BERITA UTAMA

Jangan ada Darah di Ibu Kota, Ratusan Orang Tolak Ahok di Mapolda dan DPRD Sumbar

0
×

Jangan ada Darah di Ibu Kota, Ratusan Orang Tolak Ahok di Mapolda dan DPRD Sumbar

Sebarkan artikel ini

Sehari jelang demo besar di Jakarta, Jumat (4/11), desakan masyarakat Sumbar atas penuntasan dugaan kasus penistaan agama oleh Ahok makin keras. Kamis (3/11), ratusan mahasiswa dan masyarakat mendatangi Mapolda Sumbar dan gedung DPRD.
PADANG, METRO–Sehari jelang demo besar di Jakarta, Jumat (4/11), desakan masyarakat Sumbar atas penuntasan dugaan kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) makin keras. Kamis (3/11), aksi demo dilakukan ratusan mahasiswa di Mapolda Sumbar dan DPRD Sumbar.
”Tangkap Gubernur non aktif Jakarta”. Begitu isi tema dari unjuk rassa yang dilakukan ratusan mahasiswa Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan masyarakat se-Sumbar. Selama dua jam, di bawah matahari terik mahasiswa dan masyarakat semangat menyampaikan aspirasi.
Aksi tersebut dimulai dari Masjid Nurul Iman. Gelombang demonstran melakukan longmarch ke Mapolda. Di depan Mapolda, ratusan mahasiswa dan masyarakat mengumandangkan takbir.
Hal pertama yang dituntut oleh massa tersebut adalah meminta presiden selaku pemimpin pemerintahan dan sebagai orang nomor satu di Republik Indonesia untuk bersikap tegas dan jelas atas kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok yang telah menyakiti umat islam.
”Jika presiden tidak tegas, kami tidak akan gentar dan akan terus maju untuk mendesak agar penistaan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh Ahok, disikapi dengan bijak oleh Presiden untuk diproses. Hukum jangan tumpul keatas tajam kebawah,” ujar Ketua Aliansi BEM Sumbar, Edi Kurniawan, saat berorasi di depan Mapolda.
Kedua, Polri sebagai penegak hukum untuk memproses secara hukum yang berlaku dan seadil-adilnya, dan hukum berlaku ke seluruh rakyat Indonesia tanpa tebang pilih.
”Jika satu tetes saja darah tertumpah di ibu Kota pada tanggal 4 november nanti, kami menganggap hal itu sebuah tanda perlawanan.
Presiden harus mundur dan Ahok harus dihukum mati jika ada darah menetes di ibu kota. Kami siap untuk berjuang demi Islam. Kami masyarakat Sumbar mendukung aksi yang akan dilakukan oleh saudara-saudara kami di Jakarta, yang telah tersakiti oleh pernyataan Ahok,” lanjutnya.
Hal ketiga yang disuarakan massa adalah, mengajak seluruh umat Islam tetap tenang dan jangan terpecah belah, terprovokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Dalam kesempatan itu, mahasiswa menyampaikan rasa kecewa mereka karena tak berhasil menemui Kapolda Brigjen Basarudin.
“Kita ke sini untuk menemui Kapolda, tapi Kapolda yang terhormat itu tidak mau menemui kita, karena alasansibuk. Kami kecewa. Begitu juga, pengeras suara milik negara yang dititipkan kepada polisi juga rusak,” kata Edi Kurniawan.
Ungkapan kekecewaan juga disuarakan kepada Wakapolda. “Katanya wakapolda menunggu kami di dalam sana. Kami hanya ingin menunggu bapak dan ibu wakapolda yang terhormat di sini ( di depan Mapolda),” tukas Edi.
Bahkan seorang muslim keturunan tionghoa, Amin menyampaikan bahwa ia tidak akan mendukung seorang pun yang telah menghina Islam.
”Saya mendukung aksi mendesak agar Ahok diproses secara hukum. Apa yang dilakukan Ahok telah  menyakiti hati umat Islam,” ujar Amin.
Sementara itu, Karo Ops Polda Sumbar, Kombes Pol Subnedi membantah bahwa kapolda tidak mau menemui mahasiswa dan masyarakat Sumbar. Pasalnya, Kapolda tengah berada di Jakarta.
”Kami sudah memfasilitasi massa sebanyak 10 orang untuk bisa menemui wakapolda di dalam, tetapi massa ini tidak ingin menemui di dalam. Jadi bukan lagi kesalahan kepolisian untuk memfasilitasi pertemuan massa dengan pimpinan,” kata Subnedi didampingi Kapolresta Padang Kombes Pol Chairul Aziz.
Setelah di depan Mapolda, gelombang massa juga menggelar demontrasi di gedung DPRD Sumbar. Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Pembebasan (GMP), Ricky Fattamazaya di halaman gedung dewan, menyampaikan orasi, bahwa Presiden dan Polri harus bisa bertindak tegas.
Kedua, Bareskrim Polri harus menangkap Ahok. Polri diharapkan tak gentar dengan kekuatan apapun yang berada di balik kebalnya Ahok. Mereka menilai jika menegakkan kebenaran, umat Islam akan ada bersama Polri. Namun jika ternyata melindungi Ahok, kemarahan umat akan lebih besar lagi tertumpah pada Polri.
“Jangan sampai kerusuhan peristiwa 1998 terulang kembali,” tegas Ricky dengan suara lantang.
GMP mengajak agar kaum muslimin bahu membahu menolak pemimpin kafir. Kaum muslimin, menurut para pendemo, harus menjaga kemuliaan Islam, Alquran dan ulama. Dengan tidak melanggar perintah ayat-ayat Al-quran, salah satunya sesuai Surat Al-Maidai ayat 51, yang tegas menyuruh umat Islam untuk memilih pemimpin se-aqidah.
Pada demo sekitar pukul 14.00 WIB, sayangnya para pendemo tak disambut satupun anggota dewan. Ini dikarenakan dalam agendanya, anggota DPRD Sumbar sedang menjalankan kunjungan kerja (kunker) ke daerah.
Walaupun tak ada anggota dewan, para pendemo disambut oleh unsur pimpinan Sekretariat DPRD Sumbar, di antaranya Sekretaris Dewan (Sekwan), Raflis, Kabag Humas dan Informasi Erdi Janur. Para pendemo juga diajak untuk bermediasi di ruangan untuk menyampaikan aspirasi mereka. (rg/cr8)

Baca Juga  Sekeluarga Positif Terpapar Covid-19, Kota Padang Daerah Terparah