Mengimbangi mobilitas tinggi masyarakat Kota Padang, pemerintah akan mengoperasikan kereta api jalur Simpang Haru-Bandara Intarnasional Minangkabau (BIM) Agustus 2016. Jalur tersebut dapat ditempuh hanya dalam waktu 25 menit.
”Ini target kita, moda transportasi kereta api dapat mengurangi pengguna jalan raya yang mulai padat. Sehingga menjadikan waktu masyarakat lebih efektif,” sebut Kepala Balai Teknik Perekeretaapian Wilayah Sumatera Bagian Barat (BTPWSB), Ir. Makjen Sinaga, MT didampingi Kasi Lalulintas Sarana dan Keselamatan Perkeretaapian, Amanna Gappa, ST, SHI, MH.
Jalur itu memiliki panjang 24 KM, jika dikalkulasikan dengan kecepatan kereta mencapai 80 km/jam, maka jalur Padang-BIM mampu ditempuh hanya dalam waktu 25 menit. Hitungan waktu tersebut jauh lebih efisien dibanding dengan menggunakan mobil. Karena paling tidak membutuhkan waktu 40 menit sampai 1 jam. Jalur ini melewati dua stasiun, yakni Tabing dan Duku.
”Mobilitas masyarakat yang tinggi ke BIM harus didukung dengan moda transportasi yang cepat, makanya kita upayakan kereta dari Padang-BIM beroperasi Agustus,” ujarnya.
Dikatakannya, proyek jalur kereta api Kota Padang menuju BIM didanai sepenuhnya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Sementara anggaran pembebasan lahan merupakan tanggungan Pemerintah Daerah. Dengan alokasi itu menunjukkan komitmen dari pemerintah mengaktifkan kembali jalur kereta api di Sumbar.
Konstruksi pembangunan jalur KA antara Duku – BIM telah dimulai pada 2012 silam dengan pembebasan lahan. Dari tahun tersebut, pembangunan telah menelan biaya sebesar Rp127,5 miliar.
Jalur KA Duku menuju BIM dengan panjang lintasan 3,9 kilometer dengan luas tanah sekira 10 – 12 hektar (ha). Untuk fasilitas penunjang akan dibangun pula satu unit jembatan KA yang melintasi Sungai Batang Anai, selebar 164 meter, dua unit stasiun, yaitu Stasiun Duku dan Stasiun BIM serta sistem persinyalan mekanik.
”Khusus jalur Padang-BIM ini memang istimewa, sebab dengan spesifikasi yang sama di Kuala Namu, Medan ,tidak dibiayai dengan APBN penuh. Namun, melalui konsorsium antara PT Kereta Api dan PT Railink,” ungkapnya.
Untuk mengoperasikan kereta jalur tersebut, BTPWSB telah membangun jalur Duku-BIM, yang terkoneksi ke jalur exiting Stasiun Padang (Jalan Simpang Haru).
Selain itu, BTPWSB juga telah melakukan perbaikan sejumlah prasarana pendukung. Seperti perlintasan dan stasiun. Bahkan, Menteri Perhubungan melalui PT KAI telah mengusulkan pengadaan sarana baru yang sama dengan Bandara Kuala Namu. Namun, demikian, sambil menunggu sarana baru akan digunakan railbus yang sudah ada, untuk melayani jalur Padang-BIM.
Aktifkan Jalur
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan telah mengalokasikan anggaran kegiatan pada jalur Padangpanjang-Batul Taba-Kacang, badan jalan Muaro-Kalaban-Muaro sepanjang 13 km, serta pembangunan stasiun BIM lanjutan, yang sedianya akan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).
Diperkirakan, dengan aktifnya kembali rel kereta api di Sumbar, maka moda transportasi tersebut akan menjadi alat transportasi yang sangat hemat. Selain itu juga mendukung sistem perdagangan di Sumbar.
Setidaknya mengelilingi Sumbar dari Padang-Kayu Tanam-Padang Panjang-Batu Taba-Solok-Sawahlunto, hanya membutuhkan waktu 4 jam. Itupun jika ditempuh dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam. Sementara waktu yang lambat hanya pada Kayu Tanam-Padang Panjang, dengan kecepatan 20 km/jam. Sebab menggunakan jalur bergigi.
”Dengan aktifnya jalur itu, kita yakin jumlah kendaraan di jalan akan drastis berkurang. Jadi sebenarnya sungguh hemat dan cepat menggunakan kereta api,” ujarnya.
Mengaktifkan kembali jalur di Sumbar tersebut merupakan bagian dari program jalur Trans Sumatera, menghubungkan Aceh-Lampung dengan kereta api. Khusus di Sumbar hanya tinggal mengkoneksikan dengan Riau sepanjang 150 km lagi. Dengan itu, maka Sumbar sudah terkoneksi dengan Trans Sumatera.
Perlintasan Liar
BTPWSB juga mengingatkan pentingnya peran pemerintah daerah. Dalam hal ini Pemko Padang, terkait dengan perlintasan liar yang terlalu banyak dan dapat mengganggu optimalisasi fungsi railbus yang rencananya dijalankan pada Agustus 2016. “Memperhatikan spesifikasi railbus Padang-BIM jauh lebih modern dan kecepatan rata-rata 80 km/jam. Sementara kereta reguler Padang-Padangpariaman kecepatannya hanya 40 km/jam. Untuk itu, perlu menjadi perhatian bersama dalam mengantisipasi daerah rawan kecelakaan, agar kereta api ke bandara dapat berjalan dengan optimal,” harapnya. (*)





