SOLOK/SOLSEL

Di Tengah Pandemi Covid-19, Kasus Stunting Tetap jadi Perhatian

0
×

Di Tengah Pandemi Covid-19, Kasus Stunting Tetap jadi Perhatian

Sebarkan artikel ini

SOLOK, METRO
Di masa pendemi Covid-19, persoalan stunting tetap menjadi perhatian pemerintah.  Pemkab Solok tetap melanjutkan komitmen dan menyepakati rencana kegiatan intervensi penurunan stunting terintegrasi serta membangun komitmen publik dalam kegiatan penurunan stunting.

“ Meskipun kita serius dan fokus dalam memutus rantai Covid-19 ini, penanganan stunting juga tidak boleh kita kesampingkan, makanya kita akan kembali dengan komitmen itu,” ujar Bupati Solok Gusmal, kemarin.

Untuk melaksanakan hal tersebut Gusmal mengatakan, pihaknya sedang menunggu instruksi dari Kementrian Kesehatan bagaimana teknisnya dalam melakukan aksi turun ke lapangan guna melakukan bimbingan langsung terhadap penderita stunting.  Karena pada dasarnya selama penerapan Hidup Baru, pasti ada tatanan yang berubah, untuk itu setiap program harus disesuaikan dengan protokol kesehatan.

Pada tahun 2019 lalu, Kabupaten Solok ditetapkan sebagai lokus stunting Sumatera Barat, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2019, Kabupaten Solok berada pada urutan ke tiga jumlah penderita stunting terbanyak, ini butuh komitmen bersama dalam memutus rantai stunting.

Untuk diketahui, data balita stunting di Kabupaten Solok berdasarkan data tahun 2013 sebesar 39,69 persen. Berdasarkan hasil PSG (Penilaian Status Gizi) tahun 2019 menjadi sekitar 30,5 persen, atau sekitar 1.638 Balita dari 5.376 Balita di Kabupaten Solok, atau masih diatas target WHO sebesar 20 persen.

Dengan kondisi demikian, Pemerintah Kabupaten Solok melakukan upaya penanganan yang serius dengan garda terdepan ada di Puskesmas, bahkan seluruh instansi harus saling bahu-membahu dalam menangani masalah stunting ini. Tahun 2019, ada 10 nagari yang menjadi wilayah sasaran (penanganan) stunting Kabupaten Solok.

Diantaranya, Nagari Paninggahan Kecamatan Junjung Sirih, Aiadingin Kecamatan Lembah Gumanti, Batubajanjang, Kotolaweh, Kotogadang Koto Anau di Kecamatan Lembang Jaya, lalu Nagari Taruang-Taruang Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, kemudian Tanjung Bingkung Kecamatan Kubung, serta Sariakalahan Tigo Kecamatan Hiliran Gumanti.

Menurutnya, di 10 nagari lokus stunting tersebut, ada Tiga faktor yang sangat berpengaruh, yakni kurang tersedianya sumber air bersih, sanitasi yang tidak sehat, serta pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak sehat. Ketiga faktor tersebut, kerap diabaikan masyarakat.

Dijelaskannya, salah satu penyebab utama tingginya angka stunting di Kabupaten Solok, yakni kurangnya pengetahuan masyarakat, dan kurangnya penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan asupan gizi. Akses makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, pola asuh dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termaksud sanitasi dan air bersih, seharusnya menjadi perhatian. (vko)