PADANG, METRO
Tiga legislator Kota Padang dilewakan menjadi guru tuo Silek Pauh menyusul dikilekan pedangnya dalam Urak Balabek di medan bapaneh Kantor KAN Pauh IX Kuranji Kota Padang, Sabtu malam (29/2). Ketiga anggota dewan tersebut Mastilizal Aye Rj Intan, Zulhardi Z Latif Rj Bungus dan Zalmadi Malin Basa.
Ketiga anak Anak Nagari Pauh IX ini dilewakan menjadi guru tuo, dikilek an padangnya oleh guru gadang tapian mereka masing masing. Bahkan, dihadiri pemangku adat sukunya.
Aye Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Padang Mastilizal Aye dilewakan sebagai Guru Tuo Silek Pauh dari Tapian Koto Nan Baduo Kalumbuk. Ia dikilekan pedangnya oleh guru gadang tapian Kalumbuk Zulmi dihadiri Rangtua Koto Nan Baduo dan cadiek pandai Koto Nan Baduo Zul Akmal Naro Rj Jambi.
Sedangkan, Zulhardi Z Latif Rj Bungsu dikilekan pedangnya oleh Guru Gadang Tapian Jambak Nan Batujuh Kuranji, yang dihadiri Pangalunya Irwan Basir Dt Rajo Alam,yang sekaligus Ketua MPA KAN Pauh IX.
Kemudian menyusul, politisi dari partai berkarya Zalmadi Malin Basa dikilekan pedangnya oleh guru gadang dari Tapian Jambak Nan Baduo Gunung Sarik. Setelah dilewakan menjadi guru tuo silek Pauh, ketiga politisi dari Nagari Pauh IX sudah disirahkan sirihnya dan dikuniangan bak kuniek. Karena mereka telah mengisi adatnya dan dituang limbagonya.
Ketua pelaksana Urak Balabek Pauh IX Kuranji Kota Padang Erman Jamal mengatakan, urak Balabek ini merupakan tradisi dan budaya prosesi mengangkat guru silat Pauh di sembilan tapian yang ada di Kanagarian Pauh IX Kuranji. “ Prosesi melewakan jadi guru tuo ini melalui proses yang sakral bagi pesilat dengan mengilekan pedangnya oleh guru gadang dari tapian mereka masing masing. Prosesi ini bagian dari sebagai anak lelaki di Ranah Minang khususnya di Nagari Pauh IX yang belajar beladiri tradisi pencak silat pauh,” ujar Erman.
Dikatakan Erman, mengilekan pedang disambut baik Pemko Padang, ninik mamak pandeka dan penghulu tapian dengan disaksikan oleh ninik mamak sehamparan di Medan Bapaneh tersebut. Di sisi zahirnya belajar silat itu merupakan mencari kawan, sedangkan di batinya mencari Tuhan (Allah SWT). Kegiatan, merupakan bagian implementasi adat basandi syarak-syarak basandi Kitabbullag (ABS-SBK).
Usai dikilek an sebagai guru Tuo ketiga anggota dewan ini mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai bentuk menjaga dan pewarisan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai kearifan local agar tidak digerus zaman.
Ia meminta Pemko Padang menjadikan Urak Balabek tersebut sebagai iven wisata tahunan yang pelaksanaanya digilirkan per nagari atau kecamatan di Kota Padang.”Kita minta Pemko Padang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang menjadikan kegiatan Urak Balabek ini sebagai iven wisata tahunan, sehingga mengundang daya tarik wisatawan. Tentu acaranya harus dikemas sebaik mungkin,” ungkapnya.
Jika sudah menjadi iven wisata tahun, maka akan mendatangkan wisatawan, baik lokal, nasional maupun internasional. “Tentu dikemas tak hanya diikuti atau pesertanya dari satu nagari saja di Kota Padang, tetapi seluruh nagari yang ada di Kota Padang dan menghadirkan dari nagari lainnya di Sumbar,” ujar Erman.
Pengamat dan Praktisi Budaya dan Adat Pauh Siampek Baleh Zulakmal Naro Rj Jambi mengatakan, sejarah Urak Balabek diawali saat Pauh Siampek Baleh di ujung tanduk sekitar tahun 1877 silam. “Di mana terjadi pemekaran Pauh menjadi Pauh IX dan Pauh V,” ujar Naro yang juga Cadiak Pandai Pangulu Koto Nan Baduo Tapian Kalumbuk Nagari Pauh IX.
Kata Naro, maka ditunjuklah tapian masing-masing Jambak Batujuh, 7 di Kuranji, Caniago di Koronggadang, Koto Batujuh di Pasar Ambacang, Sikumbang di Aanduring, Malayu di Lubuklintah, Tanjung di Ampang, Koto nan Baduo di Kalumbuk, Jambak Baduo di Gunung Sarik dan Guci Sungaisapih, Maka begitu juga di Pauh V, yang terdiri dari 5 suku dan 5 tapian. Di mana disusunlah urang 4 jinih dan ninikmamak bajinih masing-masing suku. Setelah itu baru dibentuk Tuo Tapian, berawal dari sanalah maka untuk menunjuk Tuo Tapian perlu seleksi di antara para Pandeka di suku masing-masing. Pada tapian masing-masing yang ada di sasaran tadi tumbuh pemikiran di waktu itu yang dinamakan Urak Balabek yang diseleksi dr guru Tuo. Kemudian guru gadang terus Kako Pandeka dan Ninik mamak, Maka dari pandeka yang merupakan guru tuo itu diseleksi tersebut diapatkan Tuo tapian. Tuo tapian yaitu pimpinan tapian yang bertugas untuk memimpin tapian sekaligus penunjang tugas ninik mamak bajinih di suku masing-masing di tapian. (boy)





