PASAR RAYA, METRO – Kawasan Permindo sudah menjadi langganan macet, terutama pada siang hari hingga sore. Banyaknya pedagang kakikima (PKL) berjualan di ruas jalan, hingga angkutan kota (angkot) yang seenaknya menaikkan dan menurunkan penumpang, membuat kawasan yang sudah ditata sedemikian rupa oleh Pemko Padang itu, tetap semrawut.
Pantauan POSMETRO, Kamis (27/6) siang persimpang Permindo, Pasar Raya Barat sudah macet. Suara klakson kendaraan saling bersahut-sahutan. Sayangnya, jarang sekali ada petugas kepolisian mengatur lalu lintas di kawasan tersebut.
Rio, penjual grosir dan enceran di simpang Permindo mengaku, macet baru terjadi sekitar pukul 14.00 siang, sedangkan pada pagi hari ruas jalan masih normal.
Ia menyebut, kemacetan terjadi karena angkot mengambil penumpang di tengah jalan, ditambah PKL yang bertumpuk berjualan di badan jalan.
“Jalan kecil, angkot banyak, ditambah PKL yang menyebabkan kemacetan. Saya berharap ada polisi lalu lintas mengatur, sehingga Permindo tidak semrawut,” jelas Rio, saat dijumpai POSMETRO, kemarin.
Pengakuan yang sama disampaikan Marlina, pedagang soto di Permindo. Ia menyebut, kemacetan sering terjadi pada sore hari, karena banyak angkot dan pedagang mulai berjualan di ruas jalan pada sore hari.
Ajo, penjahit sepatu mengungkapkan, kemacetan sering terjadi saat sore hari. Ditambah parkir kendaraan tidak beraturan. “Jalan sempit, pengendara banyak, ya macetlah,” tukas Ajo.
Sementara itu, Rahman, sopir angkot Siteba, mengungkapkan, pada sore hari penumpang angkot cukup banyak. Hal itu disebabkan, karena Pasar Raya cukup ramai dikunjungi pada siang dan sore. Ditambah, para pegawai kantoran yang pulang kerja.
“Saya sengaja ngetem nunggu penumpang di sore hari. Kalau kalau tidak ditunggu, mana ada penumpang,” imbuhnya.
Uji, sopir angkot Pasar Baru Kampus mengaku, kebanyakan mendapatkan penumpang di simpang Permindo sore, karena waktu itulah momen kesempatan mendapatkan penumpang.
Terpisah, Kepala Dishub Padang Dian Fakri mengatakan, kemacetan disebabkan PKL berjualan di badan jalan, dan tidak sepenuhnya disebabkan angkot. Jika tidak ada PKL di badan jalan, Permindo tidak akan semacet dan semrawut.
“Petugas sudah saya suruh seluruhnya bekerja dengan sepenuhnya, rambu-rambu telah dipasang di Permindo. Kalau untuk menilang pelanggaran lalu lintas kami tidak punya surat tilang,” tambahnya.
Anggota Komisi I DPRD Kota Padang, Budiman mengatakan kemacetan di Permindo disebabkan angkutan umum dan parkir berlapis. Dishub perlu melakukan penataan ulang terhadap lokasi parkir serta membuat inovasi baru dalam menciptakan lalu lintas yang lancar dan mulus.
“Jangan Dishub tak bergerak dalam hal ini, nanti Padang tidak akan maju-maju di masa yang akan datang. Dishub harus lakukan terobosan baru dalam hal ini,” ujar kader PKS ini, Kamis (27/6).
Selanjutnya, Dishub Padang juga bisa memberlakukan sistem derek atau kempeskan ban mobil jika pemilik kendaraan masih bandel, supaya mereka jera dan pengendara lain takut memarkir kendaraannya.
Kepada pemilik kendaraan diminta mematuhi aturan dan rambu yang telah ada. Jangan dilanggar aturan tersebut, seperti tanda P yang artinya dilarang parkir.
”Mari bersama menjalankan aturan, demi lalu lintas aman, lancar serta mengurangi kemacetan. Pemilik kendaraan harus taat aturan,” tegas Budiman yang lolos menjadi anggota DPRD Sumbar periode 2019-2024.
Sekretaris Komisi III DPRD Mailinda Rose meminta Dishub lebih giat lagi mengatur lalu lintas di kawasan itu. (e/ade)





