ilustrasi
BUKITTINGGI, METRO–Tiga hari belakangan, media sosial (Medsos) buncah dengan kabar penculikan seorang mahasiswi berinisial YA (21). Polisi sibuk, sebab sebelum diculik, YA sempat mengirim SMS minta tolong ke orangtuanya. Setelah ditelusuri, rupanya YA tak diculik. Dia ternyata kabur dengan pacarnya. Tiga hari lamanya mereka tidur bareng di salah satu hotel di Bukittinggi. Katanya sih, tidak ngapa-ngapain.
Penemuan YA, setelah polisi dari Polres Bukittinggi mendatangi hotel tempatnya menginap, Rabu (27/1) malam, persisnya sekitar pukul 23.00 WIB. Di dalam kamar, yang bersangkutan sedang bersama pacarnya. Bersama pacarnya, YA langsung diamankan. Untuk kemudian dibawa ke Padang. Dipertemukan dengan orangtuanya yang sudah cemas setengah mati, memikirkan nasib sang anak. ”Iya, dia ditemukan bersama pacarnya di kamar hotel,” kata Kapolres Bukittinggi AKBP Tri Wahyudi.
Dijelaskan Kasatreskrim Bukittinggi AKP Joko Hendro Lesmono, pencarian YA dilakukan setelah jajarannya berkoordinasi dengan jajaran Polresta Padang. “Sebab, info awal menyebutkan, YA bersama pacarnya bernama Wahyu (19), warga Tiku, Agam, menuju Bukittinggi. Pencarian lalu dilakukan,” kata Joko.
Setelah mengetahui ciri-ciri YA, petugas Satreskrim Polres Bukittinggi melacak keberadaan tersangka. Hasil pelacakan, motor Honda Beat warna orange-hitam degan nomor Polisi BA 6607 BR milik YA terlihat di wisma yang ada di Jalan Panorama. “Setelah berkoordinasi dengan pihak wisma, kita langsung mendatangi kamar yang bersangkutan. Keduanya diamankan dan dibawa ke Polres Bukittinggi,” sebut AKP Joko.
Ketika diinterogasi, keduanya diketahui berangkat dari Padang pada Senin (25/1) sekitar pukul 12.00 WIB, menuju Bukittinggi. Sebelumnya, mereka janji bertemu di Tabing, Padang. Wahyu datang dari Tiku, langsung membawa tasnya. ”Lalu, Wahyu mengajak YA ke Bukittinggi. Dia tidak menolak,” ucap Kasatreskrim.
Tekat keduanya, untuk pergi selama-lamanya dengan modal uang milik Wahyu sebesar Rp1,5 juta. Sedangkan YA hanya memakai pakaian yang melekat pada badannya. Masih pada hari yang sama, mereka masuk ke dalam wisma dengan sewa Rp 300 ribu semalam. “Jadi selama tiga hari, mereka berada di hotel terus.
kalau keluar, juga hanya mencari makan. wahyu mengaku, selama berada di wisma, mereka tidak pernah melakukan hubungan intim. “Tidak mungkin itu saya lakukan, karena saya sudah bertekat untuk menjaganya,” kata Wahyu di depan penyidik Polres Bukittinggi.
Setelah menjalani pemeriksaan di Polres Bukittinggi, pasangan ini dijemput oleh keluarga masing-masing. pada Kamis (28/1), sekitar pukul 03.00 WIB, keduanya dibawa ke Polsek Padang Timur untuk proses lebih lanjut.
Sementara itu, Kapolsekta Padang Timur Kompol Febgendri bersama Kanit Reskrim Iptu Jaswir ND menyampaikan, setelah keberadaanya terlacak oleh informan. Pihaknya kemudian berkordinasi dengan Satreskrim Polresta Padang.
“Benar selain korban, ada seorang pria di Wisma itu. Dari pengakuan keduanya, tidak melakukan apa-apa dalam wisma itu, meskipun tidur sekamar,” ujar Kapolsek.
Dikatakan Febgendri, saat ini pihaknya masih mengamankan rekan prianya, dan masih diperiksa sebagai saksi, dikarenakan belum ada indikasi penculikan. “Berdasar pengakuan Wahyu, ia membawa gadis tersebut untuk menenangkan pikirannya yang lagi galau, karena dilarang melanjutkan kuliah oleh orangtuanya.
