BERITA UTAMA

Warga Mentawai Bertahan di Pengungsian

0
×

Warga Mentawai Bertahan di Pengungsian

Sebarkan artikel ini

MENTAWAI, METRO–Dua hari setelah diguncang gempa 7,8 SR, sebagian warga Kabupaten Kepulauan Mentawai, masih ada yang mengungsi. Warga mencari daerah berbukit pada malam hari, karena trauma akan terjadi gempa susulan yang skalanya lebih besar.

Jumat (4/3), Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet bersama Dinas Kesehatan dan lainnya mengunjungi lokasi-lokasi yang dijadikan sebagai tempat pengungsian. “Sampai sekarang warga kita masih aman. Pada malam kejadian, semua warga sudah mengungsi ke arah perbukitan. Ini sudah menjadi protap bagi warga ketika terjadi gempa besar. Warga tidak akan menunggu lama-lama, langsung mengungsi,” ungkap Yudas kepada POSMETRO, kemarin.

Selain tempat pengungsian, Bupati juga sudah menginstruksi kepada seluruh Puskesmas bersama petugas medis untuk siaga 24 jam. Warga yang trauma dan sakit harus dilayani dengan baik.

”Sekarang, sesuai instruksi bupati, Puskesmas siaga 24 jam dalam melayani masyarakat yang membutuhkan pengobatan,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Mentawai Lahmudin, Jumat (4/3).

Dijelaskan, dengan kondisi Kepulauan Mentawai yang terpisah-pisah, Dinas Kesehatan cukup kerepotan melakukan koordinasi dan pendataan. Apalagi saat itu hampir seluruh wilayah Mentawai jaringan seluler mati.
”Setelah Bupati melakukan kordinasi dengan Pemprov Sumbar, dihari ketiga, Jumat,  komunikasi di Mentawai mulai lancar,” lanjut Lahmudin.

Baca Juga  Kasus Positif Corona di Tanahdatar Memilukan, Tembus Angka 70 Orang Terpapar

Warga Kecewa

Sementara itu, terputusnya komunikasi saat terjadi gempa, Rabu (2/3), membuat sebagian besar masyarakat Mentawai, panik. Jarak yang cukup jauh antar pulau membuat masyarakat tidak bisa berkomunikasi untuk memastikan kondisi keluarganya.

Menurut pengakuan warga, pada saat terjadi gempa, getaran di pulau tidak terlalu kuat. Namun warga mulai panik saat  menyaksikan berbagai siaran TV yang mengatakan bahwa kekuatan gempa yang berpusat di Kepulauan Mentawai berkekuatan 8,3 SR (sebelum diralat 7,8 SR) dan berpotensi tsunami. Bayangan tsunami besar sudah di depan mata.

Di Mentawai, di Tuapejat Sipora Utara, hanya ada 1 provider dengan 1 tower besar. Tower tersebut juga terdapat semua akses komunikasi seperti telepon seluler dan internet. Namun, saat terjadi gempa tidak berfungsi, dan hal itu membuat masyarakat kecewa.

Baca Juga  Fadly Amran: PSBB Langkah Terbaik Hadapi Pandemi Corona

Mardi, warga Tuapejat mengungkapkan kekecewaan karena jaringan seluler tidak aktif.  Katanya,  gempa  yang sempat disebut berkekuatan 8,3 SR  itu, tidak begitu terasa di pulau Tuapejat.  Bahkan getarannya pun tidak begitu terasa. ”Mungkin gempa ini gempa dasar dan jauh dari wilayah daratan dilepas Samudera Hindia,” ungkapnya.

Pengakuan yang sama juga disampaikan Linda,  warga Tuapejat ini menambahkan bahwa dirinya sudah menghubungi keluarganya yang ada di pulau lain. Meski  mereka sempat mengungsi namun semuanya baik-baik saja dan tidak ada korban. Namun dia sayang kecewa karena dirinya baru bisa menghubungi mereka setelah tiga hari setelah kejadian.

”Sekarang warga di Siberut Selatan  masih banyak bertahan di pengungsian. Kondisinya memang aman. Begitu juga di daerah Kecamatan Siberut Tengah, masih banyak warga mengungsi di perbukitan. Di Kecamatan Siberut Utara juga terjadi pengungsian besar-besaran, mereka berjarak sekitar lima kilometer dari bibir pantai atau dari pemukiman warga,” jelas Linda. (s/hsb)