SOLSEL, METRO–Kelompok Pecinta Alam (KPA) Winalsa di Kabupaten Solok Selatan bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat tengah mengembangkan budidaya magot sebagai langkah inovatif dan ramah lingkungan untuk mengelola limbah organik sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.
Kegiatan ini berlangsung di Pondok Belajar Pertanian milik WALHI Sumbar yang berlokasi di Sukabaru, Jorong Bukik Malintang Utara, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Solok Selatan.
Hendri Syarief, Ketua KPA Winalsa Solok Selatan, menjelaskan bahwa budidaya magot bukan hanya sebagai metode penguraian sampah organik secara alami, tetapi juga sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
“Magot memiliki banyak fungsi, mulai dari mengurangi sampah rumah tangga hingga menyediakan pakan ternak berkualitas. Ini juga bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat desa,” ungkap Hendri saat ditemui di lokasi budidaya pada Kamis, (28/8).
Magot ini mampu mengonsumsi berbagai limbah organik seperti sisa makanan, sayuran, buah, dan bahkan kotoran ternak. Satu kilogram magot mampu menghabiskan antara 2 sampai 3 kilogram sampah organik setiap hari. Selain itu, residu dari aktivitas magot dikenal sebagai kasgot, yakni pupuk organik kaya nutrisi yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.
“Siklus hidup magot dimulai dari telur yang menetas dalam waktu sekitar 4 hari, kemudian larva tumbuh selama 14-18 hari, lalu masuk tahap pupa selama 10-14 hari, dan akhirnya menjadi lalat dewasa yang hidup 5-8 hari untuk berkembang biak,” jelas Hendri.
Di pasar, harga magot per kilogram sekitar Rp 8.000. Namun, untuk saat ini magot yang dibudidayakan KPA Winalsa lebih banyak dimanfaatkan sendiri sebagai pakan ternak, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pakan pelet dan pur yang biasanya harus dibeli.
Magot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) terbukti efektif mengurai limbah organik dan mengubahnya menjadi produk bernilai tambah untuk pertanian dan peternakan. Selain manfaat teknis, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
Pondok Belajar Pertanian WALHI Sumbar pun berperan sebagai pusat pembelajaran sekaligus praktik langsung dengan pendekatan kolaboratif antara organisasi lingkungan dan petani setempat. Selain budidaya magot, tempat ini juga mengembangkan sistem pertanian terpadu yang berbasis prinsip agroekologi.
“Tujuan utama kami adalah mewujudkan kedaulatan pangan. Kami ingin agar petani bukan hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga pengelola aktif yang menjaga dan merawat tanahnya sendiri,” tutup Hendri. (Jef)






