BERITA UTAMA

Gempa 7,8 SR Guncang Sumatera

0
×

Gempa 7,8 SR Guncang Sumatera

Sebarkan artikel ini

MENGUNGSI— Ratusan kendaraan memadati ruas jalan utama Kota Padang, usai digunjang gempa 7,8 SR, Rabu (2/3) malam. Selain ruas jalan, sejumlah SPBU juga dipadati pengendara roda dua dan mobil yang ingin mengisi BBM. Peringatan potensi tsunami menyebabkan warga memilih mengungsi ke tempat aman, ke arah Bypass hingga kampus Unand Limaumanih.
PADANG, METRO–Panik dan cemas. Ribuan warga Kota Padang, dilanda kecemasan, saat gempa 7,8 Skala Richter (SR) mengguncang, pada Rabu (2/3) sekitar pukul 19.49 WIB. Warga buncah. Sebab, gempa yang berkekuatan di atas 7 SR itu, berada di kedalaman 10 km, lokasi 5,16 LS, 94,05 BT (682 km Barat Daya Kepulauan Mentawai, dilansir BMKG berpotensi tsunami. Guncangannya dirasa hampir 2 menit.

Wilayah yang berpotensi tsunami dirilis BMKG, yakni kawasan Sumbar, Sumatera Utara, NAD, Bengkulu dan Lampung. BMKG juga memutakhirkan informasi bahwa gempa yang sebelumnya diinformasikan berkekuatan 8,3 SR, diralat menjadi berkekuatan 7,8 SR.

Sebelumnya, BKMG mengumumkan ke masyarakat bahwa terjadi gempa berkekuatan 8,3 SR mengguncang kawasan Kepulauan Mentawai. BMKG menyatakan bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami. “Gempat berpotensi tsunami, info ini untuk diteruskan ke masyarakat,” tulis Kepala BNPT Sutopo Nugroho mengutip penjelasan BMKG.
Posisi gempa di 5,16 Lintang Selatan dan 94.05 Bujur Timur atau 682 km Barat daya Kepulauan Mentawai.
Hal ini membuat masyarakat panik. Semua orang berupaya untuk evakuasi ke lokasi aman. Mereka mencari daratan tertinggi di Kota Padang. Macet jalan dibuatnya. Sementara yang berada di gedung bertingkat panik dan takut.

Seperti yang terjadi di simpang empat Anduring, Kecamatan Kuranji. Di lokasi itu, ratusan kendaraan berdesakan menuju kampus Unand. Karena, lokasi itu dinilai aman dari bahaya tsunami. Bunyi klakson memekak sepanjang jalan.

Begitu juga di simpang empat Bypass Lubeg. Di lokasi itu juga terjadi kemacetan. Umumnya kendaraan menuju arah Indarung. Karena, lokasi itu adalah lokasi yang tinggi. Namun, di sepanjang ruas jalan di Kota Padang, juga banyak warga yang waspada di luar rumah. Mereka memilih hanya berdiam di luar, dan tidak melakukan evakuasi ke tempat yang tinggi.

“Saya dapat info dari media sosial, bahwa ada potensi tsunami. Ya kami mengungsi,” ujar salah seorang pengendara di Lubeg yang hendak evakuasi.

Sementara, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengimbau masyarakat untuk tenang. Tidak perlu panik dengan kondisi itu. Meski berpotensi tsunami, namun warga diharapkan tenang dan diminta untuk melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi.

“Jangan panik. Tunggu perintah dari pemerintah setempat. Mungkin, lebih baik masyarakat evakuasi ke tempat shelter yang telah tersedia,” jelasnya.

6 Daerah Pesisir Aman
Sementara, Wagub Sumbar Nasrul Abit memastikan kondisi masyarakat di Mentawai aman, begitu juga daerah pesisir, seperti Pessel, Pariaman hingga Pasaman Barat masih aman. Hingga pukul 22.00 WIB, kondisi sejumlah daerah pesisir masih aman.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Mentawai. Insyaallah masih aman. Warga di sana sudah diminta jangan cemas, namun tetap waspada,” ungkap Wagub, yang tadi malam langsung mengunjungi masyarakat yang mengungsi di shelter Escape Building Kantor Gubernur, di Jalan Sudirman.

“Yang penting kita sudah berada di tempat yang aman, dan saya meminta agar kita semua tidak panik dan tetap tenang,” imbaunya kepada masyarakat yang berjumlah sekitar 100 orang lebih mengungsi di shelter tersebut.

