NUZULUL Qur’an mengajarkan bahwa kebangkitan manusia dimulai dari perintah Iqra’ atau membaca dan memahami. Momentum ini bukan hanya untuk diperingati, tetapi untuk diamalkan sebagai pedoman hidup agar lahir masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan mampu mewujudkan peradaban yang mulia.
Menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perlu kita pahami bahwa ketakwaan bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga ketaatan dalam menerima, memahami, dan mengamalkan wahyu Allah yang termaktub dalam Alquran.
Terlebih pada momentum bulan Ramadhan yang mulia ini, kita diingatkan pada peristiwa agung Nuzulul Qur’an yakni, turunnya Alquran sebagai petunjuk hidup kita. Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah shalat, bukan pula perintah zakat, tetapi perintah untuk membaca atau Iqra’. Ini menunjukkan bahwa jalan menuju takwa dimulai dari membaca, memahami, dan merenungkan ayat-ayat Allah.
Takwa tanpa ilmu akan rapuh. Ilmu tanpa membaca tidak akan tumbuh. Maka momentum Nuzulul Qur’an menjadi pengingat bagi kita bahwa membangun ketakwaan harus diawali dengan membangun tradisi membaca, membaca Al-Qur’an, membaca tanda-tanda kebesaran Allah, serta membaca realitas kehidupan.
Nuzulul Qur’an adalah peristiwa turunnya wahyu Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau sedang menyendiri di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan. Saat itu, datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama, yakni lima ayat dari Surat Al-‘Alaq, artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (2) Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, (4) yang mengajar (manusia) dengan pena. (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Sebagai umat yang telah mendapatkan karunia Kitab Suci terbaik ini, maka menjadi keniscayaan bagi kita untuk dapat membaca, memahami, dan mengamalkan perintah Allah dalam Alqur’an dengan maksimal. Dalam konteks ayat pertama yang diturunkan, yakni Iqra’, perintah membaca dalam Alquran ini bukan hanya membaca teks, tetapi membaca situasi dan keadaan dalam kehidupan.
Perintah ini membawa kita pada dimensi untuk membaca ayat-ayat qauliyah, yakni firman Allah yang tertulis dalam mushaf, dan juga membaca ayat-ayat kauniyah, yakni tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta. Ayat ini menjadi sumber dari perintah Rasulullah agar senantiasa menjadi pribadi yang bisa memahami segala sesuatu sehingga kebaikan akan menghampiri.
Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya ia akan diberi pemahaman dalam agama dan diilhami petunjuk-Nya,” (HR At-Thabarani dan Abu Nu’aim).
Oleh karena itu, Momentum Nuzulul Qur’an ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita. Sudahkah kita membaca Alquran setiap hari? Sudahkah kita memahami maknanya? Sudahkah kita mengamalkannya dalam kehidupan nyata? Jangan sampai Alquran hanya menjadi hiasan di lemari saja, tetapi tidak menjadi pedoman hidup kita.
Perintah Iqra adalah pesan abadi. Perintah ini bukan hanya seruan kepada Nabi Muhammad saw saja, namun juga kepada seluruh umat manusia, khususnya kita umat Islam. Jika kita ingin bangkit, maka jawabannya bukan sekadar pada jumlah umat Islam di dunia, tetapi pada kualitas ilmu dan kesadaran dalam menjalani kehidupan.
Peradaban besar tidak dibangun dengan kebisingan, tetapi dengan pemikiran. Tidak dibangun dengan kemarahan, tetapi dengan pencerahan. Maka marilah kita kembali kepada iqra, membaca, memahami, mengamalkan, dan membangun peradaban. Karena dari satu kata itulah lahir optimisme dalam melanjutkan peradaban mulia. Amin. (**)





