PADANG, METRO – Festival Nan Jombang Tanggal 3 (FNJT3) yang biasanya dilaksanakan tanggal 3 setiap bulannya, bulan ini dilaksanakan Jumat (14/6), karena berdekatan dengan Idul Fitri.
Kali ini, Festival Nan Jombang yang rutin digelar di Ladang Nan Jombang menghadirkan kreasi randai yang dibawakan Group Parewa Limo Suku. Parewa Limo Suku merupakan group randai kreasi yang berdiri tahun 2003, di bawah pimpinan Irmon Krismon. Parewa Limo Suku baru-baru ini mewakili Provinsi Sumbar di Banten dalam lomba media tradisional Kementerian Kominfo.
Malam itu, Parewa Limo Suku menampilkan seni pertunjukan berjudul Puti Bungsu jo Malin Deman, dengan Sutradara, Juli Hendri, S.Sn . Seni pertunjukan ini berpijak pada kesenian tradisional Minangkabau yang mengandung unsur muatan lokal. Dalam seni pertunjukannya, Parewa Limo Suku menghadirkan kolaborasi seni musik, tari dan teater tradisional.
Pimpinan Nan Jombang Group, Ery Mefri mengatakan, Komunitas Galombang Minangkabau menyelenggarakan FNJT3 ini rutin untuk dijadikan sebuah tradisi sebagai bentuk apresiasi bagi seniman. Tahun 2019 ini, FNJT3 mendapat dukungan kembali oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.
Menurutnya, pemerintah daerah saat ini, menurutnya, tidak berupaya dan peduli melestarikan budaya. Pasalnya, selama ini apapun program dan kegiatan yang dilaksanakan Nan Jombang Group tidak pernah dibantu oleh pemerintah daerah.
“Buat apa meminta bantu pemerintah daerah, daripada nantinya membuat kecewa,” terangnya.
Karena itu, Ery Mefri mewanti-wanti kepada pemerintah maupun pemerintah daerah, kalau tidak ada keinginan untuk membina dan melestarikan kesenian di Sumbar, jangan ganggu Nan Jombang yang selama ini berbuat untuk kesenian di Sumbar.
Ery Mefri menilai, pembinaan terhadap kesenian di Sumbar dilakukan oleh pelaku seni dan budaya itu sendiri. Karena itu, Ery Mefri menegaskan, pemerintah daerah tidak perlu menganggarkan dana untuk program dan kegiatan pembinaan.
Ery Mefri juga mengajak seluruh pelaku seni di Sumbar, agar terus melestarikan kesenian dan budaya Sumbar. Sungguh menyakitkan kesenian dan budaya milik Sumbar diklaim oleh negara lain, sementara di Sumbar sendiri, tidak ada upaya untuk melestarikan tradisi kesenian dan kebudayaan daerah.
Hadirnya FNJT3 yang sudah tahun ke tujuh pelaksanaannya ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk pelaku seni menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya di daerah. “Silahkan datang ke Ladang nan Jombang untuk berkarya. Masyarakat juga silahkan datang menikmati berbagai pertunjukan seni dan budaya yang kami hadirkan. Jangan ragu, semuanya gratis di sini,” ujarnya. (fan)





