NABI Saleh adalah salah satu rasul yang diutus Allah kepada kaum Tsamud. Kaum ini dikenal sebagai bangsa yang maju dan memiliki kemampuan memahat gunung menjadi rumah-rumah megah. Mereka hidup di wilayah Al-Hijr dengan kemakmuran yang melimpah.
Wilayah tempat tinggal mereka kini dikenal sebagai Al-Hijr, sebuah kawasan bersejarah yang menyimpan jejak peradaban lama. Kaum Tsamud memanfaatkan kekuatan fisik dan kecerdasan mereka untuk membangun tempat tinggal yang kokoh. Namun kemajuan itu tidak diiringi dengan keimanan kepada Allah.
Allah kemudian mengutus Nabi Saleh dari kalangan mereka sendiri. Ia dikenal sebagai sosok yang jujur dan bijaksana sebelum diangkat menjadi rasul. Kehadirannya diharapkan mampu mengembalikan kaumnya ke jalan tauhid.
Nabi Saleh menyeru kaumnya agar menyembah Allah semata. Ia mengingatkan bahwa segala nikmat yang mereka rasakan berasal dari Sang Pencipta. Namun seruan itu justru ditanggapi dengan ejekan dan penolakan.
Para pemuka kaum Tsamud merasa terancam dengan ajaran tersebut. Mereka khawatir kehilangan pengaruh dan kekuasaan atas masyarakat. Kesombongan membuat hati mereka tertutup dari kebenaran.
Mereka menantang Nabi Saleh untuk menunjukkan bukti kenabiannya. Dengan nada meremehkan, mereka meminta mukjizat yang tidak masuk akal. Tantangan itu bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mempermalukannya.
Atas izin Allah, muncullah seekor unta betina dari celah batu besar. Peristiwa itu terjadi di hadapan banyak orang sebagai tanda kekuasaan Allah. Mukjizat tersebut menjadi bukti nyata kebenaran risalah Nabi Saleh.
Nabi Saleh berpesan agar unta itu dibiarkan hidup dengan tenang. Ia memiliki giliran minum di sumur yang harus dihormati oleh seluruh kaum. Pesan itu merupakan ujian ketaatan bagi mereka.
Sebagian kecil dari kaum Tsamud mulai beriman. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri mukjizat tersebut. Namun jumlah mereka tidak sebanding dengan yang tetap ingkar.
Mayoritas kaum Tsamud justru semakin membangkang. Mereka merasa terganggu dengan keberadaan unta itu. Rasa iri dan benci menguasai hati mereka.
Para pemuka kaum kemudian bersekongkol untuk membunuh unta tersebut. Mereka memilih jalan kekerasan daripada menerima kebenaran. Rencana jahat itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Akhirnya unta betina itu dibunuh dengan kejam. Perbuatan tersebut menjadi puncak kedurhakaan kaum Tsamud. Mereka tidak hanya menolak nabi, tetapi juga menentang tanda kekuasaan Allah.
Setelah peristiwa itu, Nabi Saleh memperingatkan akan datangnya azab. Ia memberi tenggang waktu tiga hari sebagai kesempatan terakhir untuk bertobat. Namun peringatan itu tetap diabaikan.
Kaum Tsamud justru merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Saleh. Mereka tidak ingin ada lagi suara yang mengingatkan mereka. Hati yang keras membuat mereka kehilangan akal sehat.
Allah melindungi Nabi Saleh dan para pengikutnya. Mereka diperintahkan untuk meninggalkan wilayah tersebut. Perlindungan Allah selalu menyertai hamba-Nya yang taat.
Tepat pada waktu yang telah ditentukan, azab itu datang. Suara gemuruh yang dahsyat mengguncang bumi. Kaum Tsamud binasa dalam sekejap.
Rumah-rumah megah yang dipahat di gunung tidak mampu menyelamatkan mereka. Kekuatan dan teknologi yang dibanggakan menjadi sia-sia. Semua hancur oleh satu perintah Allah.
Peristiwa itu menjadi pelajaran besar bagi umat manusia. Kesombongan dan kedurhakaan hanya akan membawa kehancuran. Tidak ada kekuatan yang dapat menandingi kuasa Allah.
Kisah Nabi Saleh mengajarkan tentang pentingnya kesabaran. Ia tetap berdakwah meski dihina dan diancam. Keteguhan itu menjadi teladan bagi setiap dai.
Selain itu, kisah ini juga mengingatkan tentang tanggung jawab atas nikmat. Kaum Tsamud diberi kekayaan dan kemampuan luar biasa. Namun nikmat itu berubah menjadi sebab kebinasaan karena tidak disyukuri.
Mukjizat unta betina adalah simbol ujian keimanan. Ia bukan sekadar hewan biasa, melainkan tanda kebenaran. Sikap manusia terhadap tanda itulah yang menentukan nasibnya.
Nabi Saleh tidak pernah memaksa kaumnya untuk beriman. Ia hanya menyampaikan risalah dengan jelas dan sabar. Tugas seorang rasul adalah memberi peringatan, bukan memaksakan kehendak.
Kaum Tsamud menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa iman bisa menyesatkan. Mereka ahli dalam membangun, tetapi gagal membangun hati. Keangkuhan membuat mereka buta terhadap kebenaran.
Kisah ini juga relevan bagi kehidupan modern. Kemajuan teknologi tidak menjamin keselamatan moral. Tanpa nilai spiritual, peradaban bisa runtuh kapan saja.
Nabi Saleh memberi contoh kepemimpinan yang amanah. Ia tidak mencari keuntungan pribadi dari dakwahnya. Semua dilakukan demi keselamatan umatnya.
Pengikut Nabi Saleh membuktikan bahwa kebenaran tidak selalu diikuti mayoritas. Meski jumlahnya sedikit, mereka tetap teguh. Keteguhan itu membawa keselamatan.
Azab yang menimpa Tsamud menjadi peringatan sepanjang zaman. Ia tercatat dalam kitab suci sebagai pelajaran bagi generasi berikutnya. Sejarah bukan sekadar cerita, melainkan cermin kehidupan.
Kisah ini mengajarkan bahwa kesempatan bertobat selalu ada. Tenggang waktu tiga hari menunjukkan kasih sayang Allah. Namun kesempatan itu harus dimanfaatkan sebelum terlambat.
Nabi Saleh akhirnya selamat bersama orang-orang beriman. Mereka menjadi saksi bahwa janji Allah adalah benar. Kemenangan sejati adalah keselamatan iman.
Dari kisah ini, kita belajar untuk tidak sombong atas kelebihan. Segala kekuatan hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja. Kerendahan hati adalah kunci keselamatan.(***)





