PADANG, METRO – Menanggapi informasi adanya ratusan tenaga kerja asing (TKA) asal Amerika Latin yang diduga ilegal bekerja di kapal-kapal pelayaran Padang-Mentawai, Ketua Asosiasi Kapal Surfing Sumatera Barat (AKSSB), Aim Zein membenarkan adanya keberadaan TKA Latin yang bekerja di Sumbar, terlebih pengusaha kapal dan resort bekerja di bidang surfing.
“TKA pasti ada jika pengusaha-pengusaha tersebut bermain di bidang surfing. Kalau saya sampaikan ada atau engga, saya yakin itu pasti ada. Mereka bekerja pada bidang bisnis surfing yang ada dua macam. Yaitu kapal dan resort,” ungkap Aim Zein saat dihubungi POSMETRO, Rabu (31/8).
Aim Zein menjelaskan TKA Latin tidak hanya bekerja di kapal, bahkan di resort jumlahnya mungkin lebih banyak. Sebab, resort-resort yang ada di Kepulauan Mentawai itu ada beberapa yang dimiliki oleh TKA. Selain itu, untuk statusnya TKA ini ada yang legal dan ada juga yang tidak legal, yang tidak legal tentu, TKA itu melakukan berbagai macam modus untuk menipu pemerintah.
“Modus TKA ini bermacam-macam, contohnya saat pengecekan mereka berlagak seperti tamu, padahal ia bekerja disana. Yang begini susah jadinya untuk pemerintah, terlebih akses ke lokasi-lokasi resort tersebut sangat terpencil di Mentawai. Ibaratnya bisa main kucing-kucingan,” katanya.
Aim Zein menyebutkan sepengetahuannya, TKA yang banyak bekerja di Sumbar berasal dari Brazil dan tentunya ada yang legal atau tidak harus dilakukan pengecekan. Untuk kapal yang bernaung di bawah AKSSB, ia memastikan belum pernah menemukan anggotanya yang melakukan hal seperti itu.
“Insya Allah anggota asosiasi yang bernaung di bawah AKSSB tidak pernah melakukan hal itu, tapi kalau diluar asosiasi yang saya ketuai ini mungkin saja ada hal yang seperti itu. Selama saya di AKSSB ini pernah bertemu dengan orang latin, yaitu tahun 2017 lalu, dan itupun bukan dari kapal melainkan dari TKA yang bekerja di resort, bukan orang kapalya,” terangnya.
Aim Zein juga mengatakan, kenapa hal tersebut bisa terjadi di daerah Sumatera Barat, karena ada orang Sumbar sendiri yang tidak tahu aturan bahkan tahu aturan tapi pura-pura tidak tahu dan terahkir mereka memang mencari keuntungan disana.
“Saya berharap jumlah kapal dan resort dibatasi agar tidak susah mengontrolnya. Saya lebih suka 10 ribu tamu, tapi jajannya 100juta, di banding tamu 100 ribu tapi belanjanya cuma Rp 100 ribu rupiah,” ungkapnya.
Aim Zein menduga ada beberapa resort yang sebagian pekerjanya merupakan TKA. Seperti Resort Macaroni, untuk mengakses dan masuk ke sana sangat susah, dan di Siberut ada juga Resort WestPark.
“Kita perlu menggaris bawahi ya, bahwa setiap pengusaha kapal dan resort bekerja dibidang surfing, pasti ada TKAnya,” tutupnya. (heu)