Salah seorang keluarga korban mengaku kalau memang menerima pesan singkat berisikan, ”Papi Yaya Takuik, Japuik Yaya”. Pesan itu dikirimkan korban saat sedang bersama Wahyu selama tiga hari di penginapan di Kota Bukittinggi. “Kami cemas saat menerima pesan itu, lalu membuat laporan ke polisi. Untuk mencari keberadaan adik kami, dan ternyata setelah dikroscek ia berada di Bukittinggi,” kata Medri (35).
Medri pun menjelaskan, keluarganya tidak mengetahui kalau adiknya dan Whayu memiliki hubungan khusus selama ini. “Kami baru tahu saat kejadian, karena selama ini adik itu tidak pernah cerita. Karena ia bungsu mungkin ia takut,” tuturnya.
MUI: Memprihatinkan
Kelakuan muda-mudi yang mulai ngelunjak, membuat gusar banyak pihak. Bahkan, Ketua Demisioner MUI Sumbar, Syamsul Bahri Khatib sangat prihatin dengan kondisi ini. Oleh karena itu, dia meminta masyarakat untuk meningkatkan pengawasan, khususnya kepada para remaja dan anak-anak.
Hal ini tentunya menjadi langkah preventif dalam mengantisipasi terjadinya perbuatan zina dikemudian hari. “Kita sudah sangat prihatin dengan sikap anak muda sekarang ini. Hampir setiap hari saya baca berita tentang perbuatan zina ini. Sudah semestinya kita memeriksa diri kita kembali,” sebutnya.
Menurutnya, hal ini terjadi, tidak terlepas juga dari pengawasan orangtua. Semestinya, di usia yang labil, orangtua lebih aktif menjaga anaknya. Bukan hanya menjaga dalam bentuk fisik, tapi menjaga mental anak.
“Mungkin karena kesibukan orangtua. Jadi, anak-anak mereka tidak terlalu diperhatikan. Kemudian, apa yang diminta selalu diberi. Orangtua semestinya bisa menyaring, apa yang seharusnya dilakukan oleh anak,” jelasnya.
Kemudian, hal itu tersebut muncul karena kebiasaan barat yang diserap oleh masyarakat timur. Bahkan, anak-anak banyak yang tak sadar, bahwa budaya barat tersebut sudah menyalahi, bahkan bertentangan dengan syariat islam.
Penularan budaya tersebut, juga tidak terlepas dari berbagai media. Seperti media internet, dan media televisi. Di sinilah peran pemerintah. Pemerintah juga harus mampu menyaring, tontotanan apa, dan situs apa yang ada diinternet, yang boleh dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja.
“Seperti internet itu. Walaupun di dalamnya banyak ilmu, tapi di situ juga ada racun. Racun bagi kita semua, bagi yang tak bisa memilah mana yang baik dan buruk. Kebanyakan anak-anak terjebak di sini,” jelasnya.
Oleh karena itu, dia menyarankan agar setiap sekolah untuk melarang siswa membawa smartphon. “Sekarang ini, apakah sekolah mampu melarang siswa membawa handphone? Kalau itu bisa dilakukan, Insyaallah anak-anak kita bisa terjaga,” jelasnya.
Hal itu bisa dilakukan seperti yang diterapkan di beberapa pesantren. Kalaupun ada orang tua menelpon, bisa telpon ke kantor. “Inilah langkah yang efektif,” tuturnya.
Kemudian, pengurus masjid di Sumbar ini juga harus lebih kreatif. Misalnya mengadakan wirid remaja sekali seminggi. Buatkan daya tarik kepada para remaja untuk mau datang ke masjid. “Mari kita kembali ke surat dengan program wirid remaja,” jelasnya.
Pengurus masjid katanya, juga harus mendorong pembentukan remaja masjid. Dengan begitu, para remaja bisa terkoordinir. Di sini, pemerintah juga harus memberikan dorongan. Bisa saja itu berbentuk reward. “Adakan lomba-lomba yang berbau islam. Ini akan mendorong remaja untuk kreatif dan membina akhlak mereka,” tuturnya.
Di samping itu, masyarakat juga diimbau untuk menghilangkan sifat pembiaran. Semestinya, masyarakat harus lebih peduli dengan lingkungan sekitar. (wan/da/r)





