Grafis by Melisa (POSMETRO PADANG)
PADANG, METRO–Sumbar memang diakui sebagai gudang lahirnya para pahlawan nasional. Terhitung belasan pahlawan nasional yang memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia ini. Tak hanya itu, masih banyak lagi para pejuang dan tokoh dari Sumbar yang belum terdaftar sebagai parlawan nasional.
Sebut saja pahlawan nasional yang telah ditetapkan, Tuanku Imam Bonjol, Hatta, Tan Malaka, Agus Salim, Buya Hamka, Moh Natsir. Selanjutnya ada juga Moh Yamin, Sutan Syahrir, Rasuna Said, Abdul Moeis, Ilyas Yacoub, Bagindo Azizchan, Hazairin, dan AK Gani.
Namun, dari sejumlah nama-nama pahlawan nasional tersebut, ternyata masih banyak lagi tokoh serta pejuang nasional dari Sumbar yang belum diakui sebagai pahlawan nasional. Hal itu diakui oleh Sejarawan Sumbar dari Universitas Andalas, Gusti Asnan saat dihubungi, Senin (9/11).
Menurut Gusti, memang tidak ada yang membantah Sumbar sebagai daerah di Indonesia sebagai daerah yang banyak melahirkan pahlawan nasional. Walaupun demikian, banyak lagi tokoh dan pejuang yang sangat layak ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
“Seperti, Rohana Kudus yang merupakan tokoh perempuan, Abdullah Ahmad tokoh pendidikan, M Djamil tokoh kesehatan, Zairin Bakri, Taufik Abdullah dan Moh Rasjid. Itu sedikit nama-nama tokoh yang sangat pantas rasanya disebut pahlawan. Masih sangat banyak lagi tokoh dari Sumbar yang belum disebutkan,” sebutnya.
Namun, untuk ditetapkannya sebagai pahlawan nasional, maka perlu partisipasi masyarakat. Karena, untuk mengusulkan tersebut, dibutuhkan peran masyarakat. Sebaliknya, jika tidak ada masyarakat yang mengusulkan nama tokoh itu sebagai pahlawan, maka nama itu tak akan menjadi pahlawan nasional,” jelasnya.
Dijelaskannya, selain untuk mengusulkan nama-nama pahlawan itu, dia saat ini juga tengah mewacanakan untuk memperluas makna pahlawan tersebut. Dimana, saat ini pahlawan hanya diartikan sebagai pejuang yang ikut serta dalam merebut kemerdekaan. Sementara, tokoh penting tapi tidak memiliki andil dalam merebut kemerdekaan, tidak bisa disebut sebagai pahlawan.
“Seharusnya, tokoh-tokoh yang berkiprah dibidangnya serta peran dan jasanya berguna bagi masyarakat banyak, maka ini patut juga disebut sebagai pahlawan. Tidak hanya untuk merebut kemerdekaan, tapi dalam mengisi kemerdekaan juga,” sebut Gusti Asnan.
Sementara, Kepala Dinas Sosial Sumbar, Abdul Gafar mengatakan, untuk tahun ini tidak ada satupun pejuang ataupun tokoh nasional dari Sumbar yang diusulkan menjadi pahlawan nasional. Hal itu terjadi karena tidak ada masyarakat Sumbar yang mengusulkan ke kementerian terkait. ”Tahun ini kita memang tidak ada mengusulkan nama pejuang ataupun tokoh kemerdekaan untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” sebut Abdul Gafar saat ditemui di Padang, Senin (9/11).
Berbeda dengan tahun sebelumnya kata Abdul, ada satu nama pejuang sekaligus tokoh Sumbar yang diusulkan menjadi pahlawan nasional ke pusat. Tokoh yang diusulkan itu yakni Sutan Moh Rasjid yang berasal dari Pariaman. Namun, dari hasil penilaian pemerintah pusat, tokoh ini gagal ditetapkan.
Hal itu dikarenakan oleh, Moh Rasjid dinilai ikut tergabung dalam Pahlawan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pascakemerdekaan Indonesia. PRRI ini dinilai sebagai kelompok yang menentang pemerintahan saat itu. Maka, ini menjadi alasan tim penilai untuk tidak menetapkan Moh Rasjid sebagai pahlawan nasional. “Sebelumnya sudah ada usulan dari masyarakat Pariaman.
Tapi, setelah tim penilaian memantau ke lapangan, ternyata hasilnya Moh Rasjid tidak jadi pahlawan. Kalau kita di Pemprov hanya memediasi,” jelasnya.
Dia juga mengimbau kepada masyarakat Sumbar mengusulkan nama para tokoh yang pantas untuk diusulkan menjadi pahlawan. Namun, untuk pengusulan tersebut, masyarakat seharusnya mengikuti prosedur terlebih dahulu. (da)





