METRO PADANG

Jalur KA Pulau Aie Ditarget Rampung 2019, Warga mulai Bongkar Rumah Sendiri

0
×

Jalur KA Pulau Aie Ditarget Rampung 2019, Warga mulai Bongkar Rumah Sendiri

Sebarkan artikel ini

SAWAHAN, METRO – Proyek reaktivasi (membuka kembali) jalur kereta api Padang-Pulau Aie terus berlanjut. Sejumlah bangunan yang berada di lahan PT. Kereta Api Indonesia (KAI) dan terdampak sudah dibongkar. Pembongkaran ratusan bangunan semi permanen sepanjang jalur tersebut ditargetkan tuntas akhir 2019.
Dari pantauan koran ini, puluhan rumah di sepanjang rel kareta api yang ada di Kelurahan Sawahan Timur, Padang Timur, sudah tampak kosong ditinggal pemiliknya. Hal ini disebabkan, jalur rel kereta api di kawasan itu akan diaktifkan dari Simpang Haru menuju Pulau Air dan rumah-rumah tersebut akan dibongkar.
Salah seorang warga, Zal (54) mengaku terpaksa membongkar sendiri rumahnya yang sudah 39 tahun lamanya ditempati. Dengan begitu, dia bisa menyelamatkan barang-barang yang bisa dimanfaatkan dan dijual.
Sejak tinggal di tempat tersebut, Zal sudah mempersiapkan diri, jika suatu saat nanti rumahnya dibongkar dan harus pindah ke tempat lain. Isu akan adanya pembongkaran itu sudah lama dia terima, namun baru tahun ini kian santer terdengar.
“Memang dulu saya dapat kabar bahwa tanah ini akan diambil kembali oleh pihak perkeretapian. Untuk itu, mau tak mau rumah ini akan dibongkar,” ungkapnya.
Zal mengaku, dia membayar biaya sewa ke PT KAI senilai Rp1,2 juta per tahun. Dalam perjanjian juga sudah disebutkan bersedia membongkar sendiri bangunan jika tanah diambil lagi pemerintah. Zal mengatakan, ia dan warga lainnya memang membangun rumah di rel kereta api dengan permanen, sebab ia mengira rel tersebut tak aktif lagi.
Dibongkar rumah tersebut, membuat Zal mencari rumah kontrakan. Ia mendapatkan rumah kontrakan di kawasan Pasar Simpang Haru. Tetangga sudah berpencar dan ada yang pulang kampung. Ia sebenarnya menangis dengan kondisi ini. Sebab anaknya masih ada yang sekolah. “Saya sudah dapat ganti rugi, meski sedikit,” tukasnya.
Julianis (63), penghuni rumah yang dibongkar PT KAi masih berharap mendapatkan ganti rugi yang sebanding dengan perobohan rumanya yang telah hampir seluruhnya dirobohkan. Julianis yang telah 40 tahun menempati rumahnya yang kini telah rata dan akan dilaksanakan pengaktifan jalur kereta api kembali yang dulu sempat mati.
”Saya masih berbenah-benah memindahkan barang-barang yang masih bisa terpakai, selanjutnya saya akan menumpang di rumah adik saya yang ada di simpang haru, belum tau mau cari tempat kemana lagi,” jelasnya (7/8).
Target Akhir Tahun
“Pembongkarannya mulai sesudah Lebaran, target selesainya akhir tahun 2019 ini. Tapi sudah berapa jumlah bangunan yang sudah dibongkar saya kurang tahu, karena yang punya data detailnya itu Balai Perkeretaapian,” kata Kabid Angkutan Jalan, Perkeretaapian dan Pengembangan Dinas Perhubungan Sumbar, Wandri, kemarin.
Kepala Balai Perkeretaapian Wilayah Sumbar, Suranto mengatakan, pembersihan rel dari Pulau Aie hingga Padang (Statiun Simpang Haru) sepanjang 2,7 kilometer itu sudah dimulai sejak pertengahan tahun ini dan ditargetkan sudah beroperasi pada 2020, pekerjaan reaktivitas itu akan dilakukan dalam beberapa tahapan.
Pertama, PT KAI akan melakukan reaktivasi jalur (track) dan peningkatan kapasitas dari R33 menjadi R54 kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan Stasiun Pulau Air dan beberapa jembatan.
Dengan reaktivasi tersebut, menurut Suranto, masyarakat yang naik kereta dari stasiun Bandara Internasional Minangkabau (BIM) bisa ke Pulau Aie untuk menikmati Sungai Batang Harau. Pengunjung yang ingin ke Mentawai juga lebih dekat, karena keberadaannya dekat dengan pelabuhan Muaro.
Kata Suranto, pengaktifan kembali jalur kereta api ini sedikitnya akan membongkar rumah sebanyak 238 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di sepanjang jalur KA Simpang Haru–Pulau Aie. Namun sebanyak 151 bangunan berkontrak dengan PT KAI dan 87 bangunan tanpa kontrak
Menurut Suranto lagi, penggunaan lahan di sepanjang rel kereta itu berstatus sewa dengan PT KAI. Sedangkan sewa lahan tersebut telah diputuskan sejak 1 Januari 2019. Beberapa bangunan sudah ada yang mulai dibongkar, namun ada juga beberapa yang meminta tenggang waktu hingga Lebaran Idul Adha dan 18 Agustus 2019.
“Bagi rumah yang tidak berkontrak dengan KAI akan tetap dibongkar namun akan diberikan kompensasi atau biaya bongkar,” ucap Suranto tanpa merinci jumlah bangunan yang sudah dibongkar.
Menurut sejarahnya, stasiun kereta api nonaktif kelas I yang terletak di Pasa Gadang, Padang Selatan, Padang itu merupakan stasiun pertama yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda di Kota Padang, Sumbar. Stasiun tersebut merupakan stasiun akhir menuju pelabuhan Muaro yang percabangannya dari Stasiun Padang.
Pembangunan jalan kereta api dari Pulau Aie ke Padang mencapai Bukittinggi dengan panjang 90 km diselesaikan pada 1891. Jalur kereta api tersebut diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1892 di Kota Padang bersamaan dengan pembukaan Pelabuhan Teluk Bayur (Emmaheaven) dan pembukaan hubungan kereta api dari Padang hingga Muaro Kalaban.
Stasiun Pulau Air merupakan stasiun transit atau pemberhentian sebelum menuju Muaro Padang, karena Stasiun Pulau Air berada di jalur Simpang Haru menuju Muaro Padang. Rel kereta api masih bisa dilihat di kawasan kota Padang, namun sudah banyak yang berada di teras rumah. Sejak tidak beroperasi, kawasan itu kemudian berubah menjadi permukiman warga. (e/mil)