METRO PADANG

Maju Pilgub Sumbar, Faldo Maldini Tawarkan Sembilan Program Prioritas

0
×

Maju Pilgub Sumbar, Faldo Maldini Tawarkan Sembilan Program Prioritas

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Faldo Maldini, Ketua DPW PSI Sumbar, memulai langkah politiknya dengan menyampaikan pidato politik. Mantan Juru Bicara Prabowo-Sandi ini menawarkan sembilan gagasan untuk membangun Sumatara Barat (Sumbar). Dia menamai program-programnya dengan Sumangaik Sambilan (Semangat Sembilan).
“Sumatera Barat sudah saatnya meninggalkan cara-cara lama. Dia berkuasa, habis itu istrinya, lalu anaknya, kucingnya, kambingnya. Kita harus kembalikan Sumbar pada pemiliknya, yakni warga Sumbar sendiri. Kami inging tawarkan Sumangaik Sambilan,” kata Faldo Maldini dalam pidato politiknya, Minggu (27/10)
Setelah mengunjungi sejumlah tempat di Sumbar, Faldo mengatakan Warga Sumbar butuh perubahan. Dia ingin Sumbar kembali menjadi pusat pendidikan dan Islam di Indonesia. “Sumbar akan lebih baik bila SMA dan SMK kita menjadi yang terbaik di Indonesia. Orang akan datang ke sini untuk belajar dan bersekolah. Sumbar akan lebih baik bila kembali menjadi pusat pendidikan Islam terdepan di Asia. Banyak orang belajar AlQuran ke sini dari seluruh dunia. Kita akan kedatangan ribuan orang untuk belajar di sini, daerah kita pun akan tumbuh,” tambah Mantan Presiden BEM UI itu.
Faldo juga menyoroti persoalan sanitasi. Menurutnya, akses sanitasi di Sumbar masih kalah dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. “Sekaran ada sekitar 22% warga Sumbar yang tidak punya jamban. Ini memyedihkan, masa kita kalah jauh sama daerah lainnya. Jatim dan Jateng sudah di angka 90% akses sanitasi, bahkan DIY sudah mencapai 100%. Paling tidak, dalam lima tahun kita harus tembus 90%. Kita bicara hak dasar dulu, sebelum kemana-mana,” kata Faldo.
Program Tawaran Faldo
Sembilan tawaran program Faldo dinamakan Sumangaik Sambilan. Meliputi, Pertama, Sumangaik Baraja. Menurut Faldo, Sumbar harus punya 20 SMA atau SMK yang kompetitif secara nasional, menjadi tujuan orang datang dari seluruh Pulau Sumatera dan bahkan Indonesia.
Jika satu sekolah bisa menampung 200 orang luar Sumbar setiap tahun, maka akan ada 4000 orang baru yang datang ke Sumbar setiap tahunnya atau 12000 orang akan menetap selama satu tahun ajaran. Jumlah itu, lebih dari 20% penduduk Kota Padang Panjang. Selama tiga tahun, mereka akan melakukan konsumsi yang menghidupkan roda perekonomian, mulai dari rumah kos, warung makan, usaha fotokopi, jasa laundry, hingga sektor perumahan.
Kedua, Sumangaik Mangaji. Faldo menginginkan kembalikan sejarah Sumbar sebagai pusat pendidikan agama. Mendukung pesantren-pesantren Sumbar untuk menjadi yang terdepan di Asia, yang sudah ada sejak awal Abad ke-20, sebagaimana yang ditulis oleh Sejarawan Deliar Noer, Sumbar menjadi perbincangan ulama dari seluruh dunia. Akan banyak hafidz Al-Quran dilahirkan di Sumbar.
“Santri dari luar negeri akan datang, target kami sebanyak 20.000 orang/tahun. Wisata halal harus didukung oleh budaya masyarakat yang berlafazkan Al-Quran. Ekonomi masyarakat akan bergerak lebih cepat. Wisata halal bukan hanya sekadar tempelan atau sertifikat semata,” ujarnya.
Orang yang datang ke Sumbar harus tahu mau apa datang ke sini, bukan hanya dimobilisir oleh Perusahaan tour & travel di luar negeri untuk keuntungan jangka pendek. Maka, pemerintah harus membantu mempersiapkan pesantren Sumbar menjadi yang terdepan di Asia.
Ketiga, Sumangaik Raun. Melalui program ini, Faldo mengembangkan infrastruktur transportasi modern. Paling tidak, 10 tahun lagi, Sumbar sudah punya tiga bandara yang bisa melayani rute dari seluruh Indonesia. Makin banyak orang datang ke Sumbar, makin cepat juga mobilitas di antara berbagai tempat. Percepatan ekonomi masyarakat akan menjadi semakin efektif.
