METRO PESISIR

Pertahankan Ciri Khas Anak Nagari

0
×

Pertahankan Ciri Khas Anak Nagari

Sebarkan artikel ini

PDG.PARIAMAN, METRO – Wakil Bupati Padangpariaman Suhatri Bur menyatakan, bermain layang-layang ( alang daguang-daguang ) sama dengan menjalani pola hudup sehari-hari. Baik dalma keluarga maupun dalam ruang lingkungan besar.
Kenapa tidak, saat angin kuat datang layang-layang harus di lepaskan setinggi -tinggi, kalau tidak layangan akan putus talinya, namun saat angin tidak kuat layangan harus ditarik pelan-pelan. Begitu juga dalam kehidupan saat lagi naik tingkat harus diteruskan sampai tinggi, namun jangan sampai lupa untuk bersyukur kepada Allah SWT. Tetapi, saat kehidupan kurang baik, keluarga tersebut harus merawatnya secara perlahan-lahan agar tidka muncul persoalan baru,” kata Wakil Bupati Padangpariaman Suhatri Bur, kemarin, saat lomba layang-layang di Korong Bayur, Kenagarian  Koto Tinggi, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padangpariaman.
 Saat lomba tersebut Wakil Bupati Suhatri Burikut bermain layang-layang. “Saya saat ini mengendalikan layang layang putih palang hitam.  Alhamdulillah layangan saya berhasil mendapatkan peringkat pertama berdasarkan penilaian dari panitia,” ungkapnya.
Suhatri Bur saat itu menyatakan permainan tradisional ini perlu dilestarikan dan terus dilakukan agar tak hilang begitu saja.
“Kita Pemkab Padangpariaman sangat mendukung lomba ini, karena dapat mendidikan masyarakat dan anak muda untuk belajar kehidupan. Namun, jangan disalah gunakan dalam permainan layangan ini, karena ini salah stau olahraga tradisional yang ada di Kabupaten Padangpariaman,” ungkapnya.
Lihat saja sekarang katanya, ratusan anak nagari di Kecamatan Enam Lingkung mengikuti lomba layang-layang ini. Lomba ini digelar usai masyarakat panen padi dan juga untuk menjalin silaturahmi dan menjauhkan perpecahan di kalangan anak muda atau masyarakat.
Puluhan layang-layang aneka bentuk dan warna tampak menghiasi langit di Kenagarian Koto Tinggi ini. Layang-layang danguang karena saat layang-layang dinaikkan ke langit mengeluarkan bunyi seperti berdengung. Para peserta merupakan utusan dari berbagai dusun atau kampung di Kecamatan Enam Lingkung atau kecamatan tetangga.
Sesuai namanya, layang-layang danguang atau empat tali ini tidak bisa dinaikkan hanya oleh satu orang, tetapi minimal lima orang sekaligus. Tak heran, selain kekuatan dan keahlian, juga dibutuhkan kekompakan tim, agar layang-layang bisa terbang dengan sempurna.
Sejumlah aspek menjadi penilaian dewan juri. Mulai dari bentuk, corak dan warna layang-layang, bunyian dengung yang dihasilkan saat layang-layang naik hingga ketinggian yang bisa dicapai layang-layang saat posisi tali layangan lurus selama 10 menit.
“Lomba layang-layang danguang ini menjadi permainan tradisional khas anak nagari sejak ratusan tahun lalu. Tak heran, meski hadiah yang diberikan tidak besar, puluhan orang tetap antusias mengikuti lomba,” tandasnya. (efa)