Oleh : Reviandi
VIRUS corona atau covid-19 ternyata tak membuat semangat para calon peserta Pilkada serentak kendor dalam menggalang dukungan. Bahkan, mendekati waktu pendaftaran calon ke KPU ini, semakin membuat kandidat grasa-grusu mendekati pengurus partai politik. “Mahar” mulai mengiang-ngiang di udara politik lokal. Pesatnya info corona berbanding lurus dengan pesatnya para kandidat bermanuver.
Ya, hampir semua partai sedang menyeleksi calon yang akan mereka usung di Pilkada serentak 23 September 2020 ini. Bahkan, sudah ada yang mengerucutkan jadi beberapa orang saja untuk dibawa ke pengurus pusat di Jakarta. Heboh corona, seakan tak membuat mereka gentar untuk memastikan kursi kepada para pemegang keputusan di ibu kota.
Tak heran, politisi dan pengurus politik tetap tampak wara-wiri di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju Bandara Soekarno-Hatta atau Cengkareng Jakarta dalam beberapa hari terakhir. Tak sedikit pula para “calo-calo” politik memanfaatkan momen ini untuk terbang bolak-balik Jakarta-Padang. Karena ongkos pesawat yang kabarnya miring. Mulai dari korting wisata sampai permintaan tiket yang rendah.
Terlepas dari virus yang menjadi pandemi global itu, ternyata proses Pilkada memang sedang hangat-hangatnya. Sudah waktunya bagi parpol untuk menetapkan pasangan calon, baik untuk pemilihan Gubernur-wakil Gubernur atau Bupati/Wabup dan Wali Kota/Wawako. Karena, KPU juga memastikan, pencoblosan tak ditunda, tapi prosesnya yang agak dibuat lebih hati-hati. Apalagi para kandidat perseorangan sudah “curi start” berpasangan.
Perubahan komposisi partai di pusat dan provinsi juga sedikit mengubah peta politik di provinsi dan kabupaten/kota. Apalagi terjadinya pergantian pinpinan di Sumbar seperti Partai Golkar. Di era Ketua DPD Khairunnas, sejumlah kader yang awalnya dibekukan oleh Hendra Irwan Rahim, kini kembali mendapatkan posisinya. Akhirnya, kandidat yang sudah mencari “selamat” ke partai lain mulai kembali berbicara lantang dengan kursi Golkar yang masih lumayan.
Terpilihnya Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY sebagai ketua umum Partai Demokrat juga mengisyaratkan hal yang berbeda. Kalaupun mungkin Mulyadi tak tergoyahkan sebagai calon Gubernur Sumbar, setidaknya di Kabupaten/Kota agak berubah. Karena beberapa calon mengaku punya kedekatan dengan AHY dan berpeluang maju di Pilkada. Setidaknya, ini sedikit mengunci jalan Demokrat untuk cepat memutuskan. Akan ada tarik-menarik.
PAN pun belum ada kemajuan pascaterpilih kembalinya Zulkifli Hasan sebagai ketua umum periode kedua. Kabarnya, entah betul atau tidak, jabatan ketua DPW PAN Sumbar akan terlepas dari genggaman Ali Mukhni. Artinya, bisa saja PAN akan menunjuk orang lain selain Ali Mukhni sebagai bakal calon Gubernur. Tentunya, kandidat di Kabupaten/Kota juga kembali kocok ulang atau baserak. Bisa saja kader PAN Taslim “hidup” kembali dan menjadi calon Bupati Agam dengan “resmi.” Karena semapat disebut-sebut akan maju dengan partai selain PAN.
Nah, heboh corona ternyata tak membuat geliat Pilkada menurun. Pasalnya, niat maju alek lima tahunan itu rata-rata tak terjadi sesaat saja. Ada yang sudah merancangnya sejak lima atau 10 tahun lalu. Jadi, tak mungkin karena wabah, niat itu padam musnah. Sekarang, yang perlu adalah bagaimana tetap memenej diri agar tetap bisa menarik hati para calon-calon pemilih. Jangan sampai pemilih yang tertekan corona benar-benar tak mau berurusan lagi dengan politik. Sehingga membuat kacaunya investasi sosial yang sudah disebar para calon.
Artinya, penanganan corona dan Pilkada akan berjalan seiring dan akan bertemu pada satu titik, corona hilang, Pilkada semarak. Maka, semua harusnya bergerak di koordinat masing-masing. Akhirnya, siapa yang akan menjadi Gubernur, Wali Kota atau Bupati usai Pilkada, harus lebih cepat tanggap dalam mengambil keputusan. Bukan malah membiarkan anak-anak sekolah saat corona benar-benar mengancam Indonesia. Saat Malaysia saja sudah “lock down” 18-31 maret 2020. Maka pikir-pikir benarlah siapa yang akan memimpin di masa depan. (Wartawan Utama)





