AGAM, METRO–Pemerintah Kabupaten Agam berencana membangun hunian sementara (huntara) bagi ratusan kepala keluarga yang rumahnya rusak berat akibat banjir bandang yang melanda daerah tersebut beberapa waktu lalu.
Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Muhammad Lutfi AR, Jumat (12/12), mengatakan pembangunan huntara akan dilakukan di tiga lokasi, yaitu Kayu Pasak Salareh Aia Kecamatan Palembayan, Linggai Kecamatan Tanjung Raya, dan Matur Mudik Kecamatan Matur.
“Hunian sementara ini akan kita bangun dengan dukungan dana dari BNPB. Peralatan untuk pembangunan huntara juga sedang dalam perjalanan menuju Agam,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa hunian yang akan dibangun merupakan rumah tumbuh tipe 21 dengan kondisi layak huni. Huntara tersebut diperuntukkan bagi warga yang kehilangan rumah atau yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
“Kita siapkan hunian sementara bagi masyarakat yang rumahnya tidak mungkin ditempati lagi. Ke depannya mereka juga akan direlokasi ke lokasi yang lebih aman,” tambahnya.
Lutfi menyebutkan pembangunan huntara akan melibatkan TNI agar proses penyelesaian dapat dilakukan secepat mungkin, sehingga warga terdampak dapat segera dipindahkan selama masa tanggap darurat.
Saat ini, sebanyak 410 kepala keluarga telah dipastikan mendapat hunian sementara. Rinciannya, 200 KK di Salareh Aia dan 210 KK di Salareh Aia Timur. Sementara untuk warga di Tanjung Raya, Matur, dan Malalak, pendataan masih berlangsung karena sebagian masyarakat belum bersedia direlokasi.
“Kami terus melakukan pendataan, dan bagi warga yang bersedia pindah akan dibangunkan hunian sementara,” jelasnya.
Bencana banjir bandang yang terjadi akibat curah hujan tinggi disertai angin kencang beberapa minggu lalu mengakibatkan kerusakan parah di Kabupaten Agam. Data BPBD mencatat 192 orang meninggal dunia, 72 orang masih hilang, 9 orang dirawat, dan 160 warga terisolasi.
Sebanyak 4.298 warga mengungsi, tersebar di Palembayan (903), Palupuh (128), Tanjung Raya (2.866), Ampek Koto (49), dan Matur (350).
Kerusakan fisik juga cukup besar, meliputi 493 rumah rusak ringan, 359 rusak sedang, 600 rusak berat, 11 tempat ibadah terdampak, 67 titik jembatan rusak, dan 49 titik jalan rusak.
Fasilitas umum lain yang terdampak meliputi 106 unit fasilitas pendidikan, 125 irigasi, 16 bendungan, 5.025 ternak mati, serta 1.813,70 hektare lahan pertanian rusak. Total kerugian akibat bencana tersebut mencapai Rp682,35 miliar. (pry)






