JAKARTA, METRO
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, dari 17 lapangan usaha, hanya ekonomi di 7 sektor yang mengalami pertumbuhan pada kuartal-II 2020. Sementara itu, 10 sektor lainnya mengalami kontraksi.
Ketujuh sektor tersebut yakni, pertanian, informasi dan komunikasi (infokom), jasa keuangan, jasa pendidikan, real estat, jasa kesehatan, serta pengadaan air. Namun, dari tujuh sektor tersebut, hanya infokom yang tumbuh signifikan di tengah pandemi Covid-19.
Sektor tersebut tumbuh sebesar 10,88 persen year-on-year (yoy). Sebagai perbandingan, pada kuartal-II 2019, pertumbuhan sektor ini hanya sebesar 9,6 persen yoy.
“Jadi, satu-satunya sektor yang tumbuh positif dan meningkat adalah informasi dan komunikasi. Enam sektor lainnya tumbuh, tapi menambat,” kata Kepala BPS Suhariyanto, Rabu (5/8).
Rinciannya, sektor pertanian tumbuh 2,19 persen yoy (Q2/2019 tumbuh 5,33 persen yoy), sedangkan jasa keuangan tumbuh 1,03 persen yoy (Q2/2019 tumbuh 4,49 persen yoy).
Kemudian, jasa pendidikan tumbuh 1,21 persen yoy (Q2/2019 tumbuh 6,31 persen yoy), sementara real estat tumbuh 2,3 persen yoy (Q2/2019 tumbuh 5,71 persen yoy).
Terakhir, jasa kesehatan tumbuh 3,71 persen yoy (Q2/2019 tumbuh 9,13 persen yoy), serta pengadaan air tumbuh 4,56 persen yoy (Q2/2019 tumbuh 8,33 persen yoy).
Suhariyanto menjelaskan, faktor penyebab sektor infokom tumbuh signifikan adalah adanya peningkatan permintaan iklan digital, pelanggan internet, serta pelanggan TV interaktif berbayar.
“Terjadi peningkatan belanja iklan televisi dan media digital, peningkatan trafik data penggunaan internet selama masa pandemi. Dan adanya peningkatan jumlah pelanggan penyedia jasa internet maupun maupun TV interaktif berbayar,” ucapnya.
Sektor Transportasi Tiarap
Dari 17 lapangan usaha, 10 sektor mengalami kontraksi sepanjang kuartal-II 2020. Sektor yang mengalami kontraksi paling dalam adalah sektor transportasi dan pergudangan, yang turun 30,84 persen yoy. “Pada tahun lalu, sektor transportasi dan pergudangan masih tumbuh 5,88 persen yoy,” kata pria yang akrab disapa Kecuk itu.
Kecuk mengatakan, dengan banyaknya sektor yang mengalami kontraksi ini maka terjadi pergeseran kontributor dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB). Meskipun demikian secara umum struktur PDB Indonesia tidak banyak berubah.
“Saya ambil contoh, tahun lalu transportasi dan pergudangan kontribusinya (ke PDB) 5,57 persen. Tetapi karena mengalami kontraksi, maka sumbangan sektor ini turun jadi 3,57 persen,” ucap Kecuk.
Adapun sembilan sektor lain yang mengalami kontraksi yaitu, industri (-6,19 persen), perdagangan (-7,57 persen), konstruksi (-5,39 persen), pertambangan (-2,72 persen), serta administrasi pemerintahan (-3,22 persen). Selanjutnya, sektor akomodasi dan makan minum (-22,02 persen), jasa lainnya (-12,6 persen), jasa perusahaan (-12,09 persen), serta pengadaan listrik dan gas (-5,46 persen). (jpc)





