BYPASS,METRO – Sejak jalur Bypass selesai dibangun, tiang-tiang lampu penerangan jalan umum (PJU) sudah lama berdiri di sepanjang ruas jalan itu. Namun, sampai sekarang pada malam hari kawasan tersebut menyeramkan, karena PJU tidak hidup secara merata.
Banyak hal yang dikhawatirkan menjadi ancaman bila melintasi ruas jalan Bypass pada malam hari bila lampu-lampu di sepanjang ruas jalan tersebut belum juga hidup normal. Selain rawan kecelakaan juga ancaman rawan tindak kejahatan kriminal.
Seperi diketahui, kendaraan yang melintas di jalur Bypass kecepatannya lebih tinggi dibandingkan jalur lain. Karena itu, kerap terjadi kecelakaan di sepanjang ruas jalan Bypass karena kurangnya penerangan.
Kemudian, jalur Bypass merupakan jalur yang banyak dilalui kendaraan di atas roda empat. Truk pengangkut material tambang serta cangkang yang tidak safety membawa angkutannya terkadang menjadi ancaman bagi pengendara lain. Sering ditemukan cangkang berserak di sepanjang jalan. Ini akan menjadi ancaman bagi kendaraan lain jika penerangan di kawasan itu belum juga diperbaiki.
Firman, salah satu warga yang tinggal di jalur Bypass Km 20 mengatakan, meski tiang-tiang PJU sudah lama terpasang, tapi sampai saat ini belum pernah lampu lampu tersebut hidup secara menyeluh.
“Nampaknya yang hidup hanya di kawasan-kawasan tertentu saja,” ungkap Firman, bercerita kepada POSMETRO, Rabu (27/11) malam.
Seperti di kawasan Anakaia. Firman mengaku, jarang sekali PJU hidup pada malam hari. Sehingga kawasan tersebut sangat gelap dan rawan bila dilewati di atas pukul 00.00 WIB. “Kalau sudah tengah malam kawasan itu sangat sepi sekali. Mengerikan, karena PJU tak hidup,” tukas Firman.
Biasanya, lanjutnya, PJU mulai hidup dari kawasan SPBU Tanjung Aua hingga ke simpang Bypass-Lubuk Minturun. Kemudian, dari simpang Lubuk Minturun sampai jelang RS Siti Rahmah, mati lagi.
Kemudian dari RS Siti Rahmah hingga ke kantor Walikota Padang hidup lagi. Selanjutnya, dari simpang Siteba lampu mati lagi, kemudian hidup lagi. Seterusnya, penggalan-penggalan PJU hidup dan mati ditemukan hingga mengarah ke Bypass-Lubukbegalung.
Lain lagi yang diceritakan Indra (27), pengendara yang biasa melewati ruas Bypass pada malam hari sehabis pulang kerja. Biasanya dia lewat di atas pukul 23.00 WIB.
Dari pengakuan Indra, sebenarnya dia sangat bersyukur Bypass itu diperlebar dan menjadi dua jalur. Selain mempercepat jarak tempuh, lebih rerasa nyaman karena sudah dua jalur dan sangat lebar.
Namun yang masih menjadi persoalan dan juga menjadi keluhan pengendara dan warga setempat tidak semuanya penerangan disepanjang ruas jalan itu hidup. Sehingga di beberapa titik sangat gelap dan cukup rawan.
“Khusus di lokasi yang gelap, bila melintasi di tengah malam, saya tidak berani memperlambat laju sepeda motor. Kalau tidak ada kawan, biasanya tengah malam saya lewat, laju sepeda motor saya pacu. Takut ada begal, seperti berita-berita yang marak saat ini,” ungkap karyawan swasta ini.
Yang labih menakutkan lagi, kata Indra, tumpahan cangkang yang berserak di badan jalan tak terlihat karena gelap. Kalau tak hati hati bisa kecelakaan karena licin. Dia berharap pemerintah bisa menghidupkan penerangan secara menyeluruh di sepanjang Bypass, sehingga masyarakat yang melewatinya pada malam hari lebih merasa aman dan nyaman. (hsb)