Setelah kurang lebih 20 menit, Wakil Gubernur Sumatera Barat meninggalkan lokasi tersebut dan menuju ke kantor RRI Padang dengan tujuan yang sama yakni menghimbau masyarakat agar tetap tenang dan panik.

Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Zulfiatno saat dihubungi POSMETRO mengatakan, memang gempa yang terjadi berpotensi tsunami. Namun, kemungkinan gelombang tidak akan sampai ke Kota Padang. Walau demikian, warga tetap diminta untuk jauhi lokasi bibir pantai.

“Kalau untuk kerusakan kita masih melakukan pendataan. Kalau potensi tsunami, kemungkinan besar tidak sampai di Padang. Hingga pukul 21.00 WIB, tidak ada tanda-tanda tsunami. Jadi jangan panik,” jelasnya.

Terpisah, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Dr Masturyono MSc mengatakan, penyebab gempa berdasarkan parameter gempa bumi, disebabkan aktivitas zona subduksi yang terbentuk akibat tumbukan atau penunjaman Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia. “Hasil analisis mekanisme sumber memperlihatkan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan oleh sesar naik,” kata Masturyono.

Dia mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan mengikuti arahan BPBD, serta informasi dari BMKG. “Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami Agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan yang pada umumnya kekuatannya semakin mengecil,” sebutnya.

Bukan Zona Megatrust

Untuk titik gempa sendiri terjadi di Garis Tengah Samudera Hindia dengan jarak dari titik gempa ke Kepulauan Mentawai 627, 85 kilometer gempa terjadi tidak di posisi Zona Megatrush. Laporan dari petugas Pusdalops Sumbar, sumber gempa dari sistem patahan Ninety East Ridges (NER) Samudera Hindia. Berupa sistem sesar transform yang mirip dengan gempa Simeulue, Aceh, pada 11 April 2012, lalu pada sistem patahan yang sama.

“Sejauh ini, untuk gempa yang terjadi dan berpusat di Mentawai itu statusnya sudah dinyatakan. Tapi, masyarakat tetap diminta untuk berwaspada,” ujar Andy Eka Sakya, Kepala BMKG Pusat saat diwawancarai di televisi swasta, Rabu malam.

Pantauan POSMETRO, di sejumlah jalan utama Kota Padang, jalur evakuasi, RSUP M Djamil Padang, Lapas Klas II A Muaro Padang masih aman. Tapi tetap saja kepadatan di jalan tidak terelakkan. Sirine tsunami pun sudah berbunyi dengan lantang di empat titik.

Dari kawasan Simpang Haru hingga ke Indarung sudah terlihat antrean kendaraan yang menuju ke tempat tinggi. Hingga Rabu malam, masih menggunakan satu jalur. Begitu juga dengan kawasan Jalan Hamka, beberapa kendaraan bergerak tersendat, namun sebaliknya ke arah Tabing, jalanan tampak lengang.

Kemudian, di kawasan Bypass yang tengah dalam pembangunan jalur II, padat merayap. Petugas kepolisian yang ada di beberapa ruas jalan yang masih rusak, terlihat membantu pengendara memapah kendaraan mereka. Begitu juga di kawasan Seberang Padang hingga ke kawasan Bukit Lampu, kendaraan juga tampak merayap.

Selain itu, karena terjebak macet, warga lebih memilih memarkirkan kendaraan di halaman Masjid Raya Sumbar. Terlihat ratusan warga memadati Masjid Raya. Selain itu, terlihat warga yang berada di masjid, sibuk menelepon sanak saudaranya.

Salah seorang warga yang ditemui di Masjid Raya Sumbar, Rita (25), warga Flamboyan mengatakan, saat terjadi gempa, dia sedang menunaikan shalat. Setelah shalat, dia mendapat informasi du BBM bahwa gempa yang terjadi berpotensi tsunami.

“Mendapat informasi itu, saya menjadi takut, dan langsung mengemas surat-surat penting. Setelah itu saya langsung pegi meninggalkan kos. Setiba di bundaran Padangbaru, sudah macet. Saya langsung mengungsi di Masjid Raya,” ujar Rita.

Sementara itu, kondisi di RSUP M Djamil Padang masih normal. Namun, perawat ataupun dokter dan petugas keamanan tampak standby dan berjaga di depan pintu masuk IGD M Djamil Padang. Sejauh ini masih belum ada informasi yang jelas tentang kerusakan ataupun korban jiwa yang ada di RSUP M Djamil Padang.

