Oleh : Reviandi
PARTAI Gerindra menang banyak pada Pileg 2019 lalu di Sumbar. Selain memenangkan 14 kursi di DPRD Sumbar, di Kabupaten/Kota pun mereka mendominasi. Tak heran, saat Sekjen DPP Gerindra Ahmad Muzani ke Sumbar bulan lalu, sekitar 14 mobil dinas dengan BA 3 “mengepung” BIM dan mengaraknya sampai ke Kota Padang. Karena, hampir semua ketua dewan adalah kadernya.
Kini, menyongsong Pilgub Sumbar 2020 yang pencoblosannya digelar 23 September mendatang, Gerindra seperti sedang di atas angin. Jagoan mereka, Nasrul Abit (NA), kini benar-benar di-back up habis oleh Ketua DPD Gerindra Sumbar Andre Rosiade. Hal itu menjawab keraguan selama ini, hilangnya jabatan NA sebagai pemimpin Gerindra di Sumbar, sama dengan habisnya peluangnya mencalonkan diri menggantikan Irwan Prayitno yang sudah dua periode.
Sebagai anggota DPR RI, Andre seperti superhero yang overpower di Sumbar. Dia menyikat segalanya, mulai dari bantuan bencana, bantuan UMKM, bantuan CSR BUMN, sampai acara-acara seni dan olahraga. Kalau sidak (inspeksi mendadak) dari maksiat sampai told an maskser dia hajar juga. Tiap kedatangannya ke Sumbar, diisi dengan seabreg kegiatan yang membuatnya disebut-sebut seperti mau maju jadi Gubernur Sumbar. Namun, Andre selalu menjawab, dia bukan peserta Pilkada Sumbar 2020.
Andre sepertinya hanya ingin membuktikan komitmennya sebagai wakil rakyat dari Sumbar 1 yang dipilih hampir 140 ribu orang di 11 Kabupaten/Kota. Dia tak ingin hanya menjadi wakil yang duduk dan diam saja di Senayan. Di DPR dia mulai disebut “macan Senayan” tapi tak lupa menggarap Dapilnya dengan sempurna. Bahkan, tak heran banyak yang heran, Andre seperti ada banyak – ramai di Jakarta dan sering pula di Sumbar.
Baginya, mungkin ini adalah pembuktian bagaimana seharusnya wakil rakyat itu. Berarti di gedung bun dar Senayan, dan berbuat di daerah asal. Kalau tidak, mungkin saja dia sudah wara-wiri lagi mengincar posisi sebagai calon Gubernur Sumbar. Apalagi, saat ini lembaga survei masih memasukkan namanya meski berkali-kali menyebut tak maju. Hasilnya, elektabilitas Andre masih berada di empat atau lima besar.
Sungguh godaan yang kuat kalau ingin maju. Apalagi, kini partai terbesar di genggaman – 14 kursi sudah cukup syarat untuk mencalonkan diri. Tinggal memastikan saja siapa wakil yang akan dibawa ke KPU Juni mendatang. Tapi, baginya ternyata itu bukanlah godaan, tapi harapan dan tantangan untuk membuat Gerindra lebih besar lagi di Sumbar.
Berulang kali, Andre menyebut calon Gubernur dari Gerindra adalah “seniornya”, mungkin saja itu NA. Andre sepertinya telah menerapkan standar baru bagi anggota DPR RI di Sumbar. Mereka yang selama ini terlihat adem-ayem dan kembali menggeliat saat Pileg di depan mata. Bagi Andre, setiap hari adalah waktu untuknya menjaring aspirasi, menyuarakan dan menuntaskannya.
Sejak mengemban tugas sebagai ketua Gerindra Sumbar, langkah yang dilakukan Andre memang cukup heroik. Dia langsung membuat Gerindra tak lagi berada di bawah digdayanya Irwan Prayitno dengan PKS-nya. Sebelumnya, NA memang terlihat lebih tenang, meski berposisi sebagai partai pemenang di Sumbar. NA seakan tak mau melangkahi IP yang masih menjabat sampai 2021.
Langkah Andre itu makin menajam dengan memerintahkan Fraksi Gerindra DPRD Sumbar melepaskan tembakan peringatan kepada Gubernur Sumbar dengan inisiasi interpelasi atau hak bertanya. Berawal dari seringnya IP ke luar negeri dengan berbagai alasan, kini interpelasi mengerucut kepada pengelolaan BUMD Sumbar yang amburadul. Bahkan, sudah memasuki tahap lanjutan di sidang paripurna. Terakhir, Gubernur Sumbar sudah menjawabnya di DPRD Sumbar.
Usai interpelasi, Andre kian gencar menyerbu Sumbar – seakan-akan dia adalah calon Gubernur dari Gerindra. Kadang, Andre juga menyertakan NA mendampinginya. Di dalam banyak pertemuan, Andre benar-benar menyanjung NA sebagai calon Gubernur dari Gerindra. Ini pulalah yang membuat Dt Malintang Panai – gelar NA merasa nyaman dan tetap bersemangat mencalonkan diri. Sebelumnya, ada yang menyebut, partai lain mulai merayunya, karena “terbuang” dari Gerindra.
Kini, Gerindra, Andre dan NA sudah bersatu dan mulai menatap Pilgub Sumbar dengan optimistis yang kuat. Sepertinya, Indra Catri akan menambah kekuatan dengan massa Agam dan pengalamannya sebagai Bupati dua periode. Agam adalah Kabupaten dengan daftar pemilih tetap (DPT) terbesar setelah Kota Padang di Sumbar. Kalau empat elemen ini menyatu dan bergerak, tak mustahil Pilkada 2020 mereka menangkan.
Apalagi, calon yang seakan siap menghadang baru dari jalur independen, Fakhrizal-Genius Umar. Lainnya, PKS masih sibuk dengan urusan Mahyeldi-Audy (PKS-PPP) dan Riza Falepi-Febby Dt Bangso (PKS-PKB). Demokrat juga baru saja menyelesaikan Kongres dengan memastikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum. Tentunya sang marapulai Mulyadi harus menunggu angin kembali untuk langkah Pilgub.
PAN belum ada kabar pascamenangnya kembali Zulkifli Hasan sebagai ketua umum. Ketua DPW Ali Mukhni belum pasti menjadi calon Gubernur atau wakil Gubernur. Begitu juga Golkar yang telah menetapkan Khairunnas sebagai ketua DPD Golkar Sumbar yang kabarnya sekaligus jadi kandidat di Pilgub. Partai lainnya, masih menunggu langkah, mau mencalonkan, atau sekadar mendukung pasangan yang diusung partai lain.
Gerindra sendiri sebenarnya akan mengadakan pemilihan ketua umum lagi pada April atau Mei ini. Namun, hampir dipastikan Prabowo Subianto akan kembali menjadi ketum. Karena, sudah 34 provinsi yang menyatakan mendukung kembali Menteri Pertahanan sebagai ketua umum dan ketua dewan Pembina DPP Gerindra 2020-2-25. Jadi, bagaimana langkah Gerindra selanjutnya, kita saksikan saja beramai-ramai. (Wartawan Utama)





