PemerintaH Kota (Pemko) Padangpanjang, terus berupaya membentuk masyarakat literat melalui festival literasi di Lapangan GOR Bancah Laweh, Kelurahan Koto Panjang, Padangpanjang Timur, Kamis (12/3), menampilkan berbagai produk literasi dari sekolah dan kelurahan se Kota Padangpanjang. Sejumlah produk literasi seperti majalah, kerajinan, buku dan sejumlah hasil karya lainnya dipamerkan di stand yang diisi oleh sekolah dan taman baca masyarakat (TBM) di Lapangan Bancah Laweh.
Wali Kota Padangpanjang Fadly Amran mengatakan melalui Festival Literasi tersebut, pemerintah ingin membentuk masyarakat yang ingin belajar banyak hal sehingga kaya ilmu pengetahuan yang mampu diimplementasikan dalam wujud hasil karya dan prestasi. Dari semangat mau belajar itu, diharapkan dapat membantu meningkatkan taraf hidup. “Secara sederhana, literasi itu upaya untuk mengetahui, mengolah informasi sekaligus mampu mengelola hal hal baru yang bermanfaat. Terbentuknya masyarakat pembelajar, Fadly mengatakan ingin menguatkan daerah yang berjuluk “Serambi Mekah” itu sebagai kota berbudaya literasi.
“Julukan Padangpanjang sebagai kota pendidikan telah menjadi sebutan sejak dulu. Ada Diniyyah Putri, Thawalib, Kauman dan banyaknya pusat pendidikan di Padangpanjang. Pendidikanlah yang menjadi brand Padangpanjang dan aktivitas di bidang ini mesti hidup,” ujarnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Padangpanjang, Alvi Sena menambahkan Festival Literasi digelar sebagai bentuk apresiasi atas keaktifan masyarakat mendukung literasi. Sebagai salah satu Kota Literasi yang dicanangkan pemerintah pusat sejak tahun 2018 lalu, Padangpanjang terus bergerak dan mengenalkan literasi, pembinaan literasi berbasis inklusi sosial ke kelurahan dan sekolah. Dari hasil pembinaan tersebut, sudah tumbuh TBM atau pojok baca yang dikelola masyarakat dan perpustakaan sekolah sudah lebih aktif mendekatkan layanan pada para siswa.
“Festival ini sebagai apresiasi atas semangat menerapkan sosialisasi yang kami sampaikan. Peserta yang ada di stand juga bisa saling melihat dan bertukar informasi mengenai kegiatan literasi yang mereka laksanakan,” katanya.
Festival literasi, sebut Alvi Sena, digelar dalam bentuk kegiatan lain seperti lomba baca puisi, seminar dan bincang-bincang literasi dan lainnya. Kegiatan itu diharapkan memberi dampak menumbuhkan semangat warga setempat agar gemar membaca, berdiskusi dan menerapkan ilmu yang didapat dari aktivitas.
Sementara narasumber Literasi Nasional Wien Muldian, mengatakan literati bukanlah membaca dan menulis. Namun, literasi wujud dari ilmu pengetahuan pada prinsipnya meningkatkan kapasitas diri dan kaya wawasan.
Lebih lanjut Wien Muldian, menjelaskan gerakan literasi dilakukan melalui gemar membaca, mengolah informasi digital dan membangun informasi positif. “Jadilah pembelajar yang literat. Artinya,tidak hanya menjadi pembelajar sepanjang hayat namun juga berguna bagi orang lain,” sebutnya. Gerakan literasi merupakan upaya menciptakan generasi yang mampu menyongsong masa depan agar tidak menjadi penonton keberhasilan atas keahlian orang lain. “Mengembangkan kapasitas diri, bukan hanya melalui workshop, seminar atau pembinaan dan pelatihan semata. Pengembangan diri melalui gerakan literasi yang literat. Kita dituntut menciptakan capaian baru sebagai sebuah prestasi,” tegasnya. (rmd)





