PDG.PARIAMAN, METRO
Sudah tiga tahun lamannya perempuan yang bernama Juni Arita (36) warga Padangpariaman merasakan penderitaan lantaran mengidap tumor ganas dalam perutnya. Saat ini kondisi perempuan yang kerap dipanggil Juni itu makin mengkhawatirkan.
Iuran BPJS yang sudah menunggak, memaksa Juni hanya menjalani perawatan ala kadarnya saja di rumah. Padahal, Juni harusnya butuh perawatan yang lebih intensif di rumah sakit. Namun, apa daya, sang suami tak memiliki uang untuk membawaya berobat karena kehilangan pekerjaan.
Juni yang ditemui di kediamannya, Kamis (14/5) di kawasan Korong Pauah Manih, Nagari Koto Dalam Selatan, Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman, hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya kurus, hanya tingga tulang yang dibalut kulit. Wajahnya pucat, sementara perutnya tampak besar seperti sedang hamil 9 bulan karena tumor semakin membengkak.
“Makan, minum susah istri saya ini. Cuma bisa berbaring saja. Setiap hari harus dibantu untuk bergerak,” ungkap Dahnil Aprianto (41), suami dari Juni.
Lebih lanjut Dhanil menuturkan, saat ini dia tidak mampu untuk membawa istrinya (Juni) untuk berobat. Sementara BPJS milik mereka sudah menunggak sebesar Rp 6 juta lebih.
“Semenjak tahun 2017 BPJS sudah nunggak, sampai enam juta,” beber Dhanil sembari membeberkan persoalan itu, Dhanil membantu istrinya untuk memiringkan badan. Tampak Dhanil sangat sabar dan setia menemani istrinya yang begitu.
Pria kelahiran Pekanbaru itu pun bercerita awal dari keluhan istrinya. “Ini berawal dari keluhan yang dirasakan Juni, saya pikir awalnya keluhan di perutnya cuma masuk angin dan kami cuma obati melalui tukang urut,” jelas Dhanil.
Setelah diurut keadaan istri tercintanya semakin buruk dan rasa sakit di dalam perutnya semakin perih. “Keadaan itu menjadi semakin menakutkan, apalagi disaat istri saya memuntahkan cairan seperti cairan empedu. Lalu saya bawa Juni ke rumah sakit untuk mendapati penanganan,” ungkap Dhanil.
Nah sampai di rumah sakit, jelas Dhanil, dokter mengatakan kalau istrinya diserang tumor ganas pada posisi perut. Kabar dari sang dokter pun membuatnya terpelanjat seakan tak percaya dengan apa yang menimpa istrinya.
“Sangat terkejut saya mendengar kalau Juni diserang tumor di bagian perutnya. Kata dokter sakitnya Gastro Intestinal Stromal Tumor (GIST),” kata Dhanil.
Saat itu, Juni akhirnya menjalani operasi pengangkatan tumor di Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru.
“Operasi berhasil, dokter dapat mengangkat tumor seberat 5 kilogram dari perut Juni. Nah saat itu saya bersyukur operasinya berhasil namun dokter pun berkata lagi bahwa masih ada tumor dalam perutnya,” sebut Dhanil.
Ternyata masih ada tumor dalam organ tubuh Juni. Tumor dengan ukuran kecil bersarang di bagian hulu hatinya. “Karena masih ada tumor di bagian hulu hati Juni, kami sering bolak balik berobat. Dan pada akhirnya, sebulan setelah pengangkatan tumor waktu itu, Juni hamil,” jelas Dhanil.
Masalahpun kembali menimpa Juni, tepatnya pasca dia melahirkan. Setelah menjalani operasi sesar melahirkan tumor di bagian hulu hatinya mengganas dan semakin cepat membesar.
“Sampai sekarang perut Juni lebih besar ketimbang dia hamil waktu itu. Sudah bolak balik ke Jakarta namun tidak ada hasil, tumor semakin membesar. Sekarang cuma bisa pasrah dan merawat istri di rumah saja, seperti ini,” ungkapnya.
Dhanil mengulas, bagaimana dia hendak bekerja keluar rumah, sedangkan untuk bergerak saja istrinya tidak mampu leluasa. “Harus ditemani ke kamar mandi, pokoknya untuk bergerak harus dibantu. Kalau saya mau beli pempers untuk Juni harus ada yang gantian menjaganya,” sebut Dhanil.
Dhanil sangat berharap bantuan dari pihak manapun untuk pengobatan istri tercintanya. Kartu BPJS mereka telah menunggak Rp6 juta lebih, sementara tumor ganas tersebut masih terus mengusik ketenangan Juni siang dan malam. “Kadang tak tahan lagi saya menahan air mata, melihat Juni menangis kesakitan. Dia terjaga dari tidur nyenyak, makan susah, minum susah, entah sampai kapan ini,” kata Dhanil. (z)





