SOLOK, METRO – Banjir bandang dan longsor melanda Sumbar sepanjang Sabtu-Minggu (3-4/11). Seperti di daerah Kabupaten Solok dan Limapuluh Kota. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun sejumlah rumah warga dilaporkan terkena dampak. Bahkan, ratusan kepala keluarga (KK) harus diungsikan.
Di Nagari Koto Sani, Kecamatan Singkarak, Kabupaten Solok sejumlah warga terpaksa mengungsi akibat rumahnya dihondoh banjir bandang. Hujan deras yang mengguyur sepanjang sore hingga Sabtu malam, membuat Sungai Beringin yang mengalir di Jorong Padang Belimbing, Nagari Koto Sani meluap.
Luapan sungai yang membawa material padat menyapu pemukiman warga yang berada di sepanjang sungai itu. Warga yang tidak menyangka akan terjadinya banjir bandang sempat dibuat panik.
Jasnidar (37), seorang warga mengatakan, dirinya tersentak dari tidurnya ketika mendengar suara gemuruh di luar rumah. Waktu kejadian, kebanyakan warga tengah terlelap tidur sekitar pukul 03.00 WIB.
Namun teriakan “air besar” mambuat warga berhamburan keluar rumah. Warga baru sadar terjadinya banjir bandang ketika melihat air membawa potongan kayu dan material padat lainnya merendam rumah warga yang berada di sepanjang bantaran sungai beringin.
Malam itu juga warga memilih meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke rumah saudaranya untuk keselamatan. Kebanyakan rumah warga terendam air berlumpur.
Dari data sementara, setidaknya sekitar 50 KK terkena dampak banjir bandang. Enam unit rumah warga di antaranya mengalami rusak cukup parah.
Badriansyah, Kasi Logistik BPBD Kabupaten Solok mengatakan, banjir bandang yang melanda kawasan Nagari Koto Sani mengakibatkan sejumlah rumah warga rusak. Dari data sementara, 6 rumah warga dilaporkan mengalami rusak yang cukup parah.
Banjir bandang juga mengakibatkan ruas jalan ke arah Ujung Ladang di Nagari Koto Sani tertutup lumpur. Sejumlah tebing juga dilaporkan longsor dikawasan itu.
Selain di kawasan nagari Koto Sani, nagari Koto Baru dan Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok juga dilanda banjir. Banjir dipicu meluapnya aliran Batang Lembang yang tidak mampu menampung debit air.
Akibatnya 257 KK terkena dampak banjir tersebut. Pada umumnya rumah warga digenangi air setinggi pinggang orang dewasa. Meluapnya aliran Batang Lembang sudah tampak semenjak Sabtu sore.
Bahkan, warga yang tinggal di kawasan bantaran Batang Lembang sudah berjaga-jaga untuk mengantisipasi meluapnya air. Namun air terus naik hingga merendam pemukiman warga menjelang Subuh.
“Debit air sudah tampak naik sejak malam. Sehingga warga banyak yang berjaga jaga. Namun air terus naik dan menjelang subuh air mulai merendam pemukiman warga,” ujar Syafri salah seorang warga Koto Baru.
Tingginya curah hujan di daerah hulu Batang Lembang juga membuat debit air disejumlah anak sungai Batang Lembang naik. Di Nagari Batu Banyak, Nagari Koto Laweh dan Nagari Bukik Sileh, warga juga dibuat panik ketika debit air di aliran anak Batang Lembang naik. Derasnya air membuat warga khawatir lantaran air sudah sampai ke jalan.
Banjir Limapuluh Kota
Banjir yang melanda Kabupaten Limapuluh Kota sejak Jumat-Minggu (2-4/11) ini membuat 100 KK harus mengungsi akibat rumah mereka terendam air dengan ketinggian beragam dan yang paling tinggi hingga mencapai 1 meter.
Air mulai naik sejak Sabtu (3/11) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, namun baru merendam rumah masyarakat di beberapa tempat pukul 07.00 WIB. Hingga Minggu (4/11) sore ini air belum juga surut, mengingat hujan masih terus turun dengan intensitas sedang.
Tebing Jalan Nasional Sumbar Riau di Jorong Aia Putiah sebelum Kelok Sembilan dan sesudah kelok sembilan juga longsor. Akibatnya, arus lalin sedikit terganggu, namun alat berat sudah sampai di lokasi untuk membersihkan material longsor. Kemudian air juga menggenangi jalan menuju objek wisata Lembah Harau, akibat meluapnya Batang Harau, namun masih bisa dilalui kendaraan.
”Memang banjir merendam rumah masyarakat dan yang paling parah itu Kecamatan Harau di Nagari Taram dan Tarantang, kemudian Kecamatan Lareh Sago Halaban di Nagari Bukik Dijumpai, Jorong Kubang Rasau. Untuk Nagari Team dan Kubang Rasau ada warga yang mengungsi di Musholla Padang Belimbing 22 KK dan di rumah karib kerabat sebanyak 28 KK, begitu juga di Nagari Taram ada juga yang mengungsi di Rumah kerabat 60 KK,” sebut Kepala BPBD Limapuluh Kota Jhoni Amir.
Dia menyebut, pihaknya telah mendirikan tiga tenda pengungsian di beberapa lokasi. Hingga kini pihak BPBD, BNPB dan Tagana serta Damkar masih bersiaga terkait bencana banjir yang terjadi di 7 Kecamatan, Harau, Lareh Sago Halaban, Mungka, Gunung Omeh, Pangkalan, Kapur Sembilan.
Camat Harau Andri Yasmen, menyebut hingga Minggu sore air setinggi 1 meter menggenangi rumah masyarakat di Jorong Subarang, Nagari Taram, Kecamatan Harau belum kunjung surut. Meski sudah terjadi sejak Sabtu dini hari. Akibatnya, puluhan KK Mengungsi dan binatang ternak seperti Sapi dan Kambing harus dievakuasi dari genangan air.
”Masyarakat ada yang dievakuasi, kemudian binatang ternak, dan kolom ikan serta sawah dan ladang masyarakat terendam. Nagari Taram ini merupakan muara dari 7 sungai seperti, Batang Sanipan, Batang Mungo, Batanh Harau, Sinama, Batang Agam, Batang Lamposi, Muaro di Taram. Jadi karena hujan deras sehingga dimuara dari 7 sungai ini tidak bisa menampung tingginya debit air hingga meluap,” sebut Andri Yasmen.
Untuk saat ini dia menyebut, pihak Nagari masih menghitung kerugian dampak banjir serta mendata rumah masyarakat yang terendam air. “Kita masih mendata jumlah rumahnya gambar terendam, kemudian jumlah kolom ikan, luas sawah dan kebun yang terdampak genangan air luapan 7 sungai ini,” sebut mantan Camat Kapur IX ini.
Dia berharap, agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana baik banjir maupun longsor. Mengingat saat ini intensitas hujan sangat tinggi sehingga berpotensi menimbulkan luapan sungai yang merendam pemukiman terutama yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS). (vko/us)





