BERITA UTAMA

Separuh Ramadhan Telah Berlalu, Saatnya Muhasabah Diri

4
×

Separuh Ramadhan Telah Berlalu, Saatnya Muhasabah Diri

Sebarkan artikel ini
Oleh: Muhammad Zainul Mujahid

Hari ini kita telah berada di pertengahan bulan Ramadan. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Seolah baru kemarin kita menyambut datangnya bulan penuh berkah ini, namun kini separuhnya telah kita lalui.

Ini menjadi momen penting untuk bermuhasabah, melakukan introspeksi diri. Sudahkah kita memanfaatkan Ramadan dengan sebaik-baiknya? Dalam momen yang penuh berkah ini, mari kita merenung sejenak mengenai prestasi apa yang berhasil kita torehkan selama separuh bulan Ramadan yang­ telah berlalu.

Sebagai bahan renungan bersama, mari kita coba bertanya pada diri sendiri: sebenarnya sudah sejauh mana kita memanfaatkan bulan Ramadhan ini? Apakah puasa yang kita jalani sudah benar-benar kita maksimalkan, atau jangan-jangan kita hanya sekadar menahan lapar dan haus saja?

Coba kita lihat lagi ibadah kita. Apakah sudah ada peningkatan, baik dari segi kualitas maupun jumlahnya? Apakah kita sudah meluangkan waktu untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan?

Atau mungkin tanpa kita sadari, hari-hari Ramadhan justru masih banyak dihabiskan untuk urusan dunia. Kita lebih sering menatap layar HP daripada membuka Alquran, lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada memperbanyak zikir. Bahkan kadang kita lebih semangat berburu takjil dan ngabu­burit, tetapi ja­rang meluangkan waktu untuk bermunajat dan me­mohon ampun kepada Allah.

Pertanyaan-pertanya­an ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi sebagai pengingat agar kita bisa memperbaiki diri dan memanfaatkan sisa waktu Ramadhan dengan lebih baik.

Baca Juga  Ditreskrimsus Polda Sumbar Bergerak, Tambang Emas Ilegal di Pasaman Ditindak, Tangkap 8 Pelaku, Ekskavator jadi Barang Bukti

Ada sebuah hadits yang sangat layak kita renungkan bersama sebagai motivasi untuk terus mencari keberkahan di bulan Ramadhan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad.

Dikisahkan dari saha­bat Jabir bin Abdillah RA. Suatu hari, ketika Rasulullah SAW naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbah, pada setiap anak tangga beliau tiba-tiba mengucapkan, “Amin.”

Para sahabat yang melihat kejadian itu merasa heran. Setelah khutbah selesai, mereka pun bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal tersebut. Lalu Nabi menjelaskan kepada para sahabat dan bersabda: Artinya “Ketika aku naik tangga pertama, Ma­lai­kat Jibril as. datang kepadaku kemudian berkata, “Celakalah seorang hamba yang menjumpai bulan Ramadhan, namun ketika Ramadhan telah berlalu dia tidak mendapatkan am­punan”. Kemudian aku berkata, “Amin”.

Kemudian Jibril as. berkata, “Celakalah seorang hamba yang masih mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya namun hal tersebut tidak dapat memasukkannya ke dalam surga”. Kemudian aku men­jawab, “Amin”.

Kemudian Jibril as. berkata, “Celakalah seorang hamba yang apabila namamu disebutkan di sisinya tetapi ia tidak bershalawat kepadamu”. Kemudian aku men­­jawab, “Aamiin”.  (Imam­ Bukhari).

Hadits di atas menjadi peringatan bagi kita, terutama bagi orang-orang yang menyia-nyiakan ke­sem­patan emas di bulan Ramadhan. Padahal, di bulan inilah Allah SWT memberikan banyak keistimewaan yang tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya.

Baca Juga  Rugikan Negara hingga Rp 20 Miliar, 2 Tersangka Dugaan Korupsi RUSD Pasbar Ditahan

Di bulan Ramadhan, pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan rahmat serta ampunan Allah SWT terbuka sangat luas bagi siapa saja yang ingin me­raihnya.

Terlebih lagi sekarang kita telah memasuki fase kedua bulan Ramadhan, yaitu sepuluh hari kedua yang dikenal sebagai waktu penuh ampunan. Pada masa inilah kesempatan untuk memohon ampun kepada Allah SWT sangat terbuka lebar.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhir­nya adalah pembebasan dari api neraka.” (HR al-Khuzaimah dan al-Bai­haqi). Oleh karenanya ma­ri, kita evaluasi diri kita masing-masing apakah kita sudah memaksimalkan diri untuk mencari keberkahan dan ampunan Allah selama setengah bulan berlalu. Jika ia, maka kita harus istiqamah dan lebih giat lagi untuk beramal.

Namun jika kita mendapati diri kita dalam keadaan lalai, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena jangan sampai ketika nanti Ramadhan telah berlalu kita tidak mendapatkan ampunan dan fadilah-fadilah yang ada di dalamnya.

Semoga kita semua di­beri kekuatan oleh Allah SWT untuk bisa memaksimalkan diri menggapai ke­ber­­kahan-keberkahan yang­ ada pada bulan Rama­dhan ini. Amin.. amin ya rabbal alamin. (*)