Keempat, Sumangaik Manggaleh. Faldo ingin melalui program ini, dapat mengembangkan industri berorientasi ekspor dari hasil bumi yang ada di Sumbar. Hasil perkebunan dan pertanian harus berupa bahan setengah jadi ketika keluar dari Sumbar.
Aktivitas ekonomi harus digerakan oleh usaha kecil dan menengah. Sehingga, penyerapan lapangan kerja lebih banyak lagi. “Tanah Abang adalah ujung tombak Sumangaik Manggaleh di Jakarta. Kita harus buat tanah abang-abang baru di tempat lain dengan berbagai macam produk yang diperjualbelikan,” ujarnya.
Kelima, Sumangaik Bakawan. Melalui program ini, Faldo ingin meningkatkan hubungan kerjasama yang produktif dengan daerah lain di Indonesia dan dunia, terutama dalam misi kebudayaan dan ekonomi. Seniman, pegiat ekonomi kreatif, dan startup di Sumbar harus semakin banyak mendapat tempat untuk hadir di seluruh dunia. Sineas lokal bisa tampil di Canes, Prancis.
Begitupun, pegiat industri kreatif daerah lain akan mendapatkan tempat untuk mengembangkan karyanya di Sumbar. “Kita bangun pusat budaya, yang digerakan oleh komunitas dengan mengoptimalisasi instrumen digital, otomasi, internet of things, dan kecerdasan buatan. Maka, transfer pengetahuan harus semakin dinamis, yang kemudian berdampak pada bidang lainnya,” harapnya.
Menurutnya, Industri 4.0 bisa menghadirkan kecerdasan buatan, tapi jangan harap bisa langsung membuat masyarakat menjadi cerdas. Makanya, kapasitas anak muda sangat penting menjadi perhatian utama.
Keenam, Sumangaik Malayani. Menurut Faldo, Digitalisasi pelayanan public yang up to date dan user friendly. Warga bisa meng akses perizinan dan pengaduan secara real time, sekaligus ditindak dengan cepat. Pengaduan jalan provinsi yang rusak bisa ditindaklanjuti dalam waktu maksimal 2 x 24 jam dan seiring waktu akan terus ditingkatkan. Kita harus bergerak lebih cepat.
Pemerintah nagari akan didukung penuh untuk menjalankan pelayanan publik yang berkualitas. Sebagai yang paling depan berhadapan langsung dengan masyarakat, nagari harus punya inovasi. Provinsi akan memberikan dukungan 100 juta/tahun di luar dana desa untuk nagari yang mampu melayani secara inovatif. Rumah dinas gubernur dibuka 1X24 jam, itu adalah rumah rakyat. “Kita wujudkan pikiran H.Agus Salim bahwa “Leiden ist Lijden”, memimpin adalah menderita,” ujarnya.
Ketujuh, Sumangaik Bajaleh. Menurut Faldo, APBD akan dibuka sejelas-jelasnya. Setiap sen uang rakyat akan disosialisasikan sejelas-jelasnya, sampai gaji gubernur, wakil gubernur, dan DPRD. Di Sekolah Menengah Atas, pembahasan anggaran ini akan jadi muatan lokal tersendiri. Sehingga, masyarakat tahu haknya. Di sini, akar korupsi bisa diberantas bersama-sama.
Kedelapan, Sumangaik Badayo. Perempuan dan anak-anak menurut Faldo harus diperhatikan kesejahteraannya. Banyak studi memperlihatkan kesejahteraan perempuan dan anak berbanding lurus dengan kesejahteraan sebuah daerah. “PAUD di Sumbar harus kita dorong menjadi pusat kegiatan perempuan dan anak. PAUD di Sumbar kita harus menjadi yang terbaik di Indonesia,” terangnya.
Bundo Kanduang akan berada di garda terdepan untuk memberdayakan kaumnya dan anak-anak. Sebab, anak-anak juga warga negara.
Kesembilan, Sumangaik Basegeh. Menurut Faldo, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, perlu didorong. Pembenahan dari hulu perlu dilakukan. Warga yang memilah sampah akan diberikan potongan BPJS, potongan pajak dan berbagai macam benefit lainnya.
Akses sanitasi Sumbar masih di bawah rata-rata provinsi utama di Indonesia, saat ini kita berada di angka 79.21%. Sementara Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah di atas angka 90%, bahkan Daerah Istimewa Yogyakarta sudah berhasil 100%. Dalam 5 tahun, kita akan tembus angka 90%.
Tidak ada bangsa yang baradaik, tanpa buangan yang bagus. Kita tingkatkan kembali kewaspadaan bencanaan. Perlu managemen kebencanaan yang mumpuni. Jangan sampai ada alat-alat penditeksi bencana yang tidak bekerja. Jutaan nyawa akan terancam.(**)