METRO SUMBAR

PLN UID Sumbar Dukung Program Swasembada Pangan, Terapkan Electrifying Agriculture pada Sejumlah Komoditi Pertanian

0
×

PLN UID Sumbar Dukung Program Swasembada Pangan, Terapkan Electrifying Agriculture pada Sejumlah Komoditi Pertanian

Sebarkan artikel ini
PENERAPAN LIGHT TRAP—General Manager PT PLN UID Sumbar, Ajrun Karim meninjau penerapan light trap program teknologi electrifying agriculture pada komoditi bawang di Alahan Panjang, Kabupaten Solok.

PADANG, METRO–Dukungan program pemerintah Presiden RI Prabowo Subianto mewujudkan swasembaga pangan direalisasikan PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat (Sumbar) dengan menerapkan program teknologi electrifying agriculture untuk beberapa komoditi pertanian di Sumbar.

General Manager PT PLN UID Sumbar, Ajrun Karim mengatakan, program teknologi electrifying agriculture ini program replikasi yang telah berhasil dilakukan di sejumlah daerah di Pulau Jawa.

“Di Jawa, electrifying agriculture telah berhasil diterapkan pada buah naga dan bawang merah. Harapannya program PLN ini terus berkembang di Sumbar untuk mendukung proram swasembada pangan dan juga peningkatan pemakaian energi listrik,” harap Ajrun saat meninjau penerapan electrifying agriculture pada komoditi bawang di Alahan Panjang Kabupaten Solok, Selasa (26/8).

Ajrun mengungkapkan, penerapan electrifying agriculture berdampak terhadap  pengurangan pemakaian pestisida, sehingga meningkatkan kualitas dari komoditi pertanian seperti bawang.

“Penerapan electrifying agriculture dapat me­ngu­rangi biaya operasional paling tinggi yakni penggunaan pestisida,” ungkap Ajrun melalui kegiatan peninjauan yang melibatkan awak media bertajuk “Roadtrip Media 2025” hari itu.

Ajrun menambahkan, penerapan electrifying a­griculture tidak hanya sebagai wujud dukungan terhadap program swasembaga pangan pemerintah. Tetapi juga mendukung perbaikan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan dari desa. Ajrun berharap, penerapan electrifying agriculture pada komoditi bawang di Kabupaten Solok jadi percontohan (pilot project) yang akan berkelanjutan.

“PLN support petani di Sumbar. Kita punya penerapan electrifying agriculture pada hilirisasi padi, komoditi buah naga dan bawang merah di Solok. Baru petani bawang me­rah di Solok yang menerapkan. Ada enam kelompok tani. Diharapkan program ini disosialisasikan dengan baik, sehingga petani meniru dan replikasi program yang sampai hari ini terbukti hasilnya dengan baik,” harapnya.

Gunakan Light Trap Mengusir Serangga dan Hama

Amri Ismael, salah seorang petani bawang m­e­rah di Alahan Panjang Kabupaten Solok menerapkan electrifying agriculture dengan menggunakan cahaya lampu yang dikenal dengan light trap. Dalam penerapannya, Amri menaruh air dalam ember yang di atasnya dipasang lampu 6 watt untuk me­nerangi. Tujuannya agar serangga dan hama pemakan bawang berkumpul di bawah lampu dan jatuh ke air dalam ember.

Ada 62 unit light trap dipasang di lahan yang ditanami bawang miliknya. “Ini tindakan untuk mencegah hama menyerang tanaman bawang. Dengan cara ini, kami bisa menghemat penggunaan pestisida,” jelasnya.

Penggunaan pestisida pada tanaman bawang merah selama ini menjadi salah satu komponen biaya produksi tertinggi. Namun, dengan adanya perangkap hama elektrik, penggunaan insektisida dapat ditekan hingga lebih dari 50 persen.

Selain light trap, Amri juga memanfaatkan tek­nologi sprinkle untuk penyiraman, terutama saat musim kemarau dan kabut. “Kabut adalah musuh terbesar tanaman bawang di dataran tinggi. Dengan sprinkle, kami bisa mengurangi penggunaan fungisida karena jamur tidak tumbuh di daun,” tambahnya. Termasuk juga penggunaan lampu sorot pada tanaman bawang yang dapat mempercepat proses fotosintesis pada bawang sehingga bisa mempercepat masa panen.  Penerapan electrifying agriculture juga bermanfaat me­ning­katkan produksi komoditi buah naga di Kabupaten Solok. Seperti yang telah dilakukan Agus Susiloadi, petani buah nagar di Aripan Bawah Kabupaten Solok.

Agus mengungkapkan dirinya memiliki 1.200 rumpun batang tanaman buah naga. Dengan penerapan electrifying agriculture, satu rumpun bisa menghasilkan 30 sampai 50 buah naga.  Penerapan electrifying agriculture sangat se­derhana. Dirinya menerangi tanaman buah naga dengan cahaya lampu pada malam hari. Dengan penerangan cahaya lampu, berdampak mempercepat munculnya bunga yang menjadi cikal bakal buah naga. “Bahkan setelah pa­nen rumpun buah naga diberi cahaya selama 21 hari, muncul lagi bunga dalam seminggu. Bahkan batang yang tua saja jika diberi cahaya lampu bisa berbunga kembali,” ung­kapnya.

Ide memasang cahaya lampu pada malam hari ini ditemukannya secara tidak sengaja. Awalnya dirinya memasang cahaya lampu hanya untuk mengawasi dan mencegah tanaman buah naga di lahannya tidak dimasuki maling.  “Kita jaga buah naga kita agar jangan masuk maling. Setelah pasang lampu, yang terjadi justru keluar bunga buah naganya ba­nyak. Makanya kita berinisiatif memasukan listrik untuk menambah cahaya lampu,” ucapnya.

Agus mengungkapkan untuk menerangi rumpun batang buah naga di atas lahan seluas satu hektar, dirinya memasang 4 panel listrik. “Satu panel saja bisa menghasilkan 1,5 ton buah naga. Sebelum dipasang cahaya lampu hanya bisa menghasilkan panen 500 kilogram buah naga saja sudah berat,” ungkapnya.

Agus mengakui dirinya sudah lima tahun lebih menggunakan cahaya lampu untuk meningkatkan produksi buah naga milik­nya. Namun saat ini diri­nya dihadapkan pada mu­sim kemarau sejak bulan Maret. “Masalah sekarang curah hujan kurang. Saya belum punya stok air. Muncul bunga lalu kering. Bahkan sekarang muncul penyakit cacar pada buah naga. Satu-satunya cara mengatasi dengan menyiram tanaman buah naga di waktu musim kering ini,” ungkapnya. (fan)