PADANG, METRO – Pesawat Lion Air JT-610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di sekitar Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) sekitar pukul 06.33 WIB. Sedikitnya 188 orang menjadi korban dalam kecelakaan, satu anak-anak, 2 bayi, serta 7 kru. Sementara beberapa penumpang berasal Sumbar. Pilot pesawat ini diketahui bernama Bhavve Sunaje dan co-pilot Harvino.
Kepala Biro Humas Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Sumbar, Jasman Rizal mengaku, sudah mengetahui adanya insiden pesawat Lion Air itu jatuh. Bahkan ada laporan sementara, sekitar 8 penumpang pesawat itu, berasal dari Sumbar. Satu di antaranya adalah Rijal Mahdi, Hakim Pengadilan Tinggi (PT) di Kepulauan Bangka Belitung.
Jasman mengatakan, Pemprov Sumbar saat ini masih menunggu laporan dari lembaga resmi tentang manifes penumpang pesawat nahas itu. ”Kita ingin kepastian berapa orang warga Sumbar yang ada di pesawat itu,” ujarnya kepada wartawan, kemarin.
Sementara, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi Sumbar turut merasakan duka yang mendalam atas terjadinya insiden jatuhnya Pesawat Lion Air JT-610. Gubernur berharap keluarga sabar menunggu informasi resmi dari pihak terkait. ”Mudah-mudahan keluarga diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi peristiwa ini,” kata Irwan.
Dari informasi yang dihimpun POSMETRO, Rijal Mahdi merupakan hakim yang berasal dari Kamang Hilir, Kabupaten Agam. Sang istri, Elzawarti yang dihubungi pihak Pengadilan Tinggi telah mengkonfirmasi jika Rijal adalah penumpang pesawat tersebut. Saat ini pihak keluarga berkumpul di Jakarta membahas hal ini.
Berikutnya, Hasnawati merupakan Hakim Pengadilan Tinggi Bangka Belitung dan Alumni Fakultas Hukum Unand, Rivandi Pranata adalah pegawai Kemenkeu dan Alumni SMA Negeri 10 Padang, Tami Julian merupakan karyawan Telkomsel asal Jorong Aia Randah, Nagari Gaduik, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota.
Kemudian, Mery Yulyanda merupakan pramugari Lion Air asal Nagari Tanjuang, Kecamatan Sungayang, Tanahdatar, Shintia Melina seorang pramugari Lion Air, Asal Siteba, Padang, Fauzan Azima asal Danguang-Danguang, Limapuluh Kota, dan Reo Yomitro asal Paninggahan, Kabupaten Solok.
Saat ini Basarnas dan tim gabungan masih mengerahkan anggotanya untuk mencari pesawat tersebut. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Pramintohadi Soekarno menyebut saat ini sudah dibentuk Crisis Center di Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Depati Amir Pangkal Pinang.
Hilang Kontak
Wakil Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Haryo Satmiko menyebut, pesawat Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh PT. Lion Mentari Airlines (Lion Air) sebagai penerbangan JT-610 dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta menuju Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang. Di dalam pesawat terdapat 188 orang yang terdiri dari dua pilot, lima awak kabin, dan 181 penumpang.
”Pesawat take off dari Bandar Udara Soekarno sesuai informasi dari Jakarta Air Traffic Controller (Jakarta Control). Jam 06.20 WIB, pesawat berangkat dari Jakarta dan diperkirakan tiba di Pangkal Pinang pada jam 07.20 WIB,” katanya.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan pihaknya akan menyelidiki alasan pilot Lion Air JT-610 jatuh yang sempat meminta kembali ke landasan. “Kami sedang mempelajari mengapa ada permintaan RTB (return to base), tapi permintaan itu juga sudah diizinkan ke Cengkareng. Tapi kami belum menemukan apa alasannya, kami sedang menunggu black box-nya,” ujar Soerjanto.
Soerjanto menyatakan meskipun kotak hitam belum ditemukan, tim SAR telah mengetahui lokasinya. “Kami harapkan black box tidak jauh,” katanya.
Sejauh ini, kata Soerjanto, tim pencari sedang meneliti lokasi badan utama pesawat yang berada di kedalaman laut sekitar 30-35 meter di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. “Kita mengerahkan beberapa kapal dari hidros, kapal navigasi TNI untuk melakukan pencarian. Kapal hidros ada sensor sonar,” katanya.
Lewat kapal tersebut mereka akan berupaya mendeteksi bangkai utama pesawat JT-610. “Kalau sudah ada lokasi yang tepat jadi langsung kita turunkan untuk deteksi ULB [Utility Located Beacon],” ujar Soerjanto seraya berharap kotak hitam yang menyimpan data penerbangan tersebut tak jauh dari sana.
Terbangkan Keluarga Korban
Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro menyebutkan, hingga sore kemarin, Lion Air sudah menerbangkan keluarga korban dari Pangkal Pinang, Bangka Belitung (Babel) dan daerah lainnya.
”Saat ini 90 orang dari pihak keluarga korban sudah didatangkan ke Jakarta dari berbagai daerah. Disiapkan fasilitas akomodasi (penginapan), serta pusat informasi di Hotel Ibis Jakarta Timur. Untuk memudahkan mobilitas ke posko di Bandara Halim Perdana Kusuma. Malam ini (kemarin, red) juga didatangkan 76 keluarga penumpang lagi,” katanya.
Terkait dengan kejadian kecelakaan, katanya, Lion Air membuka crisis center di nomor telepon (021) 80820000. Dan untuk informasi penumpang di nomor telepon (021) 80820002.
”Kami sangat prihatin dengan kejadian ini. Kami akan terus berkoordinasi dengan semua pihak untuk mempercepat kepastian informasi terkait dengan keadaan penumpang dan awak pesawat,” kata Danang. (mil)





