Energi al Qur’an dimaksudkan adalah nilai, ajaran dan kisah sukses yang terdapat dalam al Qur’an sebagai inspirasi, motivasi dan semangat untuk kemajuan masa depan. Pentingnya mengekplorasi energi potensial al Qur’an, untuk melawan lupa pengabaian pada al Qur’an.
Keprihatinan Rasul Muhammad saw bahwa al Qur’an di abaikan oleh kaum Qurayis, saat awal turunnya dulu, sampai masa terkinipun masih banyak umat Islam yang mengabaikan, dan tidak peduli pada al Qur’an. Pengabaian pada al Qur’an levelnya hampir merata, TSM, (terstruktur, sistimik dan massif), istilah untuk pelanggaran Pemilu.
Menyadari adanya ketidakpedulian pada al Qur’an maka ulama, cendikiawan di Perguruan Tinggi Islam, tokoh umat dan pemimpin sebagai aktor perubahan diminta untuk mengidentifikasi jenis, bentuk, dan tingkatan pengabaian itu untuk dicerahkan.
Ada dua pola pengabaian yang mesti cegah secara kolektif dan seterusnya dilakukan gerakan yang berencana, terukur dan melibatkan semua komponen umat, motornya tentu imam perubahan. Siapapun dalam level mana saja tentu harus menegaskan dirinya sebagai faktor penting dalam perubahan dengan mengunakan semua potensi dan energi. Satu di antara modal sipritual dan intelektual ada pada Al Qur’an. Energi positif yang dipancarkan wahyu diyakini dapat membawa manfaat lebih bagi semua.
Gerakan melawan abai di antaranya literasi, peringatan Nuzul Qur’an ini satu di antara cara untuk mengingatkan stop pengabaian dan sekaligus gugah kesadaran agar mengali, mengerti, memahami dan tentu diikuti dengan menerapkan ajaran al Qur’an yang dipastikan hudan. Gerakan melawan abai dan peduli pada Al Qur’an adalah bahagian penting menjadikan al Qur’an fungsional dan menjadi efektifnya al Qur’an.
Literasi al Qur’an adalah perintah awal, saat turunnya.”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang mencipta kan,”(QS. Al-’Alaq 96: 1) Literasi al Qur’an, dipandu dalam bentuk tartil.”bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 4)
Bagi civitas kampus UIN gerakan iqra dan tartil atau literasi al Qur’an harusnya diberikan tempat sewajarnya. Sungguh keterlaluan bila kampus yang mengusung nama Islam, lalu alumninya buta al atau gagap membaca al Qur’an. Dalam pikiran umat bahwa profil lulusan UIN adalah pandai membaca al Qur’an, dalam realitasnya masih terdengar nyaring banyak alumni yang belum fasih, walau hanya sebatas membaca.
Bebas buta dan gagap al Qur’an mesti menjadil gerakan yang terencana dan berkesinambung an, tidak musiman, tidak pula himbauan saja, perlu ada komitmen, ketulusan, melampau sekedar ada saja.
Dalam kurikulum pendidikan di UIN tidak sebatas literasi, jelas sampai ke tingkat edukasi. Gerakan edukasi al Qur’an dilakukan melalui pembelajaran. Edukasi dan pengkajian Qur’an di dalam bahasa sosial disebut tadarus. Tadarus dimaksud ayat melebihi dari tartil, yakni dipelajari. Ada prodi tadris, maksud pembelajaran. Tadarus pada ayat di atas artinya kajian mendalam dalam bentuk penghayatan atau gerakan tadabbur al Qur’an.
Dalam tujuan kurikuler pada fakultas di UIN pengkajian al Qur’an diwujudkan dalam pembelajarn berupa integrasi keilmuan. Ilmu sebagai nilai utama dan core bisnis kampus tentu terus diperkuat seiring capaian kemajuan dunia ilmu pengetahuan itu sendiri. Setiap insan kampus, pimpinan, dosen dan tenaga kependidikan diminta terus menegaskan diri sebagai pembelajar yang terus berikhtiar mengintegrasikan pesan kitab suci dengan ilmu rasional dan empiris.
Literasi dan edukasi al Qur’an adalah cara paling baik untuk membuka pintu pikir, jendela jiwa dan kesadaran akan arti hidup dengan status yang melekat pada diri masing-masing. Untuk menuju literasi dan edukasi yang membawa arti, fungsi dan nilai tidak cukup sebatas membaca, iqra, harus ada ikhitiar menaik kelaskan menjadi tartil, tadarus dan tadabbur.
Energi Perubahan
Energi kuat yang dibawa al Qur’an adalah gerakan perubahan ke arah yang lebih baik. Al Qur’an adalah kitab yang tegas mendorong perubahan. Energi al Qur’an yang paling penting diperkuat ke depan adalah kesungguhan untuk mewujudkan visi perubahan yang digerakkan al Qur’an.
