JAKARTA, METRO— Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tripoli turut meramaikan Festival Malam Ramadan yang digelar di kawasan Kota Tua Tripoli pada 4–8 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung setiap malam mulai pukul 22.00 hingga 02.00 dini hari ini menjadi ajang memperkenalkan budaya Indonesia sekaligus mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Libya dalam suasana bulan suci Ramadan.
Keikutsertaan Indonesia dalam festival tersebut merupakan bagian dari upaya diplomasi budaya untuk mengenalkan keragaman seni dan tradisi Nusantara kepada masyarakat Libya. Stan Indonesia tampil menonjol dengan dekorasi bernuansa merah putih yang dipadukan dengan ornamen tradisional khas Indonesia.
Dekorasi tersebut menarik perhatian pengunjung yang memadati area festival hingga larut malam. Banyak warga yang singgah untuk melihat lebih dekat berbagai produk budaya yang ditampilkan oleh KBRI Tripoli.
Dalam pameran itu, KBRI Tripoli menampilkan aneka kain tenun dan batik dari berbagai daerah di Indonesia. Pengunjung terlihat antusias mengamati motif serta corak kain yang beragam, sembari mendengarkan penjelasan mengenai filosofi yang terkandung di balik setiap motif.
Keunikan ragam hias serta teknik pembuatan kain tradisional tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat. Banyak di antara pengunjung yang baru pertama kali mengenal kekayaan tekstil tradisional Indonesia.
Tidak hanya menampilkan produk tekstil, stan Indonesia juga memperkenalkan sejumlah alat musik tradisional seperti Gamelan, Kolintang, dan Angklung. Alat-alat musik tersebut dipamerkan sebagai bagian dari kekayaan seni pertunjukan Nusantara.
Sejumlah pengunjung bahkan mendapat kesempatan mencoba langsung memainkan alat musik tersebut. Mahasiswa Indonesia yang berada di Libya turut mendampingi serta menjelaskan cara memainkan alat musik tradisional tersebut kepada para pengunjung.
Interaksi ini menciptakan suasana hangat dan penuh keakraban antara warga Libya dan mahasiswa Indonesia. Momen tersebut sekaligus menjadi sarana pertukaran budaya yang mempererat hubungan antar masyarakat kedua negara.
Mahasiswa Indonesia juga turut memeriahkan festival dengan menampilkan seni musik hadrah serta atraksi Pencak Silat. Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari para penonton yang memadati area pertunjukan.
Gerakan dinamis pencak silat yang dipadukan dengan lantunan hadrah yang bernuansa religius dinilai selaras dengan semangat Ramadan. Penonton pun memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi terhadap penampilan tersebut.
Selain pertunjukan seni, pengunjung juga diajak mencicipi kopi khas Indonesia yang terkenal dengan aroma kuat dan cita rasa yang khas. Sajian ini menjadi salah satu daya tarik yang membuat banyak pengunjung singgah di stan Indonesia.
Produk mi instan Indonesia juga turut diperkenalkan sebagai salah satu komoditas populer dari Tanah Air. Melalui sajian kuliner tersebut, masyarakat Libya dapat mengenal Indonesia tidak hanya dari sisi budaya, tetapi juga produk konsumsi yang banyak diminati.
Pimpinan serta staf KBRI Tripoli bersama para mahasiswa Indonesia tampak aktif berinteraksi dengan para pengunjung. Mereka menjelaskan berbagai hal tentang kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk nilai toleransi dan keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa.
Dialog yang terjalin sepanjang festival berlangsung mencerminkan kedekatan emosional antara kedua bangsa. Indonesia dan Libya sama-sama memiliki mayoritas penduduk muslim yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan.
Antusiasme masyarakat Libya terlihat dari banyaknya pengunjung yang mendatangi stan Indonesia setiap malam. Beberapa di antaranya bahkan mengabadikan momen dengan berfoto bersama mahasiswa Indonesia dengan latar ornamen budaya Nusantara. (*/rom)





