncang Gempa 7,4 Magnitudo, BMKG Sempat Keluarkan Peringatan Dini Tsunami, Data Sementara, 230 Rumah Rusak Berat

0
×

NTT Diguncang Gempa 7,4 Magnitudo, BMKG Sempat Keluarkan Peringatan Dini Tsunami, Data Sementara, 230 Rumah Rusak Berat

Sebarkan artikel ini
Gempa bumi berkekuatan M 7,4 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (14/12). pukul 10.20 WIB.

NTT, METRO–Gempa bumi berkekuatan M 7,4 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (14/12). pukul 10.20 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami, namun satu jam kemudian peringatan tersebut dicabut.

“Hingga Selasa, 14 Desember 2021, pukul 11.40 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan ada 15 aktivitas gempa bumi susulan dengan maksimum magnitudo 5,6,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Ia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, lanjut dia, masyarakat juga diminta untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak yang diakibatkan oleh gempa.

“Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah,” katanya.

Ia menambahkan bagi masyarakat di wilayah utara pantai di Flores Timur bagian utara, Pulau Sikka, Sikka bagian utara dan Pulau Lembata direkomendasikan tidak melakukan aktivitas di pesisir pantai dan tepian sungai. Namun, peringatan dini tsunami sudah dicabut.

“Peringatan dini tsunami dinyatakan telah berakhir, sehingga kami mohon pemerintah daerah bisa menyampaikan ke masyarakat telah berakhir. Artinya sudah bisa kembali ke tempat masing-masing,” ujar Bambang.

Menurut dia, aktivitas gempa susulan masih bisa terjadi. “Karena gempa susulan masih terjadi, maka mohon agar masyarakat menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa,” ujar dia.

Timbulkan Kerusakan Bangunan

Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut, sebanyak 230 rumah di Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, mengalami kerusakan usai terjadi gempabumi dengan magnitudo 7,4 di wilayah Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

“Selain itu, satu unit gedung sekolah, dua bangunan tempat ibadah dan satu rumah jabatan kepala desa juga terdampak gempabumi yang berpusat di 7.95 LS dan 122.24 BT. Laporan visual yang didapatkan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Selayar, kerusakan tersebut terpantau mulai dari bangunan pagar beton, dinding hingga atap rumah warga,” kata Abdul Muhari.

Dijelaskan Abdul Muhari, sata yang dihimpung per Selasa (16.04), gempabumi M7,4 tersebut dirasakan dan berdampak di tiga provinsi yang meliputi; Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah Kabupaten, Flores Timur, Kabupaten Sikka, Kabupaten Lembata, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Kepulauan Selayar, Kabupaten Buton, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Sabu Raijua, Kota Bau Bau dan Kabupaten Manggarai Barat.

“Kemudian Kota Makassar dan Kabupaten Selayar di Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Muna di Sulawesi Tenggara. Saat ini tim BPBD sedang turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan ke lapangan dan pendataan dampak,” ujarnya.

Polri Siapkan Operasi Aman Nusa II

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menyebutkan, Polri dan jajaran sudah memiliki rencana kontijensi yang berlaku satu tahun, dan dalam rencana tersebut terdapat tiga operasi yakni Operasi Aman Nusa 1 untuk konflik sosial, Operasi Aman Nusa 2 untuk kebencanaan, dan Operasi Aman Nusa 3 untuk terorisme.

“Jadi ketika terjadi bencana otomatis polda dan jajaran Polri di wilayah sudah memberlakukan rencana kontijensi Operasi Aman Nusa 2,” kata Rusdi saat ditemui di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Rusdi mengatakan dalam Operasi Aman Nusa 2 tersebut telah disiapkan personel serta peralatan yang dibutuhkan untuk membantu penanggulangan bencana di sebuah wilayah.

Dalam Operasi Aman Nusa 2 tersebut, personel Polri di wilayah melakukan langkah-langkah seperti inventarisir dampak bencana, korban bencana, termasuk menginventarisir kebutuhan apa saja yang diperlukan dalam membantu penanggulangan bencana.

Bersamaan dengan itu, kata Rusdi, Mabes Polri memantau situasi di lapangan, memonitor laporan dari satuan wilayah Polri untuk mengirimkan bantuan, baik personel tambahan ataupun sarana prasarana kebencanaan yang diperlukan.

“Berbarengan dengan itu Mabes Polri juga melihat, apabila membutuhkan dukungan SDM atau yang lain, Mabes Polri siapkan, tenaga untuk memback-up, Korps Brimob yang siap dengan itu,” kata Rusdi.

Rusdi mengatakan Polri juga memberlakukan sistem zonasi, yakni wilayah terdekat dari lokasi bencana akan dilibatkan untuk mengirimkan bantuan ke lokasi bencana. “Seperti wilayah terdekat NTT itu ada NTB dan Bali, keduanya sudah siap-siap itu,” ujar Rusdi.

Rusdi menambahkan, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo akan mengeluarkan surat perintah (sprint) untuk menugaskan polda wilayah maupun Mabes Polri untul mengirimkan personel bantuan ke wilayah bencana.

“Sejauh ini kami sudah berkoordinasi dan masih menunggu kabar dari Kapolda NTT terkait kondisi di wilayah. Kami terus memonitor perkembangannya dampak gempa, kita doakan tidak terjadi bencana yang luar biasa,” pungkas Rusdi. (jpg)