BUKITTINGGI, METRO–Pemetaan potensi pasar dunia perlu dilakukan untuk mengetahui data produk yang dibutuhkan oleh negara tujuan. Dengan pemetaan ini sehingga bisa disesuaikan kebutuhan produk dengan komoditas unggulan yang tersedia.
“Kita harus punya data detail kebutuhan masing-masing pasar negara tujuan. Sehingga produk yang dikirimkan bisa terserap,” kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, saat mengikuti Forum Diskusi Penanganan Masalah Perdagangan Luar Negeri secara virtual dari Istana Bung Hatta Bukittinggi, Selasa (7/9).
Mahyeldi mengatakan, jika peta potensi pasar itu sudah dimiliki, maka peran dari Kedutaan Besar, Atase Perdagangan/ ITPC, Kadin, Asosiasi Eksportir, dan pemerintah perlu didorong untuk mendukung ekspor produk ke berbagai negara.
Termasuk pasar ke Benua Afrika yang semakin menarik dan menjanjikan untuk dijadikan destinasi ekspor pilihan lain bagi para eksportir dari Sumbar.
Selain itu, potensi kendala juga harus dipahami dan dicarikan solusi terbaik bersama, agar pasar ekspor Sumbar bisa terus berkembang dan menguntungkan tidak hanya pengusaha, tetapi juga petani sebagai produsen.
Ia mengapresiasi dilaksanakannya forum diskusi dengan tema “Upaya Peningkatan Ekspor Komoditi Pertanian dan Perkebunan Sumatera Barat” yang diharapkan bisa mencarikan solusi untuk mengatasi permasalahan yang muncul, terhadap perkembangan ekspor Sumbar ke depan.
Menurutnya, jika dilihat dari struktur ekonomi Sumbar, sektor pertanian memang masih menjadi sektor dominan dibandingkan sektor-sektor lainnya. Apalagi Sumbar mempunyai banyak komoditas hasil perkebunan dan pertanian. Seperti, karet, kelapa sawit, pinang, manggis, pala, produk turunan kelapa, cassiavera, gambir, dan lain-lain.
Selain komoditi itu, Kopi Minang juga menunjukan perkembangan menarik di tengah situasi pandemi Covid-19. Kopi Minang berpeluang melakukan peningkatan akses pasar dan ekspor seiring dengan diinisiasinya kegiatan business matching. Sekaligus penandatanganan kesepakatan kerjasama kemitraan pemasaran antara eksportir kopi dengan kelompok tani kopi.
Dari data tahun 2020, negara tujuan ekspor kopi Sumbar adalah Malaysia, Korea Selatan, Hongkong, dan beberapa Negara Timur Tengah.
Namun saat ini masih banyak ditemukan kendala-kendala dalam melakukan ekspor oleh para pelaku usaha, terutama pelaku UMKM dalam melakukan ekspor. Di antaranya sertifikasi produk yang dipersyaratkan beberapa negara pengimpor.
Sejauh ini beberapa pelaku UMKM di Indonesia terkendala dengan sertifikasi yang ditetapkan dari luar, khususnya produk pangan. Seperti sertifikasi ISO 22000 atau hak merek, cipta halal, dan sertifikat organik (USDA ORGANIC dan EU ORGANIC).
Kendala lain adalah, biaya pengiriman kontainer yang mahal. Harga biaya kontainer naik untuk ke beberapa negara tujuan, seperti Austalia, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat.
Hal ini tentu berdampak kepada para eksportir kecil seperti UMKM. Karena biaya logistik bisa lebih mahal dibandingkan harga jual produknya. Untuk itu, hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak terkait terhadap permasalahan biaya kirim yang tinggi.
Kemudian belum banyaknya informasi maupun regulasi ekspor yang di dapat oleh para pengusaha maupun pelaku UMKM dan dan masih banyak lagi permasalahan dan hambatan bagi para pelaku eksportir lainnya. Seperti, kurs yang tidak stabil, tingkat suku bunga yang tinggi, inflasi, akses bahan baku yang sulit didapat, buruknya kondisi Infrastruktur, dan kualitas produk ekspor.
Permasalahan ekternal pun juga dirasakan para pelaku usaha. Di antaranya persaingan produk sejenis, sehingga daya saing produk luar negeri menjadi lebih baik dibanding produk kita.
Masalah lainnya, peraturan dari negara tujuan yang berhubungan dengan isu lingkungan, kesehatan dan keamanan. Mahalnya biaya distribusi karena transhipment melalui pelabuhan seperti Singapura dan Hongkong.
“Untuk itu, beberapa kendala ini perlu kita atasi secara bersama, mana yang tugas pelaku Usaha, Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, maupun Pihak Swasta,” kata Mahyeldi.
Ia menyebut untuk memudahkan ekspor, Pemprov Sumbar akan terus mendorong pengembangan Pelabuhan Teluk Bayur sebagai pintu gerbang ekspor di kawasan Indonesia bagian barat. (ADP)






