POLIKATA

Anak Emas IP

0
×

Anak Emas IP

Sebarkan artikel ini

Oleh : Reviandi

BERKALI-kali Gubernur Sumbar Irwan Prayitno (IP) menyebut kepada media, tak ada yang menjadi “anak emasnya” di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar. Hal itu tentu mengacu kepada “dualisme” bakal calon Gubernur asal partainya, PKS. Masih berkutat antara Wali Kota Padang Mahyeldi dengan Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi.

Kalau ditilik lebih dalam, sebenarnya tak ada yang salah dengan PKS memiliki dua petarung. Sebaliknya, ini adalah sebuah kebanggaan, karena memiliki kader-kader yang dianggap layak memimpin “Ranah Minang” ke depan. Apalagi, banyak partai yang bahkan sudah hadir sejak Orde Baru tak memiliki kader asli untuk dimajukan dalam kontestasi. Bahkan ada yang dadakan  “mengangkat” kader untuk maju.

Sampai akhir Februari kemarin, kedua kandidat partai dakwah ini belum ada yang mau mengalah, karena PKS masih galau memutuskan. Acara DPP PKS di Jawa Barat akhir bulan ini juga belum memutuskan apa-apa soal siapa yang akan dimajukan. Jadilah yang terlihat di lapangan, antara “kubu” Mahyeldi berebut simpati dengan “kubu” Riza Falepi.

Pekan lalu, ada dua momen yang membuat persaingan ini menganga ke publik, terkait dengan rencana koalisi PKS dengan PPP dan PKB. Secara matematika, PKS dengan 10 kursinya memang hanya butuh tiga kursi tambahan lagi untuk mengusung calon. PPP punya empat dan PKB memiliki tiga. Dengan warna dan kedekatan dua partai itu dengan Islam, memang sangat cocok disandingkan dengan PKS yang kental nuansa dakwahnya. Tapi, semua tak berjalan mulus, karena yang tampak ke publik sesuatu yang berbeda.

Selasa 25 Februari 2020 malam, publik dihebohkan dengan Mahyeldi dan Audy Joinaldy yang disebut mengikuti fit and proper test di DPP PPP. Bahkan, Ketua DPW PPP Sumbar, Hariadi BE mengatakan, Mahyeldi dan Audy diterima Tim Desk Pilkada seluruh Indonesia DPP PPP untuk mengikuti mekanisme di DPP PPP. Tak ayal, pertemuan itu meyakinkan publik, kalau Mahyeldi adalah calon PKS yang akan menggandeng anak muda dari PPP Audy.

Sehari setelahnya, kabar lain berhembus dari DPP PKB yang memberikan sinyal dukungan terhadap Riza Fahlepi untuk maju sebagai calon Gubernur Sumbar. Riza didampingi Irwan Prayitno malah sudah bertemu Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di Rumah Dinas Widya Chandra, Jakarta, Rabu (26/2) malam. Juga hadir Sekretaris DPW PKS Sumbar Gustami Hidayat, anggota DPRD Sumbar Fraksi PKS Rinaldi dan Rahmat Saleh, serta tim pemenangan Riza, Candra.

Dari dua pertemuan ini, banyak yang tersentak kalau Irwan Prayitno tak memiliki anak emas itu hanya cerita lama yang sudah ditutup aksi nyata. Karena, IP langsung yang mendatangi Cak Imin dan menyatakan Riza adalah calon Gubernur dari PKS. Pertemuan malam itu juga membuka peluang bagi Ketua DPW PKB Febby Dt Bangso dilirik sebagai calon wakil Gubernur. Pasangan Riza-Febby dianggap pasangan yang cocok untuk bertarung di Pilgub 23 September 2020.

Apakah dengan terbukanya kemana arah dukungan IP itu mengubah peta persaingan Mahyeldi-Riza, ternyata tidak. Keduanya malah semakin bersemangat untuk mendapatkan restu partai. Mereka juga sudah menyatakan hanya maju jika diusung PKS. Artinya, tidak ada tradisi loncat partai dari dua kader utama ini. Mungkin, dalam dua atau tiga minggu ke depan, keduanya masih berlabel bakal calon Gubernur dari PKS.

