METRO SUMBAR

Bundo di Pusaran Pilgub

0
×

Bundo di Pusaran Pilgub

Sebarkan artikel ini

Oleh: Reviandi

HANYA satu perempuan yang berani “unjuk gigi” di Pilgub Sumbar 2020. Hal ini seakan membuktikan, kalau bundo kandung masih ragu-ragu atau gamang maju dalam kontestasi politik daerah lima tahunan. Dilihat dari baliho yang bertebaran di seantero Sumbar, hanya Edriana yang terlihat berani menyatakan siap membangun Sumbar.

Aktivis perempuan itu seperti masih penasaran dengan “kegagalannya” di Pileg 2019 lalu. Sangat intens berkampanye, Edriana bisa dikatakan cukup berhasil mendapatkan suara. Setidaknya, dia menduduki posisi 4 dari 8 Caleg yang bersaing di Partai Gerindra Dapil Sumbar 1.

Sebagai pendatang baru, dia mengumpulkan 35.146 suara dari 11 Kabupaten/Kota yang ada. Tertinggal sedikit dari Afrizon Nazar Uncu (35.256), Suir Syam (51.556) dan Andre Rosiade (13.994). Terlepas dari booming Partai Gerindra, Edriana begitu intens bergerak selama masa kampanye. Bahkan, timnya juga sudah dibuat begitu kuat.

Kini, di belantara Pilgub Sumbar yang didominasi kaum adam, alumni SMA 2 Padang itu menjadi cantik sendiri. Sejumlah pertemuan juga telah dilakukannya, dan alat pengenalan bertebaran di mana-mana. Dengan bekal 35 ribu suara, setidaknya Edriana punya nilai tawar tersendiri. Karena, tak banyak caleg 2019 yang berani bertarung kembali di Pilgub, kecuali Shadiq Pasadigoe yang juga memiliki suara relatif sama dari PAN.

Namun, saat Rakerda/Rakorda Gerindra Sumbar di Padang akhir pekan lalu, nama Edriana kurang mengapung. Terhimpit dari superiornya kader lelaki Nasrul Abit yang oleh Sekjen Gerindra Ahmad Muzani sebagai kader terbaik dan berpeluang diusung. Bagi Edriana, seperti tak masalah, karena beberapa hari terakhir dia telah memperbarui seluruh balihonya dengan warna merah lebih menyala. Lebih Gerindra mungkin.

Dari nama-nama calon yang mendaftar ke Gerindra, hanya Edriana satu-satunya perempuan. Sebagai kader, dia cukup menghargai partainya, karena hanya merapat ke Gerindra. Saat pembacaan visi dan misi, dia begitu serius dan memiliki kecakapan dalam ide, berbicara dan menjabarkannya. Kalau saingan tak terlalu berat, mungkin saja Gerindra akan langsung menetapkannya.

Sebagai perempuan satu-satunya, harusnya Edriana menjadi bintang paling cemerlang. Sayang, kesendirian itu belum membuat masyarakat teryakinkan. Hal tersebut kalau melihat hasil survei beberapa lembaga yang merelis atau hanya dari layar HP ke layar HP saja. Mungkin, lebih realistis rasanya, Edriana membidik calon Wakil Gubernur. Karena, dia kader partai pemilik 14 kursi di DPRD Sumbar, tak harus berkoalisi mengusung calon.

Kalau setuju jadi wakil, Edriana bisa saja berpasangan dengan Nasrul Abit, meski punya label Gerindra-Gerindra. Namun, pasangan ini setidaknya bisa diujicobakan ke publik terlebih dahulu. Basis suaranya cukup berbeda, NA di Pessel, dan Edriana dari Tanahdatar. Pasangan ini, mungkin saja bisa jadi alternatif, daripada Gerindra membangun koalisi.

Atau, pilihan lain menjadi wakilnya jagoan Demokrat, Mulyadi yang berasal dari Agam. Setidaknya, kedua nama ini cukup sering dipasangkan dalam isu politik lokal, saat ada wacana koalisi Demokrat-Gerindra. Ketika desas-desus “keretakan” koalisi “segajah’ Gerindra dan PKS. Saat para jagoan partai tak ada yang mau turun level sebagai wakil.

Belum sampai di sana, koalisi Gerindra-PKS juga masih bisa dipatuik-patuik saat penetapan calon Wakil Gubernur DK Jakarta beberapa waktu ke depan. Kalau kursi panas yang ditinggalkan Sandiaga Uno maju ke Pilpres itu untuk PKS (Nurmansyah Lubis), ada harapan koalisi partai bersambung di Sumbar. Kalau ke Ahmad Riza Patria (Gerindra), harapan menjadikan pasangan Mahyeldi/Riza Falepi-Edriana semakin jauh.

Kini, Edriana harus tetap konsisten dalam menunjukkan bundo kanduang bukan alergi berpolitik, dan tetap mendapat tempat di hati masyarakat. Kalau memang tak terlalu memungkinkan di Pilgub, rasanya tak perlu sungkan mencoba di Pilbup Tanahdatar. Seperti langkah yang diambil oleh Ketua DPW PSI Sumbar Faldo Maldini yang sekarang maju di Pessel.

Sebenarnya, ada bundo kanduang lain yang awalnya disebut bisa maju di Pilgub. Wanita yang perolehan suaranya mencapai 531.104. Angka itu jauh mengalahkan Capres-Cawapres 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Sumbar yang hanya mendapatkan 407.761 suara. Dia adalah Emma Yohanna, yang kini di periode ketiganya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPD) RI asal Sumbar.

Sayangnya, nama istri politisi PPP Hariadi ini tak lagi menggaung, dan jauh tenggelam dari hiruk pikuknya penetapan calon. Andai maju dan bisa memertahankan suara itu, Emma tak mustahil jadi Gubernur atau Wakil Gubernur. Toh Iwan Prayitno–Nasrul Abit (IP-NA) pada Pilgub 2015 hanya mengumpulkan suara 1.175.858 (58,62 persen). Hanya dua kali lipat suara Emma.

Sekarang, kalaupun dibawa ke Pilkada Kabupaten/Kota, juga belum nampak calon perempuan. Hal ini tentu menjadi catatan bagi semua elemen, apalagi tokoh-tokoh perempuan, apa betul masalahnya? Padahal, Indonesia telah punya Presiden peretempuan Megawati Soekarnoputri dan sejumlah Gubernur perempuan seperti Gubernur Banten Ratu Atut. Bupati/Wali Kota juga sudah banyak. Tapi di Sumbar, jangankan terpilih, maju saja susah. (wartawan utama)