POLIKATA

PKB mulai Beraksi

0
×

PKB mulai Beraksi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Reviandi

PARTAI Kebangkitan Bangsa (PKB) tiba-tiba “mengambil alih” isu Pilgub Sumbar selama dua pekan terakhir. Awalnya, partai yang didirikan KH Abdurrahman Wahib alias Gusdur ini seperti tidak terlalu berselera masuk dalam isu mencari pengganti Irwan Prayitno. Dengan satu hentakan, tiga kursi yang mereka miliki di DPRD Sumbar menjadi sangat seksi dan berkelas.

Ketua DPW PKB Sumbar Febby Dt Bangso memang menjadi titik sentral dalam kontestasi Pilkada Sumbar. Selain pada memainkan isu, dia juga pandai “manjuluak” dana-dana dari pusat. Kini, Datuk Febby terlihat pandai merangkul Gubernur Sumbar Irwan Prayitno yang juga kader utama PKS. Bersama Wako Payakumbuh Riza Falepi, kini Febby menjadi bakal calon wakil Gubernur dari koalisi PKS-PKB.

Riza-Febby, ibaratnya adalah nama baru yang muncul di tengah hegemoni tiga tokoh utama Pilgub Sumbar, Mulyadi Demokrat, Nasrul Abit Gerindra dan Mahyeldi dari partai yang sama – PKS. Meski dalam berbagai lembaga survei nama keduanya belum menyentuh level dua digit atau hanya di kisaran 2-5 persen, sepertinya tak membuat gentar. Pasangan Payakumbuh-Tanahdatar ini terus meraih simpati dan dukungan publik.

Febby bukanlah nama baru di belantara politik Sumbar. Dia cukup banyak menjadi aktor sejumlah kemenangan calon-calon di Pilkada se-Sumbar. Bahkan, Febby tak terhalang oleh faktor usia, generasi, latar belakang untuk menyatukan para politisi. Tak heran, saat ini dia merasa sudah bisa masuk dalam daftar calon wakil Gubernur mendampingi Riza Falepi. Bukan sekdar mengusung nama lain atau nama-nama orang yang minta diorbitkan.

Tak lama dari menerima surat persetujuan dari DPP PKB usai pertemuan Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Irwan Prayitno, Riza Falepi, Febby Dt Bangso dan lainnya, Febby langsung tancap gas. Dia mengadakan pertemuan “selevel” dengan Ketua DPW PKS Sumbar Irsyad Syafar dan pengurus DPW lainnya. Meski tak banyak yang bisa diungkap, namun itu adalah sinyal kalau koalisi PKS-PKB ini tak main-main.

Bahkan, mungkin Ketua DPW PPP Hariadi saja belum pernah bertemu dengan Irsyad Syafar membahas kelanjutkan rencana koalisi PKS-PPP yang mengusung Mahyeldi-Audy Joinaldi. Langkah Febby ternyata sudah mantap dan bisa saja akan merangkai langkah mendapatkan simpati masyarakat. Tentunya, gercep (gerak cepat), Febby akan sangat membantu Riza Falepi yang dikenal sangat ulet dalam mengatur

strategi. Keduanya dinilai saling melengkapi dan bisa mengambil alih 30 persen lebih masyarakat Sumbar yang disebut berbagai lembaga survei belum menyatakan pilihan. Serta 40 persen warga yang masih bisa mengubah pilihannya saat pencoblosan.

PKB sejatinya tidak mendapatkan tempat terlalu istimewa dari masyarakat Sumbar Hal itu terlihat dengan belum adanya anggota DPR RI dari partai bintang sembilan ini sejak Pemilu 1999. Di DPRD Sumbar pun, PKB juga masih di bawah standar dengan tiga kursi dari 8 daerah pemilihan (Dapil) yang ada. Di Kabupaten/Kota, partai ini juga belum bisa mengisi pucuk pimpinan dewan. Bahkan, banyak yang tidak memiliki satu kursi pun di Kota/Kabupaten.

Namun itu tak jadi soal, karena Febby dkk tetap beraksi untuk menjadi bagian terpenting dari pencalonan Pilgub Sumbar. Setidaknya, dengan beraninya PKB menampakkan muka sebagai calon Wagub, sudah menampar partai-partai lain yang masih malu-malu. Bahkan seakan tak punya malu tak mengirimkan kadernya untuk diapungkan sebagai calon Gubernur atau wakil Gubernur.

Sebelum Febby muncul, ada satu kader PKB yang sudah sangat percaya diri (PD) maju sebagai calon Gubernur/Wagub, yaitu Suherman. Bahkan, dia sudah merapat hampir di semua partai politik yang membuka pendaftaran. Tapi sayang, belum ada “panggilan” untuknya sebagai kandidat yang diusung partai sampai kemarin. Suherman juga mulai menghilang, balihonya mulai surut dan sosialisasinya tak masif lagi.

Timbul-tenggelamnya kader PKB ini menjadi catatan yang baik untuk partai yang sebetulnya lebih dominan di Jawa bagian ke timur ketimbang merata di Indonesia ini. Setidaknya, ada dua kadernya yang berani maju menantang dominasi tiga tokoh utama yang sering diulas. Bahkan, Febby berpeluang “mendepak” Mahyeldi andai restu DPTP PKS didapat Riza-Febby ketimbang Mahyeldi-Audy.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari gerakan heroik yang bisa saja membawa kader PKB menguasai panggung politik Sumbar di masa depan. Setidaknya mereka mau menyatakan, kalau partai ini punya sosok-sosok yang mumpuni dan hebat. Tidak hanya bertumpu pada tokoh-tokoh pusat atau orang hebat yang diberikan KTA (kartu tanda anggota) partai.

Karena, pemimpin yang datang dari masyarakat dan paham organisasi yang membawanya ke puncak kekuasaan adalah lebih baik daripada yang menjadikan partai hanya sebagai alat kekuasaan. Sudah waktunya para pengurus partai tak lagi hanya bercerita soal kemenangan, tapi lebih kepada pendewasaan kader, kalau mereka adalah aset penting parpol di masa depan. Partai yang tidak bisa dibeli oleh orang-orang kaya yang tak tahu apa-apa. Jangan sampai, mandat diberikan, saat menjabat tak bisa berbuat apa-apa, bahkan sekadar untuk sekretariat. Apalagi konon untuk rakyat. (Wartawan Utama)