Seperti biasa, “rebutan” dua Wako di Sumbar ini amat menarik bagi para pengamat atau pemain politik. Ada yang menyebut Mahyeldi terlalu kuat untuk Riza, tak sedikit yang mengatakan Riza lebih pantas menjadi Gubenur. Karena keduanya sebenarnya dianggap sangat berhasil memimpin kota masing-masing. Mereka juga sedang menjalani periode kedua dalam kepemimpinan di Kota Padang dan Payakumbuh.

Kembali ke Pak Gub IP yang kemarin mengaku tak menjagokan siapa-siapa dari keduanya. Katanya, Mahyeldi bagus, tapi baru saja dilantik sebagai Wali Kota Padang periode kedua. Riza Falepi bagus dan akan mengakhiri jabatan sebagai Wako Payakumbuh. Sebenarnya jawaban ini sudah punya arah dan jelas siapa yang mendapat hati IP. Tapi, hal itu masih dianggap wajar, sampai pertemuan Riza, IP dan Cak Imin serta Febby mengemuka ke publik.

Dari segi elektabilitas dalam survei-survei yang beredar di publik atau disimpan di HP pengurus partai di Sumbar, sebenarnya PKS tak perlu gusar dalam menentukan sikap. Rating Mahyeldi jauh lebih tinggi dari Riza. Mahyeldi dianggap berada di level persaingan calon Gubernur papan atas, Mulyadi Demokrat dan Nasrul Abit Gerindra. Ketiga nama ini saling berpacu di berbagai lembaga survei, tapi Mahyeldi kerap di posisi atas.

Berbeda dengan Riza Falepi yang bahkan namanya belum muncul dalam survei-survei Desember 2019. Mungkin, saat itu Riza belum memastikan akan maju atau tidak dalam Pilgub. Riza pernah mengakui, motivasi dari IP adalah salah satu yang membuatnya ingin bersaing di 2020. Bukan mengakhiri masa jabatan keduanya sebagai Wako Payakumbuh 2022 mendatang. Artinya, kalau benar menang dan dilantik pun, Riza juga akan “bolos” dari posisi Wako Payakumbuh sekitar 1 tahun.

Meski di survei Januari-Februari nama Riza sudah masuk, tapi posisinya masih di papan bawah. Riza masih disejajarkan dengan nama-nama yang dianggap layak menjadi wakil Gubernur seperti Ali Mukhni, Shadiq Pasadigoe, Syamsu Rahim, Zul Elfian dan lainnya. Tapi, namanya masih lebih tinggi dari bakal calon pasangan Mahyeldi, Audy Joinaldy dan jagoan PKB Febby Dt Bangso. Mungkin ini pekerjaan berat bagi tim Riza dibantu IP untuk mengejar elektabilitas jelang pendaftaran calon Juni mendatang. Masih ada waktu, tapi harus dengan energi dan dana yang cukup besar.

Ada juga yang menilai, “konflik” Mahyeldi cs Riza/IP ini adalah gimik atau sandiwara semata. Karena ketiganya adalah orang satu rumpun yang kerap bekerja bersama. Apalagi IP dan Mahyeldi seperti guru dan murid. Setidaknya yang terbaca dari caption di media sosial Mahyeldi saat berfoto dengan IP. Kalau benar ini cuma cara PKS untuk menunjukkan power mereka, maka sejatinya ini sudah berhasil. Karena sudah ada yang berkomentar, semakin terbuka kalau memang ada dua faksi di PKS, faksi keadilan dan faksi sejahtera. Entah siapa yang di faksi pertama dan kedua.

Mungkin juga, hal ini adalah cara PKS mengganggu calon koalisi “segajah” mereka yang kini sedang renggang-renggang tanggung, Gerindra. Ada pemahaman bersama “netijen” koalisi ini akan berlanjut di Pilgub Sumbar. Andai PKS nomor satu, maka Mahyeldi maju. Tapi kalau Gerindra nomor satu, maka Nasrul Abit akan menggandeng Riza Falepi sebagai wakilnya. Tapi, hal ini sudah jauh hari dibantah Riza, yang mengaku hanya maju untuk nomor satu. Bukan ban serap.

Sebenarnya, hal-hal seperti inilah yang membuat Pilgub lebih menarik. Karena, akan melihatkan emosi banyak orang, siapa yang akan maju, menang atau kalah. Apakah gaya-gaya menjadi korban (playing victim) masih laku di Pilkada serentak ini atau tidak, kita lihat saja. Yang penting, partisipasi pemilih harus lebih tinggi dan tinggi. Karena masih menjadi ukuran suksesnya kontestasi politik. (Wartawan Utama)