“Kami masih berusaha mencari apakah ada korban ataupun gedung yang rusak, sejauh ini belum ditemukan. Petugas tetap waspada,” papar Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUP DR. M Djamil Padang, Gustafianof.

Gempa yang kuat membuat sebagian keluarga serta pasien keluar dari ruangan. Salah seorang keluarga pasien di ruangan penyakit dalam lantai 3, nampak bertahan di depan pos satpam RSUP M Djamil.

“Saat gempa, istri saya yang tengah dirawat sedang tidur. Kami kaget karena ruangan ini sudah bergoyang,” kata Hendrik, pasien RSUP M Djamil.

Begitu juga dengan pasien yang terlihat menggunakan kursi roda keluar ruangan gedung Embun Pagi. Mereka juga bertahan dan belum mau masuk ke dalam ruangannya. “Kami tetap di luar untuk sementara. Takut ada gempa susulan lagi,” ucap Rendi, keluarga pasien.

Sampai pukul 21.12 WIB, keadaan RSUP M Djamil masih belum kondusif dan pasien beserta keluarnya masih bertahan di luar gedung tempat mereka dirawat.

Berbeda, di Lapas Klas II A Padang yang berada tepat di depan Pantai Padang ini tidak terlihat kepanikan. Namun, petugas Lapas sudah berkoordinasi dengan instansi terkait jika ada kemungkinan terjadinya tsunami. Sejauh ini, pihak Lapas masih melihat kondisi dan belum dapat informasi yang jelas dari Basarnas.

“Saat ini kita masih standby. Makanya, kita koordinasi langsung dengan instansi terkait. Kita menghitung jika memang harus evakuasi, jarak yang dicapai ke tempat evakuasi yakni Jembatan Siti Nurbaya hanya dalam waktu 10 menit,” tuturnya.

Sumbar Masih Aman
Sementara itu, kondisi terkini di Kepulauan Mentawai pun masih terbilang aman dan masyarakat terlihat berdiri di pinggir pantai guna mengetahui kondisi air laut. Kemudian, sejumlah warga yang ada di Pesisir Barat Daya Mentawai juga belum tampak bersiap untuk evakuasi, mereka hanya membuat kelompok kecil dan berkumpul di sebuah lapangan.

“Saat ini masih aman, kami sudah perintahkan kepada masyarakat untuk berkumpul dan berjaga-jaga jika nanti memang ada tsunami,” ucap Boy, salah seorang personel polisi yang bertugas di Siberut.

Ditambahkan, masyarakat yang bernaung di kawasan yang dekat dengan gempa seperti Siberut, Sikakap, Karamajat dan pulau di sekitarnya terlihat masih tenang dan waspada dengan segala kemungkinan yang ada. “Sejauh ini juga belum ada laporan kerusakan ataupun korban jiwa dari Mentawai,” pungkasnya via telepon.

Sementara, Kapolda Sumbar Brigjen Pol Basruddin langsung mengintruksikan seluruh jajaran Polres dan Polsek untuk tetap waspada dan tidak boleh meninggalkan tugas. Kapolda juga mengimbau masyarakat tak perlu cemas.
“Meski demikian, seluruh warga Sumbar, khususnya yang berada di daerah terkena dampak gempa, harus tetap waspada, jika terjadi gempa susulan,” ungkapnya.

Terpisah, mantan Wali Kota Padang Fauzi Bahar menyebutkan, warga Kota Padang dan Sumbar umumnya, tidak terlihat terlalu panik dengan kondisi gempa. Pasalnya, warga sudah terbiasa dalam menghadapi ancaman gempa. Namun, dia berharap, simulasi mitigasi bencana terus dilakukan.

“Saya baru mendarat di BIM malam ini, dan melihat kondisi warga Kota. Alhamdulillah, tak ada info korban jiwa. Tapi, kami mengimbau warga tetap waspada. Karena, tsunami tidak soal waktu 30 menit saja. Tapi di Aceh, jarak yang jauh, tsunami datang ada yang setelah 4 jam,” kata Fauzi.

Dia mengharapkan, setelah kejadian ini, Pemko Padang terus meningkatkan simulasi mitigasi bencana. “Kalaupun ada shelter, tapi kalau tidak sering dilatih warga ke sana, saat kejadian bencana, tetap tak berfungsi dengan baik,” katanya. (age/da/r/h/hsb/cr13/cr3)