Maknanya aktif dan progresif dalam perubahan. Orang status quo, cari aman, ha hi sana sini, di sana senang di sini senang, itu sama artinya mengabaikan visi al Qur’an. Gerakan perubahan menuju shiratal hamid, unggul, excellen dan bernama bukan jalan mulus, tapi terjal dan licin yang perlu energi dan kehati-hatian. Untuk mengotimalkan energi Al Qur’an dapat digali dari ayat-ayat menginpirasi, misalnya melalui kisah Rasul, Nabi dan orang pilihan untuk dijadikan rujukan untuk perubahan.
Nabi Musa As Menjadi Kuat dan Dipercaya
Nabi Musa diberi mandat mengembalikan kedaulatan rakyat Mesir dengan konsekwensi ia harus menghadapi rejim Fir’aun. Dalam gerak perjuangan Nabi Musa adalah sosok pemimpin kuat dan dipercaya. Strong leader dan amanah itulah modal suksesnya dalam negeri tengah bermasalah. Power dan trust yang melekat dalam diri Nabi Musa dapat digunakan secara maksimal.
Saat Musa dalam perjalanan, melihat dua anak gadis Nabi Syuib kesulitan memberi minum ternaknya. Nabi Musa as tampil mengunakan kekuataan menyingkir batu besar yang menghalagi mata air. Musa spontan membantu kaum nya yang ditindas oleh mandor Fir’aun. Musa berhasil meruntuhkan rezim Fir’aun, sebelumnya mematahkan Haman intelektual pengkhianat bangsa. Musa juga menunduk kan Samiry provokator berjubah buya dan Qarun konglomerat hitam, ketua naga sembilan.
Nabi Yusuf, Profesional Dan Bertanggung Jawab
Nabi Yusuf setelah melewati jalan terjal perjuangan dibenci saudara, penjara dan dikriminalisasi, ia menyelemat kan krisis ekonomi dan membangun keluarga harmonis. Patut belajar kehebatan Nabi Yakub, meresponi kenakalan anaknya.
Yusuf dengan kompetensi, pengalaman dan karakter yang telah teruji, dengan tegas menawarkan diri untuk jabatan mengurus uang negara, bendahara negara.”Dia (Yusuf) berkata, Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.”(QS. Yusuf 12: Ayat 55).
Gerakan belajar dan mempraktek manajemen keuangan Nabi Yusuf, institusi ini lebih cepat geraknya. Sukses Nabi Yusuf as profesionalitasnya diperkuat oleh tanggung jawabnya pada kinerja. Sejak dibully saudaranya, hidup di bawah tekanan majikan, digoda oleh Isteri Majikan, dikriminalisasi isteri pejabat Mesir, saat sudah jadi orang besar tetap hormati saudaranya yang dulu menzaliminya. Sungguh watak, akhlak dan jiwa tanggung jawab yang harusnya menjadi sumber akhlak dan jati diri muslim cerdas yang tengah diamanahi jabatan level manapun. Jadilah hafizun alim.
Nabi Muhammad SAW, Uswah, Empati dan Santun.
Tokoh pengerak perubahan akan efektif bila berkarakter mulia, bermuruah dan bermartabat. Urusan diri dan keluarganya dapat disesuaikan dengan tugas, fungsi dan kewenangannya, bukan kedudukannya yang tunduk pada diri dan orang sekitarnya.
Keutamaan akhlak mulia Rasul adalah kunci sukses perubahan yang diemban risalahnya. ”Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”(QS. At-Taubah 9: Ayat 128).
Empati dengan penderitaan umat artinya soliditas sosialnya tidak formalistik, tetapi nuansa sipritualistiknya tampak. Arogansi kuasanya, lazimnya kuasa itu menguasai, dapat tunduk di bawah kendali akhlak karimah. Peduli umatnya lebih baik, sejahtera dan nyaman ditunjukkan dalam prilaku bukan sekedar wacana. Kesantunan hospility menjadi keunggulannya.
Gerakan melawan abai Qur’an memerlukan dukungan semua di mulai dari kesungguhan menumbuhkan budaya literasi dan edukasi al Qur’an. Nilai, norma dan inspirasi al Qur’an dapat menjadi energi gerakan perubahan bila semua kita bekerja keras untuk satu tujuan. Tujuan besar Islam rahmatan lil alamin, Islam yu’la wala yu’la alaihi, ummatan wasthan, khaira ummat, dan tujuan idealnya. Jalan untuk itu perlu ikhtiar dan kerja keras mengikuti sunnatullahnya yaknya menjadi semua kita sebagai pribadi kuat, dipercaya, profesional dan berakhlak mulia. Taushiyah Pada Peringatan Nuzulul Qur’an UIN Imam Bonjol, 21 Mei 2019/17 Ramadhan 1440. Ambon I No.4 Wismaindahsiteba#20052019. (**)





