KORONG GADANG, METRO – Sebanyak tujuh kepala keluarga (KK) terkena penyakit kulis skabies di daerah Gunung Sangko—, perbatasan Kecamatan Kuranji-Kecamatan Nanggalo, tepatnya di RW 07 RT 05. Penyakit yang juga dikenal dengan sebutan kudis ini, mulai menyerang bayi berusia 9 bulan hingga orang dewasa berusia 34 tahun.
Senin (19/8), ketika POSMETRO mendatangi rumah warga di RW 07 RT 05 yang terserang skabies, terlihat penderita mengalami gatal-gatal diseluruh tubuh. Akibatnya, penderita menjadi gelisah.
Awal penyakit ini adalah, muncul bintik-bintik kecil di tubuh, lalu mengundang gatal. Kasmawati (39), salah seorang warga yang anaknya menderita skabies, mengaku jika mulanya tak menyadari apa penyakit yang diderita putrinya bernama Suci (9 bulan).
“Sudah sejak lima bulan lalu, bayi saya gatal-gatal. Saya betul-betul tidak tahu apa penyakitnya. Sekarang, tubuh atau badan anak saya sudah bengkak-bengkak akibat digosok karena gatal,” kata Kasmawati, kepada POSMETRO, kemarin.
Untuk mengobati putrinya itu, Kasmawati mengaku sudah membawa ke puskesmas terdekat. Namun, ia hanya mendapat beberapa obar berupa kapsul. Namun, penyakit anaknya tak kunjung sembuh.
“Malah, sekarang sudah bengkak-bengkak. Sedangkan, petugas dari Dinas Kesehatan tidak ada yang turun ke kampung ini melihat kondisi warga yang terkena penyakit ini,” sebut dia.
Selain Kasmawati, Desi Novera (33), warga lainnya yang terkena skabies, mengaku, jika penyakit kulitnya yang mulai menyerangnya kini sudah menyebar ke anaknya yang berusia 6 tahun.
“Aneh saja penyakitnya menyebar. Awalnya saya yang terkena gatal, sekarang menular ke anak. Ini sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu,” sebut Desi.
Akibat dari penyakit tersebut semua warga gatal-gatal dan resah dengan penyakit ini. Usaha untuk berobat ada, namun ke puskesmas setiap hari, warga mengaku butuh biaya.
“Lebih baik dicukupkan untuk makan sehari-hari, apabila sakit yang diobati tak sembuh-sembuh. Kami ingin Dinas Kesehatan memperhatikan hal ini, sebab masyarakat sekitar perekonomiannya menengah ke bawah,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua RW 07 RT 05 Mardoni mengatakan, penderita skabies menyerang sejumlah warga, mulai dari bayi, anak-anak hingga dewasa. Bahkan, dari data sementara, ada sekitar 30 warga terserang penyaki gatal itu.
“Jumlah warga yang tinggal disini ada lebih kurang 45 orang. Untuk langkah berikutnya kita akan sampaikan pada kelurahan, agar ada bantuan dari dari Dinas Kesehatan,” paparnya.
Anggota DPRD Kota Padang, Ja’far yang langsung mendatangi warga Gunung Sangko, kemarin, meminta kepada Dinas Kesehatan Padang untuk turun ke lokasi dan memberikan pengobatan untuk seluruh warga. Sehingga, penyakit tersebut tak menular ke warga lain.
“Kasihan kita, sebab penderita penyakit kebanyakan anak-anak,” ujar kader Partai Keadilan Sosial (PKS) ini.
Dinkes Baru Turunkan Tim
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Feri Mulyani Hamid, mengaku akan segera menurunkan tim medis ke lokasi untuk mengecek kondisi warga. Hal ini untuk memastikan, apakah benar warga terserang skabies atau tidak.
“Upaya yang harus dilakukan warga yakni tidak sebaur perlengkapan mandi di atas rumah, baik ayah, ibu dan anak. Sebab jika masih sama bisa menular nanti,” ulas Feri.
Dijelaskan, skabies merupakan penyakit kulit akibat tungau bernama Sarcoptes scabiei. Dan, sangat jarang korbannya anak-anak, apalagi usia 9 bulan. Penyakit skabies yang endemik ini tidak tergolong penyakit yang membahayakan. Penyakit ini menular dari hewan ke manusia atau antarmanusia.
Cara penularannya adalah dengan kontak kulit. Namun kalau dibiarkan, penyakit ini akan mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan bisa merusak penampilan pada kulit. Pengobatannya harus menyeluruh dan ke seluruh penghuni rumah penderita.
“Jika ada bayi berusia 9 bulan terserang skabies, itu belum bisa dipastikan, sebaiknya diperiksa dulu,” paparnya.
Akibat yang ditimbulkan penyakit skabies ini adalah rasa gatal yang panas dan edema yang disebabkan oleh garukan. Kutu yang masuk dalam kulit menjalar ke seluruh tubuh. Sehingga, satu badan bisa terkena gatal dan menularkan ke semua orang.
Penyakit itu, menurut Feri, bisa dialami anak-anak jika kondisi tinggal anak di asrama atau pondok pesantren. Untuk dewasa itu bisa saja terjadi dan akibatnya karena jarang mandi.
“Kita imbau warga untuk jaga kesehatan badan dengan mandi sebanyak 3 kali sehari,” sebutnya. (ade)





