Kebakaran hebat di Jalan Ujung Pandan, Padang Barat, Kota Padang yang menghanguskan dua pelayan Plaza Andalas.
PADANG, METRO–Sebelum si jago merah merenggut nyawa Rani Anggela (23) rumah kosnya, Kamis (11/3) dinihari, anak sulung dari empat bersaudara warga Koto Tangah, Lubuk Sikaping, Pasaman Timur itu sempat disuruh pindah kos oleh orang tuanya dari Jalan Ujung Pandan No 164 G, Kelurahan Olo, Kecamatan Padang Barat.
Adi kandung Rani, Syolfi Hendri saat dijumpai di RS Bhayangkara Polda Sumbar mengatakan, orang tua mereka telah meminta kakak tertuanya itu untuk fokus pada wisuda dan meninggalkan pekerjaannya di toko peralatan jahit di Plaza Andalas (PA).
”Uni sekarang sudah semester VIII di STKIP PGRI dan mau wisuda. Ayah sudah suruh uni pindah kos, tapi ia menolak karena ingin mencari biaya wisuda,” katanya.
Rani, anak dari pasangan Ilham (45) dan Asnibar (43) ini merupakan sosok periang. Menurut Syolfi, Rani terakhir kali pulang ke kampung sekitar satu bulan lalu. “Uni terakhir pulang satu bulan yang lalu saat saya sakit dan renacananya akan pulang lagi kalau sudah wisuda,” ungkapnya.
Menurutnya, Rani sudah bekerja selama satu tahun di Plaza Andalas, dari hasil keringatnya ia bisa membiayai hidup selama di Padang. Jenazah mahasiswi Sosiologi STKIP PGRI Padang ini rencananya akan dimakamkan di kampung halaman, saat ini petugas forensik masih melakukan proses otopsi di RS Bhayangkara.
Selain merenggut nyawa Rani Angela, api juga merenggut nyawa penghuni kos lainnya, Mitra Yeni. Anak bungsu dari empat bersaudara warga Surian, Pantai Cermin, Solok Selatan itu sempat membeli baju baru dengan jumlah yang cukup banyak. Hal itu diketahui dari salah seorang rekan kerja Mitra, Bobi.
Sehari sebelum peristiwa nahas itu Mitra baru saja menerima gaji dari Toko Raihan, Plaza Andalas tempat ia bekerja. “Toko saya dengan toko Mitra bekerja bersebelahan, sehari sebelum kejadian itu saya lihat ia banyak membeli pakaian baru,” kata Bobi, saat ditemui di RS Bhayangkara.
Selain membeli baju, sebut Bobi, Mitra juga mendapat jatah libur dari Toko Raihan itu. Saat ditanyai rencana liburan, Mitra seakan mengucapkan kalimat terakhirnya.
”Dia bilang pada saya kalau besok (hari ini) mau tiduran di kos saja, tidak ada rencana. Biasanya saat libur kerja ia pulang kampung. Entah kenapa kali ini ia ingin tidur di kos saja,” ungkap Bobi.
Selain itu, kenang Bobi, satu pekan sebelum Mitra meninggal dunia akibat kebakaran kos-kosannya itu dinihari tadi, alumni SMA 1 Pantai Cermin, Solok Selatan itu tampak riang. Menurut Bobi, Mitra punya tingkah yang tidak biasa saat itu.
”Mitra tampak bahagia dan riang sekali satu pekan ini, tingkahnya berbeda dari biasanya. Ternyata ini firasat yang ia tinggalkan,” ucap Bobi.
Sebelumnya diketahui, Mitra merupakan salah satu korban tewas akibat kebakaran yang melahap dua bangunan di kawasan Ujung Pandan, Kecamatan Padang Barat dinihari tadi.
Menurut kepolisian Mitra tewas saat tidur bersama rekan satu kamarnya Rani, saat ditemukan petugas, jenazah Rani dan Mitra dalam kondisi yang mengenaskan.
Diketahui dari Gelang Kaki
Terpisah, keluarga salah satu korban kebakaran di kawasan Ujung Pandan, Kecamatan Padang Barat dinihari tadi mengaku jenazah Rani diketahui dari cincin dan gelang kaki. Adik korban, Rani Anggela, Syolfi Hendri mengatakan korban menggunakan cincin di jari manis tangan kiri dan gelang kaki yang ia pakai di kaki kirinya. “Setelah kami periksa, benar ternyata itu jenazah uni,” katanya.
Syolfi Hendri menyebut cincin dan gelang kaki yang ada pada tubuh Rani itu sudah dipakainya sejak lama. “Gelang dan cincin itu milik uni. Hanya itu yang bisa dikenali dari uni, anggota badannya sudah tidak bisa dikenali lagi,” ungkapnya. (age)





