BERITA UTAMA

Pascakerusuhan di Wamena Papua,  Perantau Minang Dipulangkan dengan 2 Hercules

0
×

Pascakerusuhan di Wamena Papua,  Perantau Minang Dipulangkan dengan 2 Hercules

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, METRO – Dua pesawat Hercules disiapkan untuk mengangkut perantau Minang dan Sulawesi pascakonflik di daerah Wamena Papua. Sesuai dengan perencanaan, dua pesawat milik TNI itu akan tiba di Papua hari ini (Senin 30/9).
“Alhamdulillah, untuk memulangkan perantau dari Wamena ke Sumatera Barat, pak Panglima bersedia mengirim dua Hercules TNI yang bisa membawa 1000 orang. Sekalian juga bisa membawa warga Papua asal Sulawesi,” kata Yendra Fahmi melalui pesan WashApp-nya kepada Buya Syafii Maarif yang ikut memantau langkah pemulangan para perantau dari Tanah Papua.
Menurut Fahmi, Ketua Umum Gebu Minang, Oesman Sapta yang juga Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) itu, menyampaikan keprihatinannya atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Papua dan memesankan peristiwa ini perlu mendapat perhatian seriun dari pemerintah. Termasuk penanganan pengungsi yang masih bertahan di kantor Polres dan Kodim Kabupaten Jaya Wijaya.
“Untuk memulangkan para perantau yang tak lagi memiliki harta benda karena dijarah dan dibakar oleh perusuh, Panglima TNI hari ini memerintahkan pengiriman Hercules ke Wamena,” kata Fahmi.
Fahmi menjelaskan pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit yang sedang berada di Papua untuk mendatangi pengungsi.
“Yang penting sanak saudara kita itu dibawa pulang dulu ke Ranah Minang. Nyawa mereka jauh lebih penting,” sebut Wasekjen Gebu Minang, Zulhendri, melalui pesan singkat ya ke media ini tadi pagi.
Gebu Minang Pusat juga sudah berkoordinasi dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen (TNI) Donny Monardo yang semalam juga sudah terbang ke Papua untuk menangani masalah pengungsi. Sebagaimana diketahui, lebih dari 300 Perantau Minang masih tertahan di pengungsian Mapolres dan Makodim pasca kerusuhan yang menyebabkan lebih 30 orang tewas. Sembilan jenazah korban kerusuhan sudah lebih dulu dipulangkan ke Sumbar. Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit langsung berangkat ke Papua untuk menemui pengungsi di Wamena.
Sebelumnya Nasrul Abit mengatakan sekitar 400 orang lebih warga Sumbar ingin dipulangkan ke kampung halaman. Warga mengeluhkan situasi di Wamena dan beberapa daerah lainnya masih menegangkan. Apalagi, sembilan warga Sumbar meregang nyawa akibat kerusuhan.
“Ada 1300 warga Sumbar di Wamena. Nantinya warga Sumbar akan didata dan ditanya satu persatu aoakah ingin pulang atau ada yang mau bertahan di Jayapura atau tempat lainnya. Memang banyak permintaan warga ingin pulang kampung ke kampung halamannya,” ungkapnya.
10 Ribu Warga Minta Dievakuasi
Enam hari pasca kerusuhan yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, semakin banyak warga yang mendaftar untuk dievakuasi ke Jayapura. Komandan Lanud Silas Papare Jayapura Marsma TNI Tri Bowo Budi Santoso menyebutkan, hingga kini jumlah warga yang mendaftar mencapai 10.000 orang.
“Sekarang yang daftar sudah sekitar 10.000. Ada 2.670 yang sudah diangkut ke Jayapura. Dari data yang dimiliki Kodim 1702/Jayawijaya, tercatat ada 6.784 orang di Wamena yang kini tengah mengungsi. Mereka seluruhnya sudah mendaftar untuk dievakuasi ke Jayapura. Namun, jumlah tersebut diperkirakan akan terus berubah, karena ada arus pengungsian baru dari kabupaten di sekitar Jayawijaya,” kata Bomo di Jayapura, Minggu (29/9).
Bomo menjelaskan dari pos-pos di sekitar pegunungan sekarang banyak menuju ke Wamena. Memang sempat ada isu bahwa di Tolikara akan terjadi gejolak juga, sehingga mereka banyak yang merapat ke Wamena. Kini sudah ada dua unit pesawat Hercules yang digunakan untuk mengevakuasi warga dari Wamena ke Jayapura. Pesawat juga untuk mengirim bantuan dari Jayapura ke Wamena.
“Untuk mengakomodasi seluruh pengungsi tersebut, diperlukan waktu beberapa hari, agar mereka semua bisa diterbangkan ke Wamena. Tentu hari ini belum selesai, mungkin 3-4 hari ke depan bisa diselesaikan,” ucap dia.
Selain itu, Bowo menyebut ada 528 warga Wamena yang kini mengungsi di Jayapura. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kerabat di Jayapura, sehingga terpaksa tinggal di pengungsian.
“Mereka berharap ada pesawat yang bisa mengantar mereka ke Makassar dan Jawa, tapi kami sekarang fokusnya Jayapura-Wamena dulu,” pungkas Bowo. (fan)