BERITA UTAMA

Asap Emisi Kendaraan Picu Penyakit Kanker, Dinkes Sumbar: Gunakan BBM Berkualitas Ramah Lingkungan

0
×

Asap Emisi Kendaraan Picu Penyakit Kanker, Dinkes Sumbar: Gunakan BBM Berkualitas Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Asap emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor semakin mengkhawatirkan, lantaran membuat kualitas kesehatan udara semakin menurun. Jika udara yang dihirup tidak lagi sehat, tentunya juga berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan bahkan terancam terkena kanker paru-paru dan kanker darah.
Di Indonesia menurut laporan International Energy Agency (IEA) kontributor terbesar emisi karbon dunia yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim adalah dari konsumsi energi fosil. Sekitar 70 persen dari emisi karbon tersebut adalah dari konsumsi energi fosil seperti BBM solar dan BBM jenis premiun.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Merry Yuliesday mengatakan, dampak dari emisi karbon yang dihasilkan dari konsumsi energi fosil seperti solar, premiun, batu bara dan gas bumi sangat berdampak buruk bagi kesehatan. Dampaknya bisa saja didapati oleh semua kalangan, baik orang dewasa hingga anak-anak.
“Kita bicara soal bahan bakar minyak (BBM), semua hasil dari pembakaran kendaraan itu harus ada yang memonitor kadar gas EO (Etilen Oksida) yang di keluarkan dari knalpot yaitu karbon monoksida. Semakin buruk kualitas BBM yang digunakan pada kendaraan, tentu semakin buruk asap emisi yang dikeluarkan dari kendaraan,” kata Merry.
Semakin meningkatnya asap emisi kendaraan, menutut Merry akan berdampak buruk kepada kesehatan masyarakat. Artinya, kondisi udara yang dihirup oleh masyarakat tidak lagi baik untuk kesehatan dan bahkan lama-kelamaan, akan sangat rentan keracunan hingga terkena kanker. Apalagi, seperti yang diketahui, dari tahun ke tahun jumlah kendaraan meningkat dan kualitas udara semakin buruk.
“Dinas Kesehatan memang belum secara keras mengawasi dampak dari gas EO tersebut untuk wilayah Sumatera Barat. Kita melihat masih banyak kendaraan umum yang mengeluarkan asap dari knalpot bewarna hitam. Itu secara terus-menerus akan berdampak buruk seperti kanker paru-paru, kanker darah, siapa saja bisa terkena, tergantung paparannya berapa lama,” ujar Merry.
Selain itu, Merry menjelaskan, untuk mengurangi mengantisipasi semakin meningkatnya asap emisi kendaraan, salah satunya dengan tidak lagi menggunakan BBM yang berkualitas rendah. Misalnya, seperti BBM jenis premiun yang memiliki kadar oktan 88 yang tentunya dibawah standar emisi Euro 4 yang sudah diberlakukan di Indonesia.
“Yang direkomendasikan saat ini kan menggunakan Pertalite dengan RON 90, Pertamax dengan RON 92, dan Pertamax Turbo RON 98. Kadar oktan 88 pada Premium sangat rendah dibandingkan BBM lainnya. Hal tersebut pasti membuat emisi karbon yang dikeluarkan dari kendaraan sangat buruk bagi kesehatan udara dan pasti akan menjadi penyumbang polusi udara jika terus-terusan digunakan,” jelas Merry.
Merry menegaskan, asap emisi yang dikelaurkan dari kendaraan, tergantung hasil pembakaran BBM yang digunakan. Jika menggunakan BBM di atas standar dengan oktan yang lebih tinggi, maka semakin sedikit asap emisi, namun jika di bawah standar, akan semakin tinggi asap emisi yang dikeluarkan kendaraan.
“Kalau memang BBM premium berada dibawah standar berarti penggunaannya sudah seharusnya dibatasi karena kadar oktannya paling rendah dengan kualitas yang buruk. Apalagi, RON 88 sudah tidak ada digunakan di negara lain, dan cuma di Indonesia yang masih ada,” ungkap Merry.
Emisi Buangan Kendaraan Harus Jadi Perhatian
Sementara itu, menurut Dokter Mela Aryati, Kepala Puskesmas Andalas mengatakan, polusi udara yang disumbangkan asap emisi kendaraan tersebut akan berdampak buruk dan harusnya menjadi perhatian bagi masyarakat untuk sama-sama mencegahnya.
“Emisi buangan zat kendaraan adalah sesuatu yang harus jadi perhatian bersama. Akibat yang akan ditimbulkan bagi kesehatan antara lain gangguan pernafasan, iritasi mata. Jangka panjangnya, bisa terkena penyakit kanker,” ujarnya.
Dokter Mela menjelaskan, masyarakat harus pandai memilah mana BBM yang baik digunakan untuk kendaraan, semakin berkualitas BBM yang digunakan tentu akan semakin ramah lingkungan. Jika BBM yang digunakan tidak berkualitas, akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Ia pun berpesan agar meminimalisir paparan polusi dengan memakai masker atau helm sesuai standar. Bagi pemilik kendaraan agar berkala melakukan uji emisi sehingga lingkungan akan tetap terjaga.
“Kita hidup berada dikawasan emisi karbon tersebut, jadi untuk membuat semua bisa diatasi dengan baik, harusnya masyarakat harus memikirkan juga dalam waktu jangka panjang bagi kesehatan. BBM Premium sudah harusnya ditinggalkan meski harganya murah, karena bisa menimbulkan polusi. Pilihlah BBM yang berkualitas agar ramah lingkungan,” pungkasnya. (rgr)