BERITA UTAMA

110 WNI Jadi Korban di Kamboja, DPR Minta Evaluasi Perlindungan Sektor Pekerja Migran

1
×

110 WNI Jadi Korban di Kamboja, DPR Minta Evaluasi Perlindungan Sektor Pekerja Migran

Sebarkan artikel ini
Ketua DPR RI Puan Maharani.

JAKARTA, METRO–Ketua DPR RI Puan Ma­harani menyampaikan keprihatinan atas kasus 110 warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban penipuan daring (online scam) di Kamboja. Ia mendesak pemerintah me­la­kukan evaluasi menyeluruh terhadap sektor pekerja migran agar peristiwa serupa tidak terulang.

“Kasus ini menjadi peringatan serius bagi kita semua bahwa kebutuhan eko­nomi dan sempitnya kesempatan kerja yang aman di dalam negeri se­ring kali memaksa warga kita mengambil risiko tinggi berangkat kerja ke luar negeri,” kata Puan kepada wartawan, Jumat (31/10).

Menurutnya, kasus ini menunjukkan masih le­mah­nya perlindungan terhadap pekerja Indonesia di luar negeri, sekaligus me­nyoroti mendesaknya pe­nye­diaan lapangan kerja layak di dalam negeri.

“Negara harus hadir memastikan setiap warga mendapatkan akses pekerjaan yang manusiawi dan terlindungi, di mana pun mereka bekerja,” ujarnya.

Puan menekankan pen­tingnya perlindungan pekerja migran sejak tahap prakeberangkatan. Ia meminta agar calon pekerja mendapatkan informasi yang akurat, pelatihan memadai, serta penempatan yang telah terverifikasi.

Baca Juga  Apreasiasi Pembentukan Komisi Percepatan Reformasi Polri, Peneliti Indikator Politik: Prabowo Sejalan dengan Pegiat Demokrasi dan HAM

“Pemerintah melalui P2MI, Kementerian Luar Negeri, dan instansi terkait perlu memperkuat koordinasi agar tidak ada lagi warga yang berangkat tanpa izin penempatan res­mi,” tegasnya.

Ia juga mengusulkan sistem peringatan dini (early warning system) bagi pekerja migran dengan melibatkan kerja sama antar lembaga mulai dari Ditjen Imigrasi, aparat bandara, hingga maskapai penerbangan, guna memantau perjalanan mencurigakan ke negara berisiko tinggi seperti Kamboja, Myanmar, dan Laos.

Namun, Puan meng­apresiasi langkah cepat KBRI Phnom Penh dan KP2MI dalam meng­eva­kua­si para korban, namun mengingatkan agar upaya pemerintah tak berhenti hanya pada penyelamatan.

“Pemerintah perlu memastikan pemulihan fisik, mental, dan sosial bagi para korban, serta membuka akses ke pelatihan kerja dan program pemberda­yaan ekonomi lokal,” tuturnya.

Lebih jauh, Puan menilai akar persoalan migrasi nonprosedural harus dijawab dengan kebijakan penciptaan lapangan kerja produktif di dalam negeri, khususnya di sektor padat karya, ekonomi kreatif, dan digital.

Baca Juga  3 Sopir Truk Terciduk Selewengkan BBM Bersubsidi di Payakumbuh, Modusnya Pakai Tangki yang Dimodifikasi

Ia juga mendorong perluasan kemitraan publik-swasta (public-private partnership) dalam investasi tenaga kerja, serta percepatan pembangunan kawasan ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal.

“Selama lapangan pekerjaan di dalam negeri belum cukup tersedia dan tidak memberikan rasa aman serta penghasilan layak, masyarakat kita akan terus mencari peluang di luar negeri mes­kipun risikonya tinggi,” pungkasnya.

Sebagaimana diketa­hui, sebanyak 110 WNI dilaporkan menjadi korban eksploitasi di perusahaan online scam di Kota Chrey Thum, Provinsi Kandal, Kamboja. Insiden itu berujung kerusuhan ketika 97 WNI mencoba kabur dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menyebut seluruh WNI kini berada di rumah detensi imigrasi Phnom Penh untuk proses pendataan dan pemeriksaan otoritas setempat. (jpg)