Habiskan 4 Ekor Ayam Sehari, Dipelihara dari Kecil hingga Berat 1,5 Ton
PESSEL, METRO – Proses evakuasi Robert (Buaya peliharaan) berjalan cukup dramatis. Mata Edi Muli, si pemilik buaya tersebut berlinang saat ikut membantu mengikat hewan yang sudah puluhan tahun dia pelihara untuk dimasukkan kedalam peti kerangkeng yang disiapkan petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Pesisir Selatan. Kamis (28/11) pukul 10.00 WIB.
Buaya dengan nama latin Crocodylus Porosus tersebut, akan dievakuasi dari kolam dekat rumah Edi, di Batu Tembak, Kenagarian Painan Selatan, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Pada saat proses evakuasi, Rober sempat meronta dan melawan, seolah memberi isyarat tak mau berpisah. Namun Edi, tetap mencoba menenangkannya dengan mengeluarkan beberapa kata. Entah apa yang dibisikkannya secara berlahan sebelum menutup mata dan mulut Robert dengan lakban. Setelah beberapa minit kemudian, Robert terlihat pasrah , seolah siap untuk dimasukkan kedalam peti kerangkeng.
Meski Robert hanyalah sekor Buaya, 31 tahun bersahabat dengan manusia tentu hubungan interaksi antara keduanya terbangun begitu lama. Bahkan beberapa bahasa yang sampai Edi nampaknya cukup difahami Robert. Sebagai sahabat, Edi selama ini selalu memperlakukan Robert sebagai bagian dari anggota keluarga.
Meski batin Edi terpukul ketika melepaskan Robert untuk dibawa petugas BKSDAResor Pesisir Selatan ke Penangkaran Buaya Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, terpaksa harus dia terima demi keamanan warga. Sebab, sebelumnya, buaya tersebut sempat lepas beberapa kali namun berhasil ditangkap kembali.
Dari kecil, buaya muara itu dipelihara Edi bersma keluarganya. Setiap hari mereka memberi makan buaya tersebut, sehingga bobot badan Robert saat ini sudah mencapai 1,5 ton dan panjang 3,7 meter.
Tidak hanya Edi Muli yang merasa sedih. Hewan reptil yang dikenal buas itu pun seperti tidak rela meninggalkan kandang yang sudah dihuninya puluhan tahun.
“Buaya ini sudah saya pelihara 31 t ahun. Saya memang sangat sayang dan senang memelihara binatang khususnya buaya. Untuk memberikan makan buaya peliharaanya, satu hari bisa dua hingga empat ekor ayam,” ungkap Edi Muli kepada wartawan.
Edi Muli mengenang, ketika Robert masih berukuran kecil, ia selalu membawanya untuk pergi bermain. Bahkan, tidak heran, hari-harinya dihabiskan untuk menemani Robet sembari menggendong-gendongnya kemanapun ia pergi. Berkat kedekatan itulah, Edi Muli menganggap Robert sudah menjadi bagian dari keluarganya.
“Robret itu sudah jadi keluarga saya karena sejak kecil sudah dipelihara. Untuk menjaga kebersihaan kandang, setiap harinya dirinya harus membersihkan. Termasuk mengganti air didalam kandang,” ungkap Edi Muli.
Meski berat hati lantaran sudah dipelihara selama puluhan tahun, Edi Muli sendiri yang meminta kepada BKSDA Resort Pessel untuk memindahkan Robert ke penangkaran. Hal itu dilatarbelakangi, ukuran buaya yang sudah sangat besar dan tentu buaya kesayangannya akan membutuhkan lebih banyak lagi makanan.
“Saya mengucapkan terima kasih pada petugas BKSDA Resort Pessel telah dengan senang hati mau melakukan translokasi Robert ke tempat yang lebih baik lagi,” ungkap Edi Muli dengan mata berkca-kaca mengenang buaya kesayangannyan yang sudah berpindah.
Terpisah, Kepala Resort BKSDA Pesisir Selatan Bilmar mengatakan, pemindahan reptil dengan panjang 3,7 Meter dan berat 1,5 ton itu sesuai permintaan pemelihara. Karena kondisi buaya cukup besar dan cukup perhatian lebih ketat.
“Ya, sejak 1 bulan lalu kami dihubungi beliau. Tapi selama ini kami terkendala armada. Baru sekarang bias. Sanjutnya, buaya itu bakal ditranslokasi ke Lembaga Konservasi di bawah binaan BKSDA Sumatera Utara. Di sana akan dilakukan proses rehabilitasi. Dan juga dilakukan observasi terkait apakah sudah bisa dilepas liarkan ke alam bebas. Sebab, di Indonesia, buaya merupakan salah satu hewan yang dilindungi,” ujar Bilmar.
Perlindungannya, lanjut Bilmar, sesuai dengan Undang-undang (UU) nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).
“Jika sudah bisa dilepaskan, maka dia akan dibebaskan ke habitatnya. Tapi jika belum, maka akan terus dilakukan rehabilitasi dan observasi,” terangnya. (rio)





