PDG.PARIAMAN, METRO – Wali Nagari Sunur Tengah, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padangpariaman, Afrizal menyatakan masyarakat kenagariannya hingga kini terus melestarikan kesenian tradisional.
“Salah satu kesenian yang kita lestarikan bersama masyarakat saat ini adalah silat sunur. Dengan silat sunur semua generasi muda kita nagari bisa bebas dari berbagai jenis pergaulan dan kenakalan remaja, seperti pengaruh berbagai jenis narkoba,” kata Afrizal.
Katanya, ini adalah bentuk komitmen nagari dalam melestarikan seni tradisi tradisi silat sunur, yang merupakan salah satu cabang aliran silat tradisional yang banyak berkembang di Sumbar.
Keberadaan silat sunur jelas merupakan aset penting bagi masyarakat Nagari Sunur, terlebih mengingat silat sunur sendiri merupakan aliran silat yang lahir dan berkembang di Nagari Sunur sendiri, “Yang jelas aliran silat tradisional Sunur merupakan salah satu kebanggaan sekaligus aset berharga non benda yang pernah dimiliki oleh Nagari Sunur sampai hari ini.
Dengan alasan itu pula kita dari pemerintahan nagari Sunur juga terus berupaya untuk bisa melestarikannya di lingkungan masyarakat Nagari Sunur, terutama tentunya di kalangan generasi penerus dan generasi muda lainnya,” terangnya.
Dikatakan, mantan anggota DPRD Kabupaten Padangpariaman ini menambahkan, salah satu upaya melestarikan silat tradisional sunur adalah dengan cara terus memberikan support dan dukungan terhadao sejumlah kegiatan sasaran silat tradisional yang ada di Nagari Sunur. Sehingga dengan begitu ke depannya keberadaan silat sunur bisa semakin eksis dan berkembang.
Untuk itu lanjutnya, ke depannya pihaknya bahkan telah berencana mendirikan satu pusat pelatihan silat, dalam bentuk laga-laga, dimana di tempat itu tidak hanya dijadikan sebagai pusat lokasi pelatihan silat, namun juga sebagai pusat pelatihan beragam kesenian tradisi lainnya. “Namun tentunya tanpa menghilangkan ciri khas tradisi silat Sunur yang ada selama ini, karena bagaimana pun hal itu jelas merupakan salah satu aset berharga yang perlu terus dipertahankan sampai kapan pun,” tegasnya.
Pihaknya dari pemerintahan nagari juga terus menumbuhkan minat dan kecintaan generasi muda di Nagari Sunur agar mau mempelajari seni sinat tradisi asli dari daerahnya sendiri. Termasuk diantaranya dengan aktif memperkenalkan seni silat tardisi Sunur kepada mereka.
“Bahkan tidak hanya sebatas itu saja, tapi kita juga berupaya merangsang minat generasi muda di daerah ini dengan cara menggelar berbagai ivent pertunjukan silat, seperti yang berlangsung pada bulan Desember lalu, yaitu dengan mengundang dan menampilkan seluruh aliran silat yang ada di Padangpariaman. Tempatnya di Nagari Sunur Tengah,” terangnya
Afrizal mengakui jika minat generasi muda Sunur terhadap seni tradisi silat Sunur, saat ini tidak lagi seantusias generasi sebelumnya. Namun demikian pihaknya tetap optimis jiga ke depan minat generasi muda sunur terhadap silat tradisi warisan leluhurnya itu akan terus meningkat seiring terjadinya perubahan waktu.
Di pihak lain, Afrizal juga tak luput berharap perlunya perhatian dari berbagai pihak terhadap upaya pelestarian silat sunur dimaksud, termasuk diantaranya perlunya melestarikan peninggalan sumur tua yang terletak di Nagari Sunur Barat.
“Karena menurut sejarah yang diterima dari tetua di Nagari Sunur, di sumur tua itulah dulunya Inyiak Ijuak selaku guru silat Sunur menempa murid-muridnya. Termasuk diantaranya sumur tua tersebut sering dijadikan sebagai tempat untuk memutus kaji bagi murid-Inyiak Ijuak sendiri.
Berdasarkan informasi orang tuo Nagari Sunur, Inyiak Ijuak sendiri merupakan salah seorang pengikut setia Syech Burhanuddin Ulakan. Selanjutnya melalui perjuangan Inyiak Ijuak inilah akhirnya silat tradisional sunur semakin dikenal secara luas sampai hari ini. Bahkan tidak terkecuali di mancanegara sekalipun.
“Makanya kita sangat berharap agar ke depannya sumur tua itu nantinya bisa dimasukkan dalam situs cagar budaya, sehingga dengan begitu keberadaannya tetap bisa terus terjaga dengan baik. Sekaligus dengan begitu sejarah silat sunur di daerah ini bisa tetap dilestarikan,” terangnya (efa)





