SOLOK/SOLSEL

Diskusi Forum Minang Maimbau (FMM), Solusi Menjawab Persoalan Sumbar ke Depan

0
×

Diskusi Forum Minang Maimbau (FMM), Solusi Menjawab Persoalan Sumbar ke Depan

Sebarkan artikel ini

SOLOK, METRO
Mengupas berbagai persoalan hingga apa yang menjadi harapan Sumnbar ke depan, begitu hangat dalam diskusi yang digelar Forum Minang Maimbau (FMM) di villa di kawasan Danau Diatas, Kabupaten Solok, Minggu (23/2). Dalam forum diskusi tersebut sejumlah tokoh nasional Minangkabau tampak hadir. Pendapat dan pemikiran para tokoh tersebut memang diharapkan mampu memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi untuk kemajuan Sumbar ke depan.

Admin FMM, Firdaus HB, mengatakan, kehadiran FMM ini memang diharapkan dapat memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi daerah Sumbar. Dalam forum ini, tokoh tokoh yang memiliki potensi diharapkan memberikan pemikiran mereka untuk menyelesaikan dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi daerah Sumbar.

Seperti dalam diskusi yang dipandu Prof Fasli Jalal,  tokoh tokoh Minangkabau seperti Fahmi Idris, Andrinov Chaniago, Benny Wendry, Chairul Umaiya, Darul Siska, memberikan pandangannya atas kondisi Sumbar belakangan ini. Bahkan Prof Ganefri, Ginta Wiryasenjaya, Guspardi Gaus, Prof Helmi, Joni, Buya Mas’oed Abidin, juga menelaah persoalan yang ada di Sumbar yang butuh penyelesaiannya.

Dalam diskusi itu juga hadir Nofrins Napilus, Norman Zainal, Siti Fatimah, Rafik Perkasa Alam, Surya Triharto, Siti Fatimah, Zairin Kasim, Wako Solok Zul Elfian dan Walikota Padangpanjang Fadli.

Dalam pemikiran sejumlah tokoh, karakter masyarakat perlu menjadi perhatian serius. Krisis karakter yang terjadi ditengah tengah masyarakat seperti diungkapkan Fahmi Idris, Maso’ed Abidin, Andrinov Chaniago, Norman Zainal, Siti Fatimah, menjadi persoalan yang bisa saja menjadi akar dari persoalan yang ada.

Memang tidak dapat dipungkiri, belakangan berbagai kejadian yang memalukan terjadi di Sumbar, seperti kasus penggelapan dana infak masjid. Sehingga para tokoh ini menilai persoalan yang dihadapi Sumbar sudah dalam fase kritis.

Seperti diungkapkan Buya Maso’ed Abidin, persoalan Sumbar sudah berada dalam fase kritis, baik di daerah maupun tingkat nasional. Berbagai kejadian di daerah membuat banyak pihak prihatin. Sedangkan di tingkat nasional kiprah orang orang minang juga memudar. Diakui Guspardi Gaus, semenjak reformasi bergulir, Sumbar tertinggal dalam banyak hal. Dan ini seharusnya disadari semua pihak untuk mencarikan jalan keluar agar Sumbar mampu kembali bangkit. (vko)