PADANG, METRO – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar memastikan jika beruang yang masuk ke pemukiman warga di Kampung Guo, Kelurahan Kuranji, Kota Padang merupakan jenis beruang madu.
Hal itu disimpulkan setelah tim melakukan observasi dan menyusuri lokasi yang didatangi beruang tersebut. Termasuk mengenali cakaran serta berdasarkan pengakuan masyarakat terkait ciri-ciri beruang tersebut.
”Gangguan satwa liar di Kelurahan Kuranji, Kota Padang sudah dipastikan jenis beruang madu atau Helarctos Malayanus,” kata Kepala BKSDA, Erly Sukrismanto, Jumat malam (8/2).
Erly menjelaskan, berdasarkan pengakuan warga keberadaan satwa terpantau sejak tanggal 29 Januari 2019 lalu. Laporan pertama kali diterima satwa berada di lingkungan RT 02/RW 06. Menurut dia, keberadaan satwa selalu berpindah-pindah, namun lima hari belakangan ini kemunculan satwa cukup intens di lokasi RT 01/RW 06.
”Jadi memang sejak sepuluh hari yang lalu tim BKSDA sudah ada di lapangan, mereka mengawasi itu dan tetap berjaga-jaga. Jadi ini memang si beruangnya suka berpindah-pindah. Makanya ini kita mencoba memasang perangkap,” ujar Erly.
Pemasangan kerangkeng atau perangkap ini, sebut Erly, untuk mengurangi kegelisahan masyarakat yang resah terhadap teror beruang madu itu. Pihaknya memasang perangkap sebanyak tiga unit di daerah perlintasan. Maka itu, pihaknya masih menunggu bersama hasilnya bagaimana.
Lebih lanjut, sambung Erly, sesuai prosedur upaya penanganan konflik satwa liar dengan manusia dilakukan dengan pengusiran dan penghalauan. Namun karena Keberadaan Satwa terpantau terus melalui kamera trap yang terpasang di lapangan dan perjumpaan langsung dengan petugas, maka dilakukan penjagaan dan patroli setiap malam.
”Jadi dugaan sementara pemicu kedatangan satwa adalah melimpahkan buah-buahan di sekitar lokasi, terlihat satwa sering berkeliaran di sekitar pohon rambutan dan kelapa di kebun masyarakat,” tutur Early.
Selain itu, lanjut Erly, dalam penanganan konflik ini juga sudah dilakukan koordinasi dengan pemerintah setempat. Sedang diupayakan untuk melakukan hardcatch dengan tembak bius. Agar satwa dapat ditranlokasi, mengingat keberadaan satwa sedang cukup lama dan meresahkan masyarakat.
”Kemunculannya karena memang satwa itu terakhir dengan buah yang manis-manis. Jadi masyarakat jangan sampai menangkap dan sampai menumbuh lah ya. Karena beruang madu itu tidak segalak seperti harimau,” pungkas Erly.
Seperti diketahui, warga di RT 03 RW 06 Kampung Guo, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji diresahkan oleh kehadiran beruang yang mulai masuk ke perkampungan. Sehubungan dengan kejadian itu, hingga berita ini diturunkan, Tim BKSDA masih dilakukan terkait jebakan kerangkeng yang dipasang. Jika sewaktu-waktu beruang tertangkap timnya langsung melakukan evakuasi. (mil)





